Wednesday, September 29, 2010

September ceria - Lilin ilmu


Ini bulan Syawal, Lebaran dan liburan sudah usai. What's next?

Awalnya mau belajar menunaikan kewajiban lain; berkurban. Tapi sepertinya belum bisa dilaksanakan tahun ini, sayang sekali. Karena menabung untuk sekolah tahun depan harus dikejar, meski hingga kini belum bisa menentukan universitas, ralat, meski unversitas tujuan serasa sulit diwujudkan. But great things don’t come easily, rite?

Dua temanku sudah mulai sekolah (kembali) tahun ini. Oooohhh, iri! Ada Sakti yang dari status FBnya terlihat enjoy bersekolah di UI, juga ada Yenq yang sudah mulai program beasiswanya di Swiss sana, Lausanne tepatnya. Oh, sampai ke dadaku euphoria mereka!

Sakti, sambil kuliah mau belajar bahasa Prancis lagi, mesti ikut tes DALF-C1 katanya. Salah satu syarat kelulusan di universitas tuturnya semangat. Kuputuskan untuk belajar bersama. Aku juga mau ikut serta! Awal tahun depan akan kucoba lagi tes bahasa Prancis yang susah itu. Sebagai salah satu peluru kalau mau mencoba melamar bekerja di CCF. Begitu info yang kudapat.

Yenq, berhubungan kami setiap hari melalui skype; oh what a technology! Diceritakannya tentang kelas pertamanya; Francophonie. Oh, baru sadar kalau aku tak tahu sejarah terbentuknya Francophonie. PR. Dia juga berbagi tentang rencana penelitiannya; tema tesis. Kami berdiskusi, nice refreshment for me! Mungkin ini termasuk yang Aa Gym sebut indahnya berbagi? Just maybe. Jadilah semalam aku pelototi lagi rak bukuku, kupilih kemudian satu buku; Romain Français Contemporain. Buku hitam yang dipinjamkan Yenq selama dia disana. Semoga buku ini akan membawaku ke roman-roman contemporains.

Oskar, seperti dua lainnya, ini juga temanku di UNJ section de français. Tiba-tiba menghubungiku sebulan yang lalu, for a refreshment cours. Ow! That’s what I exactly need, Oscarlita! Such a brilliant idea! Mari kita belajar bersama, kita berdua dan Sakti juga. This afternoon will be our first class; even we won’t be”entre les murs.” Mari kita diskusikan bersama apa yang akan kita pelajari tiap minggunya, d’accord?

Anastasia, sama seperti ketiganya. Yang satu ini sedang haus ilmu agama hingga mengajakku menjadi RISKA; Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa. Hari Minggu ini, 2 Oktober akan menjadi minggu pertama dari enam belas minggu kami menuntut ilmu di sana, Islamic Study Club. Bukan itu saja, selain membedah Islam, kami juga akan belajar mengaji, tahsin. Bismillah, Anastasia. Semoga kita bisa belajar sebaik-baiknya.

Dewikupugalau; kelompok menulis bersama yang hampir terlupa keberadaannya. Digawangi olehku, Anast dan Syarif, ehem, pacarku. Tema Lebaran berhasil membangkitkan kembali semangat menulis kami. Dan di minggu ketiga setelah bangkitnya blog kami, ”Jika Jakarta bukan lagi ibukota” menjadi tema selanjutnya, Anast pengusungnya. Kau tahu, menulis, membaca dan berdiskusi kutemukan sebagai beberapa upaya untuk menjaga kewarasan di chaosnya dunia belakangan.

September benar membuka pintu keceriaan, bukan? Mari belajar dan terus belajar, jangan sampai ketinggalan! Master, C-1, refreshment class, Islamic study club, dewikupugalau, I’m coming! Semangaaaattt!!! ^^V

Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada Mu ilmu yang bermanfaat, amalan yang diterima dan rezeki yang bagus (baik). Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung dengan Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak di dengar (makhbul) dan amalan yang tidak di naikkan (diterima).


Photo

Tuesday, September 28, 2010

Hujanku sayang


Kala mini kaki dan tanganku; kupuja kau selalu

Girang ku riang dibuatmu, seketika kau tiba kubuka bajuku

Kala hitam polos mataku; bahagiaku bersamamu

Basah ikal rambutku oleh tetesanmu


Kala tak mini lagi kaki dan tanganku; resah ku dibuatmu

Gundah seketika kala datang rintikmu; tak acap biru dadaku

Kala hitam tak polos lagi mataku; lupaku cara menikmati aromamu

Banjir, becek kau bawa bersama derasmu


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Sungguh bukan salahmu

Membawa genangan, banjir, macet ke kotaku


Jakarta oh Jakarta

Congkaknya kau salahkan hujan

Atas segala bencana yang sesungguhnya buatan

Hingga berkah basah kau artikan susah

Moga Tuhan tak marah bersamanya


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Maafkan sinis kami padamu

Yang lupa caranya berbahagia bersamamu


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Walau tak lagi mini kaki dan tanganku; sepertinya masih kulit yang sama kupunya

Lapisan berbuku yang kutahu merindukan rintik manismu

Walau tak ada lagi kepolosan di mata; tapi masih disanalah korneaku berada

Penangkap cahaya yang belum lupa irama tetes dalam deras


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Jangan ragu tuk datang

Hidungku siap menyeruput aromamu, tubuhku kuasa menikmati basahmu, mataku siap berirama bersamamu.


Hujan oh hujan

Hujanku sayang


Photo

Wednesday, September 22, 2010

Tentang Wangu

Akan ada sebuah kejadian di satu hari yang akan mengubah kita, selamanya. Dan setelah hari itu, tak mungkin kembali menjadi kita yang sebelumnya, tak mungkin. Sekuat apapun kita menginginkannya.

”Wangu, lagi di mana? Aku mau ke Arion sama anak-anak. Mau ikut?” Dan datanglah dia di hadapanku, setelah harap-harap cemas menantikan balasan smsnya. Ya, begitulah Wangu. Lebih memilih berbuat daripada berkata. Dengan terengah-engah dia berhenti di muka lalu tersenyum berkata, ”Ayo!”

Orang bilang percintaan masa SMA adalah masa-masa terindah. Menurutku sebaliknya, biasa saja. Aku punya, justru masa kuliah. Waktu itu lah benar kurasakan istimewanya menjadi wanita. Dipuja dan dimanja.

Sudah rapih dia, dengan seragam bola. Pertandingan antar jurusan se fakultas. ”Nanti nonton gak?” tanyanya. Pastilah, batinku. ”Kenapa emangnya?” Diam dia, gundah, kusuka. ”Memang harus pulang cepet ya? Nanti dianter, deh! Nonton dulu yah?” Memelas, oh indahnya. ”Iya.” Sedikit senyum mengembang di wajahnya. ”Asal..” kubiarkan mengambang. ”Asal apa?” Hihi, batinku tersenyum lebar. ”Asal setiap gol teriak buat Dega.” Gila, berani-beraninya diriku. Haha! ”Sip,” jawabnya jantan. Huhuu...

Jadilah itu, tiga atau empat gol, aku lupa. Yang jelas lebih dari dua, dia persembahkan untukku. Gol-gol yang membuat jantungku berhenti sepersekian detik kala jarinya menunjukku, bibirnya bersuara rahasia, “buat Dega”. Dan mereka, ya mereka, orang-orang yang tak kukenal gegap gempita menyaksikannya. Marun ku dibuatnya.

Roller coaster, aku tak pernah naik roller coaster. Kecuali halilintar yang di Dufan itu benar termasuk roller coaster. Jatuh cinta yang klepek-klepek konon seperti itu rasanya. Mereka yang beruntung pasti pernah merasakannya. Can’t help falling in love. Hihi, ya kini kutahu rasanya. All out, lumat. Seperti lilin yang tak kuasa menahan terbakar dan lumer, luluh lantah dibuat sang api. Oh, rasa itu. Masuk ke rumah makan padang, aku tahu pasti akan kepedesan, tapi tak kuasa menahan godaan hingga tetap kupesan sambal hijau dan semua yang mampu memanaskan lidah. Nikmatnya.

”Dia Hindu,” kata Owe, sahabatku. ”Masa sih, We?” maklum tidak pernah punya kenalan orang Hindu, masa sih giliran udah klepek-klepek gini mesti sama yang beda. ”Bener, gw udah liat KTPnya!” Hahahaha, beginilah kalau punya teman over protective. ”Hahahaha.. serius loe, We? Ngapain loe pake liat KTPnya segala?” Si Owe memicingkan mata sipitnya seraya cemberut, ”Biar pasti. Sekarang loe percaya gak?” Mau gak mau.

Mirror oh mirror, tega amat sih. Kalau beda begini, mesti backstreet donk. Karena gak lulus policy di rumah sini. Apa dilawan aja yah? Masih banyak cowok oke ini di kampus. Yeah..yeah.. I wish! Tapi masa iya dilawan udah sejauh ini. Sms langsung disamperin. Request langsung diwujudin. Mau pulang langsung dianterin. Gimana ini? Dia juga pasti punya rasa. Tidak, tidak, kali ini aku tak besar rasa. Pasti itu.

”I can’t help it, this feeling. Really can’t take my mind of you. So I’m wondering if you want to be mine.” Hiks, persis seperti di film remaja Hollywood yang sering kutonton. Romantis sekali. Masih teringat suasana di ruang tamu kala itu. Tangan terjabat, gayung bersambut, jemari bergenggam. What do you expect? Of course I said yes. Yes, yes, yes. Be mine pernah terdengar sangat romantis untukku. Hahahaha..

Adjectif possessif, kepemilikan. Akan ada saatnya segala sesuatu yang bersifat memiliki, dimiliki, seutuhnya; walau tak pernah ada itu seutuhnya, menjadi hal yang kau puja. Kau suka. Karena yang akan kau rasa: damai, tak lagi sepi, indahnya bersama, beriringan. Entah itu benar semu atau memang ada yang namanya menyatu. Mine, his, her.

Tuhan yang maha tahu yang terbaik untuk kita. Manusia berencana tapi Tuhan yang menentukan jua. Jika kalimat tersebut terdengar memuakkan di telinga, maka kau sedang di tengah perjalanan, teman. Jangan takut, melangkah saja lagi. Jika kau merasa seperti berada di hutan remang-remang, maka kau sudah di jalan yang tepat. Semangat. Sesungguhnya remang-remang, datang dari sinar dan juga kegelapan.

”Dega sudah tahu sekarang keadaannya. Gimana, bersedia ikut keyakinan kita?” Akhirnya kudengar juga permintaan yang menurutku sangat fair. Iya teman, fair. Alih-alih memaksa menyudahi hubungan dengan anak sulungnya, orang tua Wangu bertanya dengan bijaksana jika aku bersedia mengikuti keyakinan mereka. Ya seperti kau tahu, agama tidak memperbolehkan dua manusia bersama jika Tuhan mereka berbeda. Tuhanku bukan tuhannya Wangu, et vice versa. Marahkah aku? Tidak. Kecewakah aku? Tergantung akan apa.

”Tante, memang orang tua saya yang memilih Islam menjadi agama saya, awalnya. Tapi beberapa tahun lalu, saya memilihnya sendiri, saya pribadi. Jadi maaf tante, saya meyakini apa yang saya yakini sekarang ini. Seperti juga tante sekeluarga meyakini apa yang tante yakini sekarang ini. Jadi iya, saya akan menganggapnya sebagai kakak saya,” dan aku pun tersenyum. Ikhlas. Seandainya sahabat-sahabatku menyaksikan kejadian malam itu, di ruang tamunya Wangu; pasti lah mereka bangga. Aku yang telah membuat mereka khawatir ketar ketir karena keputusan untuk belajar hingga mendalam ke akar, kualitatif.

Seringkali pada usia remaja kita terganggu akan perlindungan dan perhatian yang berlebihan. Benar? Aku pun pernah merasakannya. Alih-alih berteriak hingga serak, aku kala itu memilih diam dan berjalan dengan hati-hati demi membuktikan bahwa kekhawatiran sesungguhnya bukan yang diperlukan, tetapi akan lebih baik jika saja, mereka yang kubutuhkan memberikan dukungan.

”Tolong dijagain itu tetehnya, ntar tahu-tahu udah pindah agama, lagi!” Tertawaku mendengarnya, tentu saja. Apalagi ketika itu sungguh ku masih remaja. Memang begitulah orang dewasa, lebih memilih berpikir bahwa remaja harus benar-benar dijaga daripada membiarkan mereka memilih jalannya hingga pada akhirnya mereka bisa menghampiri orang dewasa dan berkata, ”Saya akhirnya tahu siapa saya.”

Terima kasih Wangu, atas cerita suka duka bersama. Sungguh engkau banyak menorehkan tinta hingga bisa kusampaikan pelangi pada cucu-cucuku nanti. Sampai jumpa di surga, bukan tak mungkin Tuhan-tuhan kita mendirikan konsorsium hingga ada itu surga bersama. ;)

Wednesday, August 25, 2010

Pernikahan semakin mengerikan

Teringat dulu sangat membencinya.
Pembunuhan karakter, kataku.
Suami takut istri, istri pelayan suami, tak bebas lagi, selamat tinggal mimpi.

Teringat dulu menertawakan para pemujanya.
Kasihan, tak bisa berdiri sendiri.
Pencinta aroma ketiak laki-laki.

Teringat belum lama menginginkannya.
Menjadi istri bersuami.
Tak sendiri lagi, ada pendamping kala bangun pagi.

Teringat inginku yang kecil sederhana.
Berbalut sakral dari doa-doa.
Hanya ada kita, sahabat dan keluarga.

Teringat minggu lalu bersama mamaku.
Ada biaya untuk buat yang besar, katanya.
Sederhana asal bisa mengundang teman-temannya serta.

Teringat belum lama terjadi.
Keributan mengenai ini.
Besar kecil, mahal murah, banyak uang dan seadanya.

Teringat beberapa menit lalu.
Ribut lagi ribut lagi.
Mengerikan sekali.
Bolehkan kembali ke aku yang dulu lagi?

Teringat dulu tak suka pesta.
Berisik dan berbalut hal-hal berbau sampah.
Tak ada sakral, tak ada doa.

Teringat belum lama tergiur akannya.
Berbalut baju cantik, dipandang beratus mata.
Kini menyesal ku dibuatnya.
Persetan itu pesta-pesta.

Teringat baru saja berjanji.
Tak akan mebicarakan itu lagi.
Bahkan kini tak mau lagi, tak menarik lagi.

Pernikahan oh pernikahan.
Sesungguhnya kau begitu menyesakkan.
Ramadhan oh Ramadhan.
Tiuplah hatiku dengan hembusan pencerahan.

Selamat tinggal duhai pernikahan.
Kukubur kau dalam-dalam hingga sesak terpendam.

Monday, August 23, 2010

Mari memasak!

Kemarin, kami menemukan cara baru bersenang-senang. Hari Minggu, kami berbagi tugas. Kangen balado tempe, kataku. Aku kangen sayur sop, teh; kata Kiki. Tapi takut gagal lagi, tambahku. Yang penting jangan kelaman masak sambelnya, saran Aran. Kalau sayur sop, teh? Tanya Kiki. Gampang kok, kata Aran. Fyyuuuhhh.. Untung ada chef Aran; a good motivator, setidaknya.

Ditulis di kertas berbingkai tuts piano;
1. Tempe
2. Cabe
Apa deh Ki, yang kemaren dibuang-buang sama Babar? Ketumbar, teh.
3. Ketumbar + lada
4. Sayur sop
5. Tomat
Masa sopnya sayur aja, gak mau pake apa, gitu? Makaroni aja, teh!
6. Makaroni

Aran, Kiki, Babar, belanja. Aku di rumah, beres-beres. Mereka sampai, senang-senang dimulai.

Tempe dipotong kecil-kecil, tipis-tipis, biar garing. Sllrruuppp!! Sayur dicuci di bawah air mengalir. Cabe, bawang disiapkan di atas ulekan. Tambahkan ketumbar dan garam, biar Kiki yang haluskan. Tempe dibuat garing sama Aran, api kecil bikin aman walaupun pelan. Teteh, lanjut bersihkan dan potong-potong sayuran.

”Deded, mami sama ati Ega agi apa?”
”Masak.”
”Ih, emangna bica?”
Kurang asem tuh anak. Hihihihi...
Serempak: ”Bisa dooonnkkk...”
”Keyen.”
Hahahahaa...

Wortelnya dipotong terlalu tebal, kata chef Aran. Baiklah, kutipiskan. Tomat kurang banyak dimasukkan ke ulekan, kata chef Kiki. Sok, ditambahkan. Tempe harus ditambah, karena terlihat kurang, kata chef aku. Tak masalah, tinggal ditambahkan.

Sambal kelar diulek, tempe selesai digoreng. Siap dicampur sekarang. Aran, kami beri kehormatan, silahkan dimasak. Huhuhu.. Chef Aran pun beraksi; minyak goreng dimasukkan ke dalam wajan, sedikit saja. Sambal digoreng dengan api kecil saja. Tak lama tempe pun menyusul si sambal, berdua saja. Diaduk-aduk hingga merata lalu ditaburkan gula dan garam. Hhhhmmm enaknyeeee!!! (Dengan logat si Ipin atau Upin).

Sayur mayur selesai dipotong-potong. Kini si bumbu; Ki, bumbunya apa nih? Ran, bumbunya apa aja? Apa yah? Bawang gitu yah? Terus apa lagi? Ah, gampang. Kita tanya mama Nadya aja! Hahahaha.. Nikmatnya bertetangga…

Bumbu versi mama Nadya: bawang merah, bawang putih, lada, kayu manis. Berhubung kami chefnya, maka kayu manis ditiadakan saja. Hukum suka-suka! Mari mulai menú kedua!

Kuulek bumbunya, bikin mata berkaca-kaca. Tempe balado selesai dihidangkan, Aran siap melanjutkan. Minyak dituang ke wajan, sedikit saja. Bumbu abu-abu dicelupkan, lalu diaduk hingga wangi semerbak. Bau, kalau kata Babar. Maklum, belum bisa membedakan wangi dan bau keponakan yang satu ini. Kusiapkan segelas air matang, masih kurang kata chef Aran, baiklah kita tambahkan. Air tak lama mendidih, tentu saja karena itu air matang. Si chef lalu memasukkan wortel dan kentang. Ditunggu hingga empuk kala ditusuk. Sudah empuk, lanjut si makaroni, buncis, kol dan tomat. Diaduk-aduk, kulihat sang chef memasukkan irisan daun bawang dan seledri. Tiba-tiba masuk sang istri ; widiiihhh, keren betul ! Sudah berapa lama Bapak menekuni dunia masak memasak ? Sang suami menjawab, orang gila. Babar menyahut, mami oyang giya ya, Ded ? Hahahahahaha…

Teh, kita gak punya masako-masakoan ? Punya, kenapa? Mana? Tuh! Ditaburkan juga sama si chef, plus gula dan garam. Diaduk-aduk, terus. Percaya atau tidak, aroma dan tampilannya, seperti masakan mama! Aha! Tolong ini dicoba, Aran kan puasa. Ki, tolong coba, Ki! Hmmm.. enak! Beneran, Ran! Enaaakk... Yeaaahhh!!! Babar pun ikutan lompat-lompat; yeaaahhh!!!

Hari itu Minggu, siang. Aran pun harus kerja, siang. Kiki sang istri menyiapkan bekal untuk berbuka; nasi, balado tempe dan sop makaroni. Aku, Babar dan Kiki, tak berpuasa. Mengapa? Mau tahu, aja!

Siang itu, Minggu siang. Kami bertiga lahap sekali makan. Orang bilang kalau sudah masak, makan jadi tak lahap. Siapa bilang? Coba lihat kami makan. Sampai lupa kalau hari itu masih siang, pintu tak ditutup hingga tetangga pun heran, melihat kami makan hingga keringetan, di Minggu yang siang.

Tuesday, July 20, 2010

Tentang mimpi

Bercerita tentang mimpi, tak lelah kurajut itu mimpi-mimpi.
Boleh lah kurajut dengan benang asa serta usaha.
Asaku yang terus ada membalut peluh usaha.

Mimpi oh mimpi,
Pernah dia sesekali pergi.
Untungnya dapat ku panggil lagi.

Aku ingin sekolah lagi, seperti mama.
Hausku akan tanya, rinduku pada auranya.
Aku ingin belajar lagi, sesuatu yang baru.
Musik, foto dan literatur.

Keliling dunia masih menggebu di dada.
Negara tetangga, Brazilia hingga Eropa.
Mau lihat bagaimana mereka hidup di sana.
Banggakah akan dunianya?

Pulang.
Tetap menjadi kata yang diidamkan.
Rumah.
Janganlah jemu nantikan ku di sana!

Call me, Ibu Guru!
Sounds so sexy!
Hihi..
Be patient, class! Ibu guru masih harus sekolah lagi.

I wanna be a mommy..
Wake up with a good morning kiss from a daddy
Live together happily
Build a castle made by love and trustiness, secretly!

Mimpi oh mimpi..
Mari mendekat sedikit lagi..

Friday, July 9, 2010

Proud to be destroyer!

Hola! Perkenalkan. Namaku, rahasia. Aku wanita, cantik belia. Gayaku manis manja, kau pasti puja! Wajahku rupawan, lonjong bak nampan. Hidungku lancip, sering disuntik. Mataku bulat, memikat. Suaraku, hhmm... bisa dibuat serak. Aku gadis metropolitan, tapi tak suka bangun siang. Bisa kau lihat paras pagiku di televisi. Jam tujuh pagi. Di sana aku berbagi informasi, buat semua penyuka pagi. Ibu-ibu, mbak-mbak, bapak-bapak juga boleh turut serta! Mari sini, kusemarakkan pagi kalian dengan berita yang pasti mencengangkan. Berita yang sejenak mampu menegangkan kicau pagi bumi. Tentang si anu yang ganti pacar lagi, si itu yang baru saja melahirkan baby bermata biru dari suami yang asli melayu, dan si mereka yang sedang naik-naiknya berkat video panas suranas. Sambil berdiskusi dengan gaya asik memikat, kupikat Anda semua hingga berita-berita yang ku bawa jadi penting adanya. Hingga kau merasa harimu tak lengkap tanpaku dan acaraku.

Kalau saya, pria berkacamata. Rambut tajam menjulang, rapi hasil tatanan. Kulit wajah mengkilap, tentu karena sering dilap. Tubuh semampai, berbalut otot bak Ade Ray. Saya anak band, yang pastinya keren. Gadis belia, para wanita hingga balita adalah para penggila. Kau dengar itu senandung laguku, rayu madu teruntuk para perindu. Diputar dari pagi, di televisi, channel sana sini. Acara musik televisi adalah kiblat band kami, dikarenakan para remaja menggilai hingga tak ingin sekolah pagi. Pembawa acaranya haruslah artis muda, tak punya karya tak apa. Yang penting muda dan bergaya. Tak perlu itu pemilihan kata, asal sok asik saja, pasti memuaskan sutradara. Kami pun jadi asik, atau ikut sok asik, yang penting terlihat asik. Mudah saja. Karena cuma itu tugas saya di sana. Tak perlu lah bernyanyi, karena sudah ada itu yang namanya CD. Diputar, bermusik ia. Saya pun bergaya, melebur dengan CD. Tak penting lagi siapa yang bernyanyi, saya atau si CD. Yang penting semua happy.

Ya? Ya? Nama saya? Wod. Iya, Wod. Itu nama pena. Maklum saya wartawan. Ini juga sambil mewarta, mencari berita. Sibuk. Nama benar? Sudah pakai saja itu nama. Saya kan wartawan, harus tetap jadi wartawan di mana-mana. Biarpun lagi jadi sumber berita juga, saya tetap saja wartawan. Ah, gak usah lah ditambah infotainment-nya. Tulis saja, wartawan. Kegiatan saya? Biasa lah, layaknya wartawan saja, lari sana lari sini mencari berita. Berita macam apa? Ya berita apa saja. Ya bahagia, sedih, tragis, semua. Sumber berita? Oh, kalau saya lebih susah, karena terbatas pada selebritas saja. Tak bisa itu tiba-tiba saya memberitakan orang biasa. Harus sudah terkenal. Yah, tapi bisa sih berita saya malah bikin orang makin terkenal, tergantung pesanan saja! Haha. Iya, biasanya artis baru, kalau mau cepat terkenal ya harus pakai jasa kita. Dunia artis sekarang mah di bawah kaki kita! Para wartawan! Kalau mau karir lancar, ya harus bina hubungan baik sama kita. Yah, kayak kerbau sama burung jalak lah, kurang lebihnya. Kalau yang berprestasi sih tetap kita liput pastinya. Tapi kalau tidak ada prestasi, terus tipenya pasaran, mau gak mau pakai kita sebagai dongkrak. Eh, si mbak mau kita dongkrak?