Showing posts with label sore. Show all posts
Showing posts with label sore. Show all posts

Monday, May 23, 2011

Bercerita bersama sore - dua puluh enam


Malam, Sore.

Iya, ini malam. Kau pergi sudah. Tapi aku sungguh ingin bercerita, besok mungkin bisa langsung kau baca.

Subhanallah, Sore. Subhanallah. Hanya kata itu yang sanggup menggambarkan hati ini. Hati yang dipenuhi bunga-bunga kecil warna warni; kuning, putih, jingga juga merah. Kala angin berhembus dapat kau lihat serbuk-serbuk menari kecil menaburi mereka, sambil tercium itu wewangian yang bersahaja.

Sejujurnya, ada sedikit keraguan untuk membagi ceritaku ini, Sore sayang. Bukan, ini bukan rahasia orang. Hanya saja, aku khawatir keajaibannya akan berpendar menghilang dari rasa. Tapi ku kira tak apa, meski itu harus terjadi, harus terganti dengan senyum bahagia darimu, ya!

Kemarin tepatnya, dua puluh satu Mei dua ribu sebelas. Hari yang dengan gelisah terus kunanti dari awal tahun ini. Hari Sabtu berbunga kala dia, pria yang mengisi dua tahun bersamaku datang membawa keluarganya. Keluarga yang entah sejak kapan menjadi keluargaku juga walau belum ada gunting pita. Datang mereka sekeluarga, besar, jauh-jauh dari kota tetangga mengunjungi keluargaku, besar juga, di Depok rumah uwak. Tahukah kau kalau ari-ariku dikubur di rumah ini, Sore? Iya, ini kota kelahiranku, aku datang di rumah bidan tak jauh dari sini. Sungguh tempat bersejarah untuk menorehkan lanjutan sejarah, bukan? Alhamdulillah.

Siang nyaris tengah hari, empat mobil tiba di depan halaman kami, dengan Aran sebagai penunjuk jalan. Iya, Aran memang kami utus untuk menjemput rombongan di jalan utama kota guna mempermudah tamu yang sudah kami nantikan sedari pagi ini. Tamu yang buat kami sibuk mempersiapkan ini itu karena kami setuju dengan pesan Rasulullah untuk memuliakan para tamu. Keluargaku sontak ke halaman, berbaris rapi tanpa komando siap menyalami tiap orang. Aku, malah masuk ke dalam. Tiba-tiba kikuk bingung harus apa, harus bagaimana. Menemukan Chokim, sepupuku, di dalam kamar Mbah aku merasa mendapat pencerahan. Aku masuk ke sana, mendekati jendela dan Chokim yang sibuk menempelkan wajahnya sambil mengabsen tamu dengan matanya. ”Yang mana orangnya?” tanyanya. ”Bukannya udah pernah ketemu?” jawabku. ”Lupa.” ”Yang itu!” tunjukku. Sambil terus mengenalkan anggota rombongan lainnya dengan telunjukku. Lega.

A Yasin, adalah MC hari itu. Alih-alih langsung memulai acara, dia berinisiatif untuk mengajak semua orang sholat zuhur dulu; laki-laki di masjid, wanita di rumah. Menghindari menunda sholat, jelasnya. Sungguh keputusan yang bijaksana, batinku. Aku, masuk ke kamar uwak duduk di atas kasur bersama piring-piring kue yang menanti disajikan dari pagi. Bersama Ade, Ebi dan Tsabita; sepupu dan keponakanku. Kipas-kipas kami di sana, gerah, sambil bercengkrama memandang uwak lalu lalang mengambil mukena.

Semua sudah sholat, kewajiban tunai. A’Yasin membuka ulang acara, kami para wanita berestafet piring-piring berisi kue aneka rasa. Setelah disuruh ke depan yang entah oleh siapa, aku lupa, barulah aku duduk di ruang tamu yang sudah kami alasi dengan karpet-karpet dan sajadah. Rame di sana. Deg-degan, aku tak menyapu pandang ruangan. Tunduk saja, sesekali lihat ke kanan, Bi Nia. Setelah beberapa lama baru ku mendongak dan menebar senyum tipis.

Tsabita Nur Azizah, jagoan mengaji keluarga kami. Cilik tapi hafal surat An-Naba luar kepala. Dan mengajilah ia. Lalu A’Yasin mempersilahkan wakil keluarga tamu kami untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka. And this is my favorite! Sang Papa lah yang berbicara langsung, tak diwakilkan. Beliau memperkenalkan anggota rombongan sambil berdiri di antara kami yang duduk, dengan santai, penuh canda dan menebar kehangatan. Dengan tak biasa, kemudian melanjutkan bercerita tentang kisah hubunganku dengan sang anak. Bernostalgia lah aku dibuatnya. Tidak, Sore. Aku tak mau menceritakannya sekarang, nanti saja. Cerita ditutup dengan kalimat tanya yang membuatku merasa sungguh berharga.

Om Yudi, favoritku, mewakili keluarga kami sebagai pemberi jawaban pada keluarga mereka. Berbekal kertas yang dicoret-coret sedari pagi, Om Yudi berhasil berkolaborasi menghangatkan suasana. Berbalut canda dan campuran bahasa Sunda, terjawablah sudah permintaan dari keluarga mereka tadi. Alhamdulillah. Terima kasih wahai alam semesta.

Kami bungkus dengan doa, semoga semua berkah, semoga semua berbahagia, Amin. A’Yasin kemudian mempersilahkan kami semua ke meja makan, santap siang. Saat itu lah malaikat menebar serbuk cinta; Papa dan Mama calon suamiku datang menghampiri, tersenyum hangat, bahagia, seperti berkata, “Selamat datang di keluarga kami, Nak!” Kucium tangan mereka, bahagia.

Semua orang bersantap dengan lahapnya, yang kecil juga orang tua. Aku juga, tentu saja. Sambil berbagi cerita dalam kelompok-kelompok kecil, duh hangatnya. Para tamu pamit, setelah tiga jam kami bersama. Aku dan keluarga berdiri di teras, mengantar mereka sambil menebar senyum bahagia.

Kami semua sibuk membereskan rumah, piring-piring dan makanan yang ada. Orang-orang terlihat mondar-mandir, tak ada yang bertangan kosong. Di sana aku, berdiri di ruang tengah, menyapu pandang mereka yang bekerja sambil tertawa-tawa. Semua yang sibuk berlelah-lelah demi acara hari ini, demiku.

Teruntuk Mbah, Mang Isa dan Adik Rambi di surga. Semoga kalian ikut berbahagia bersamaku, bersama kami semua, keluarga.


Photo

Bercerita bersama sore - dua puluh lima

Sudah lama ya kita tak duduk santai bersama macam ini. Kapan terakhir kali? Ah.. tak ingat. Menenangkan; suara ibu-ibu tetangga yang ribut bercerita, angin sepoi menggoyangkan jemuranku, tapak adik-adik kecil saling mengejar, matahari yang beranjak pergi, rumah bersih dengan perabot baru yang dibeli siang tadi. Hhhmm...

Sebenarnya membeli mesin cuci adalah agenda kemarin, tapi aku segan sekali membeli sesuatu yang tak aku kuasai betul sendirian, Sore. Fyuuhh... Need a second opinion. Masa mau tanya ke mas-mas penjual saja? Pasti semua juga dibilang bagus. Ya kan? Sudah kuajak Dian, Dewi dan Anast; sudah punya acara semuanya. Ku bahkan coba menghubungi Muna, lebih parah lagi, Sabtu-Sabtu bekerja. Aiiisshh.. Jadi ditunda saja dulu.

Hingga tadi pagi, sedari bangun ku yakinkan diriku sendiri untuk tetap pergi dan membeli hari ini, jangan ditunda. Lebih cepat lebih baik, kalau kata pak JK. –kampanye terselubung- Oke, jadi urutannya begini; ke ATM di seberang jalan, karena toko elektronik di pasar hanya menerima uang tunai. Lalu naik bis ke pasar dan masuk ke komplek toko-toko elektronik, jangan galau, pilih saja toko dengan pajangan mesin cuci terbanyak. Masuk ke dalam toko dengan cool, jangan terlalu menunjukkan minat. Tawar harga dengan santai, jangan banyak bicara a la ibu-ibu, pasti lebih sulit diturunin harganya. Kalau digoda dengan alasan-alasan membuai, katakan saja uangnya tak cukup. Pastikan kapasitas listrik yang dibutuhkan tidak terlalu besar dan merk setidaknya sudah dikenal. Jangan sok-sokan tanya harga merk Eropa, cuma bikin sakit hati saja. Kalau sudah deal harga mesin cuci, baru tanyakan dvd player. Cari warna hitam, biar matching sama tv. Jangan belaga tanya harga barang lain, godaan pasti lebih besar dan buntutnya dibeli padahal tidak masuk daftar.

La voila! Kudapat mesin cuci ber-merk Jepang ukuran 10 kg dengan harga sesuai rencana. Ada sisa uang, kubeli itu dvd player –sebenarnya bisa dapat dengan harga lebih murah, tapi lagi mood bagi-bagi rezeki sama si masnya- ber-merk dan warna sesuai rencana. Kubayar, tunai, macam mas kawin saja. Kuberi kertas bertuliskan alamat rumah serta nomor hp, kali-kali alamatku sulit dicari. Kuminum segelas aqua, servis dari si mas. Lalu pamit, tak lupa berterima kasih.

Huwaaahh.. senangnya, puasnya. Itu kali pertama aku beli elektronik di tempat yang harus tawar menawar, sendiri. Keren kan, Sore?

”Ah, si mbak ini pinter amat nawarnya,” keluh si mas putus asa.

Thursday, April 28, 2011

Bercerita bersama sore – dua puluh empat


Hola, Sore! Sini! Aku lagi main, nih! Lagi seru. Kamu aja deh yang ke sini! Sini, duduk di sampingku. Manis-manis.

Ini mainanku setiap hari, Sore. Setibanya di kantor, kubuka semua jendela maya yang kubutuhkan selama sehari bekerja. Ada gmail, office mail, detik, blogspot, radio streaming, google dan facebook. Ah, facebook! Yup. Alih-alih melarang karyawannya “bermain” facebook di kantor, kantorku membebaskan semuanya untuk berselancar dengan merdeka. Asal, pekerjaan beres semua. Sudah bosan sejujurnya memiliki akun facebook, bosan. Fyuuhh.. Sungguh membosankan mengetahui apa yang sedang temanku kerjakan, siapa yang masih berpasangan, seberapa tenar mereka mengacu pada jumlah teman yang ada, bla bla bla.. bla bla bla.. Sooo boring!

Terus kenapa masih punya akun? Hihi.. For only one reason, scrabble! Yup, scrabble. Permainan, kalau bisa dibilang sebuah permainan, dengan huruf-huruf tak bermakna sampai mereka dirangkai hingga menjadi bermakna. Ada yang bernilai satu hingga sepuluh! Kusuka X, Z, Q juga W, Y, J dan S. Eh, ini scrabble bahasa Inggris yah! Mau coba juga sih yang Indonesia dan Prancis. Ada tidak yah?

Kali pertama kenal scrabble waktu itu, kecil, SD sepertinya. Waktu itu aku menginap di rumah sepupu, di masa liburan sekolah. Ada itu papan lucu, digelar di karpet. Kotak-kotak kecil tempat huruf tertempel dengan angka kecil tertulis di bawahnya. Juga sandaran huruf seperti kursi taman, memanjang. Setelah melihat bagaimana perlengkapan tadi dimainkan, dua sepupuku mengundangku serta dalam permainan. Pilih tujuh huruf, katanya. Salah, ambil tujuh kotak bertuliskan huruf yang sudah ditelungkupkan. Kuambil dan kududukan di bangku taman. Lalu mulai lah kami bergantian menidurkan kotak-kotak tadi di papan, sambil merangkai kata, tentu saja.

Mudah saja, tiap huruf harus berjalinan, bak rantai, tak boleh terputus. Tak ada batasan jumlah huruf yang ditidurkan di papan, boleh satu, apalagi tujuh. Ada tambahan nilai kalau semua huruf kita berhasil ditidurkan. Lima puluh. Oh iya, cara menghitung nilai tiap kata yang kita susun mudah saja. Papan scrabble terdiri atas kotak-kotak yang sudah tercetak sempurna, dengan warna, bintang, dan tanda-tanda yang bermakna. Hijau; jumlahkan angka-angka pada huruf yang menjalin satu kata yang kita susun. Biru muda; jangan lupa untuk huruf yang terbaring di atasnya dikalikan dua. Biru tua; dikalikan tiga. Oranye; jumlah poin dari kata tersebut dikalikan dua. Merah; dikalikan tiga. Jikalau dalam satu giliran kita bisa membentuk dua kata, maka total kata pertama dijumlah dengan kata kedua. Begitu seterusnya.

Main scrabble di facebook, sudah seribu dua ratus empat puluh dua kali. Haha! Itu terekam, Sore! Makanya aku bisa tahu dengan persis. Dengan persentase empat puluh tujuh persen kemenangan dan sisanya kalah. Skor tertinggiku tiga ratus sembilan puluh lima. Kata terbaik yang bernah kubuat SQUIT, delapan puluh satu poin. Artinya nonsense atau diare dalam bahasa slang. Keren gak sih?

Kau tahu? Bahkan aku punya teman baru yang kukenal lewat scrabble ini. Jaya, namanya. He is also a scrabble mania. Tak sengaja kami bertemu di beberapa partai, akhirnya chat. Oh iya, di samping papan scrabble ada kotak tempat chat dengan pemain lain yang dibaliknya juga ada kamus sederhana untuk kata-kata yang dapat dibentuk dengan dua huruf saja. Jadilah sambil bermain seringkali kami chat. Sama-sama orang Indonesia ternyata. Jago, si Jaya ini, Sore! Benar, persis ayam. Haha.. Kalau jalannya diblokir sama pemain lain, biasanya kami ikut partai berempat, dia akan memberiku jalan. Jadi, daripada membiarkan pemain lain menang, yang biasanya dari negara lain, dia akan membiarkanku menang. Asik, kan?

Saking seringnya chat dan scrabble-an, akhirnya kami pun berkawan, di facebook. Kami saling tahu informasi umum masing-masing. Dan alih-alih terus-terusan bertemu di partai empatan, kami seringkali bermain scrabble berdua. Dan pastinya, hampir selalu dia yang menang. Hahaha...

Jadi begitu, Sore. Kalau ditanya apa permainan favoritku? Kau sudah tahu jawabannya! *wink*


Photo

Wednesday, April 27, 2011

Bercerita bersama sore – dua puluh tiga

Apa olah raga favoritmu, Sore? Ah, kau tidak berolah raga. Hati-hati cepat kendur otot-ototmu, yah! Hahahaa.. Aku suka olah raga, tak banyak, hanya beberapa. Maksudnya olah raga yang bukan untuk tontonan yah, tapi olah raga yang kulakukan.

Favoritku, renang. Yay! Kalau tak salah waktu itu kelas satu SD, Mama mendaftarkanku ke Polonia youth center, les renang. Kolam renang umum yang memilki dua kolam itu –satu kolam besar berair biru dan kolam kecil berair hijau yang berbahaya karena kedalamannya- terletak cukup jauh dari rumah kami, mesti naik mikrolet kurang lebih satu jam. Bermodal baju renang garis-garis biru, kusuka, kacamata renang dan papan pelampung senada, pergi kami kesana. Kali pertama datang ku berkenalan dengan bapak guruku dan beberapa teman lainnya; beberapa gadis kecil dan satu anak lak-laki. Itu di level kami, tingkat pemula. Ada banyak murid lainnya yang berenang di tengah kolam, dengan kedalaman sedang, juga bagian ujung lain yang paling dalam. Kami para pemula, di sisi paling cetek, tak boleh ke bagian lain, begitu instruksi pak guru.

Setelah lari mengelilingi kolam besar sebanyak tiga kali, pak guru akan memimpin stretching, guna menghindari kram. Pak guru kemudian meminta teman-temanku masuk ke kolam, menghadap ke tembok sisi, berpegangan di sana dengan dua tangan dan berkecipapk-kecipak kaki mereka, menyipratkan air ke mana-mana. Aku, masih berdiri di samping pak guru. Siap dengan kacamata melingkari kepala, dan tangan kanan menenteng pelampung. Kenapa aku tak disuruh nyebur juga? Pak guru menengok ke samping, tersenyum, mengambil pelampung dari tanganku, diletakkannya di tangga berjingkat yang membingkai kolam, lalu digaetnya tanganku. Aku, menurut saja. Tiba-tiba, cepat sekali, digendongnya tubuhku dan dilemparkan ke tengah kolam.

Dan di sana, di tengah kolam yang cukup dalam, klepek-klepek aku bagai ikan yang diangkat ke daratan. Dengan tangan mengacung berusaha melewati garis air meminta tolong, pada pak guru, pada mama, pada siapa saja yang ada di pinggir sana. Semua terjadi begitu cepat, juga begitu lama, keduanya. Hingga akhirnya kudapati lengan kekar pak guru menggeretku ke pinggir kolam. Setibanya di daratan, terengah-engah ku bernafas, dengan mata melotot mendapati mama yang riang sekali tertawa, bagai habis menonton srimulat saja. Pak guru tersenyum, tak meminta maaf, menghampiri mama yang masih memamerkan gerahamnya, ”Bagus, bu!” Apa itu artinya? Bete.

Setelah istirahat mengumpulkan kembali nafas normalku, dengan perut kembung kembali ku nyemplung ke kolam. Kali ini pak guru menggunakan cara yang beradab, memintaku dengan baik. Kuturuni tangga yang tersedia, lalu menapak kakiku ke dasar kolam dan berjalan mendekati teman-teman yang sepertinya sedari tadi menantikanku. ”Aku juga dulu begitu!” ”Iya, aku juga!” Sambut mereka. Oke, apapun maksud si pak guru, setidaknya bukan aku satu-satunya. Kemudian lanjut kami ngobrol sambil menyipak-nyipakkan kaki dan tentu saja berpegan erat pada sisi kolam. Yang sesekali dipotong suara pak guru meminta kami berkonsentrasi latihan, bukan ngobrol. Asik juga ternyata!

Kalau disuruh pilih antara telur ceplok dan rebus, akan kupilih ceplok, Sore! Alasannya sederhana, selama kurang lebih tiga tahun berlatih renang, mama selalu menyekokiku dengan telur rebus tiga sampai empat butir, ditambah madu dua sendok. Eneg! Terus-terusan begitu, menu andalan mama. Untungnya sepulang berlatih aku boleh jajan di kantin, ada ketoprak, bakso, nasi atau mie goreng, enak-enak semua. Makanya ketika Inul bilang kalau dia mengonsumsi dua puluh lima telur ayam kampung tiap harinya, sontak ku nyaris muntah. Hahahaa...

Gaya bebas, punggung, katak, akhirnya ku kuasai. Tak sia-sia kan, Sore? Tapi sayang, menjelang memasuki teknik gaya kupu-kupu, aku berhenti latihan. Alasannya? Tak ingat. Coba nanti aku tanyakan pada mama. Senangnya berenang, Kupu!


Sensasi bergerak maju di dalam air, mendorong mereka ke belakang yang kemudian menggelitik dengan riaknya.

Dingin, sunyi, bergerak.


Photo

Monday, April 25, 2011

Bercerita bersama sore – dua puluh dua

Hai Sore! Sungguh melelahkan ya perjuangan kita tiga bulan belakangan ini? Fyuuuhhh.. perjalanan pulang kantor dengan Transjakarta memang pergulatan bercabang tak berujung! Harus melawan para penyalip antrian, pengguna yang walau sudah sore herannya masih memiliki pasokan tenaga besar untuk saling mendorong, ditambah harus melekatkan tubuh di dalam bis dengan para pegawai kantoran lainnya yang sama-sama berkulit lengket hasil asinan keringat seharian, belum lagi kalau sial bertemu dengan orang-orang stres Jakarta! Halah...

Sudah, sudah. Jadi lupa tadi aku mau bercerita apa. Apa yah? Oh iya! Apa hadiah ulang tahun terindah bagimu? Iya, yang pernah kau terima. Apa saja, terserah! Coba ceritakan.

Pelangi? Ooohh.. manisnya... Benar, cantik luar biasa; l’arc en ciel. Beruntung sekali dirimu, Sore. Mendapat pelangi di hari ulang tahun. Pastilah kelakuanmu manis luar biasa, hingga Tuhan memberimu hadiah semanis itu.

Aku? Ada!

Hari itu usiaku genap sembilan belas tahun. Mahasiswa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, sungguh kunantikan kedatangannya. Ulang tahun, kusuka. Rasanya, seperti segala kebahagiaan pastilah datang bersamaan, hanya untukku. Tak ada cacat, tak boleh ada cela. Walau nyatanya tak seperti itu, tapi aku tak pernah lelah berharap. Bangun tidur kuterima ucapan, doa dan hadiah dari keluarga tersayang di rumah. Keluarga yang telah tiga tahun menghiasi hari-hariku. Iya, aku sudah tak tinggal bersama Mama, Bapak dan Aran. Kau masih ingat?

Kukenakan baju tercerah yang kupunya, lalu pergi ku ke kampus. Masih satu daerah, di timur Jakarta. Ada tiga kuliah hari itu, tapi tak kuasa ku berkonsentrasi menyerap semua karena hati dan pikiranku melayang lebih cepat ke suatu tempat. Bagai deja vu. Asal kau tahu saja, aku termasuk mahasiswa yang rajin, Sore. Jarang bolos. Tidak seperti masa SMP dan SMA dulu. Kini, belajar sungguh menyenangkan, karena di universitas kita mempelajari bidang yang kita pilih, yang mestinya kita suka. Tak ada lagi itu nama-nama aneh tumbuhan, pasal-pasal yang bahasanya berbelit-belit, apalagi angka-angka yang memabukkan. Haleluya! Tapi tidak siang itu, aku memutuskan untuk membolos di pelajaran ketiga. Ada janji.

Jangan tertawa ya, Sore! Janji! Sini, kubisikkan rahasia. Sesungguhnya tiap ulang tahun aku meyakini, salah, maksudku mengharapkan pesta kejutan dari teman-teman. Kadang ku dapat, seringkali tidak. Hehehe.. Ya iya lah, masa pesta kejutan tiap tahun, bukan kejutan lagi namanya! Hahaha.. Pun hari itu, ku menantikan pesta kejutan selepas kuliah. Jadi lah ku buat janji istimewaku di tengah hari agar bisa ku kembali setelahnya tepat seusai kuliah ketiga dan kudapat pesta kejutanku. Yay! Jadilah ku mengendap-endap pergi dari kampus, tak ingin teman-teman mengetahui kepergianku hingga mereka berpikir aku tak akan kembali ke kampus lagi dan mereka kecewa hingga tak akan ada lagi pesta kejutan tahun depannya.

Sneaking. Aku pergi ke tempat janjian dengan bermetro mini, Sore. Warnanya seperti warnamu, oranye. Di tempat janjian aku akan menemui om ku, Mang Sukma, yang menawarkan untuk menemaniku hari itu, hariku. Sepanjang jalan ku terus mengendap-endap, takut-takut ada yang melihat. Karena ini pertemuan rahasia, tak boleh itu orang-orang tahu. Siang terik mengilapkan hitam rambut Mamang yang sudah tiba lebih dulu. Ah, wajah Mamang cerah, memang wajah macam itu lah yang kubutuhkan di hari ulang tahunku. Kunaikkan tingkat kecerahan wajahku dua tingkat saat itu. Satu untuk berterima kasih pada Mamang, satu lagi pada mentari.

Di sana kami, di bangku kayu panjang; Aku, Mamang dan Bapak. Iya, Bapakku. Dengan Bapak lah sungguh ingin kubagi hari ini. Bapak tampak sehat, gemuk dan bercahaya. Mengapa semua tampak berkilau ya hari itu? Bercengkerama kami, cukup lama. Bahagia kurasa. Tiba-tiba, teringat akan pesta kejutan di kampus, kukatakan kalau aku harus pulang. Mamang juga ikut pulang. Kucium tangan Bapak, pamitan. Bapak menarik tubuhku, dipeluk dan dikecupnya keningku sambil diselipkannya sesuatu di tanganku. Kugenggam, kubawa pulang.

Ku tiba beberapa saat setelah kuliah ketiga usai, teman-teman masih di sana, di halaman gedung E, jurusan kami. Tak ada pesta, tak ada kejutan. Tak apa. Kami bercanda dan bercanda di sana, menyenangkan. Beberapa orang teman menyadari kepergianku dan menanyakannya. Kujawab, rahasia. Lalu seperti biasa kami pun pulang ber-bis bersama, dan berpisah di pemberhentian masing-masing. Tiba giliranku turun, pamit.

Itu kita sore, kau dan aku. Dudukku di kursi ujung mikrolet, senyum-seyum sendiri. Oh, bahagianya berulang tahun! Seketika ku teringat kado selipan Bapak yang belum kubuka. Kuambil dari dalam tasku, selembar kertas terlipat-lipat. Kubuka dan kubaca.

Terbanglah wahai kupuku

Pandang dan sorot dunia seluasmu

Berikan keharuman setiap hinggap

Lahirkan rekah saat kau tinggal

Maka, kupuku peri dunia.

Tersedak rongga dadaku, tertusuk perih pelupuk mataku. Bulir-bulir air mata, menutup kado indah ulang tahunku kali itu. Hanya kau dan Tuhan yang tahu, Sore. Kepakan pertamaku hari itu.

Sunday, May 16, 2010

Bercerita bersama sore – dua puluh satu

Hatiku senang, hatiku riang! Dudududu.. Lalalala..
Seperti gelembung gemerlap menari di hati... Lilililili...
Sore oh sore, mari ikut menari!
Tak boleh gundah malam ini.
Tak oh tak, tak boleh..

Hahahaha.. Mengapa kau melihatku seperti itu, hah?
Ada yang aneh?
Ada yang salah?
Hahahaha.. Hentikan, Sore!
Kenapa sih?

Memang, tak biasa! Luar biasa!
Ini luar biasa rasanya, tahu!

Iya yah, sudah berapa lama aku hilang, kawan?
Satu bulan lebih? Hah? Selama itu kah?
Tak terasa.

Iya, maaf yah, tidak sempat cerita ceriti kemarin-kemarin.
Maklum, ribet!
Ah, sudah! Sudah lewat ribet-ribetnya.
Sini, kubagi gelembung bahagiaku!
Duduk yang manis, sayang.

Hahahaha.. begitu saja dibahas!
Tak apa toh sekali-sekali kupanggil sayang.
Hahahaha...

Begini soreku sayang, hahahaha..
Kemarin-kemarin aku hilang karena sibuk ngurusin Aran kawinan.
Iya, Aran yang itu, adik kecilku!
Hooh, dia akan menikah, eh, sudah menikah maksudku!
What a news ya?

Alhamdulillah, lancar.
Tanggal lima kemarin, selametannya tanggal delapan.
Iya, memang belum lama.
Masih fresh from the oven gak neh namanya?
Hahahaha...

Kiki namanya, teman sedari kuliah.
Sudah pacaran lama.
Sudah jadi suami istri sekarang.
Manisnya...

Yang bikin aku bahagia?
Ya itu, mereka.
Kebahagiaan mereka bertiga, Aran, Kiki, Babar, anak mereka.
Senangnyaaaaa....

Alhamdulillah, Sore.
Baru ini, perasaan yang baru.
Tak ku kenal, tapi ku suka.
Melihat adikku memiliki keluarganya sendiri, bersama wanita pilihannya, berdua mereka belajar berkeluarga.
Mulai dari mencari tempat tinggal, kontrakan, membeli barang rumah tangga, pusing masalah keuangan, membujuk Babar kecil untuk tidur di rumah baru mereka, bolak balik ke tempat mama menumpang mencuci baju, rusuh di dapurku menggoreng makan malam mereka, hahahahaha... sungguh pemandangan manis yang kusuka!

Iri? Bukan, jelas-jelas bukan.
Aku menikmati melihat lucunya keluarga kecil mereka.
Besok Aran akan interview kerja, doakan ya, Sore.
Bantu doa kami semua.
Semoga Aran cepat dapat kerja.
Moga keluarga mereka dapat hidup berkecukupan.
Semoga Aran, Kiki, Babar selalu bahagia.
Moga mereka selalu bersama, selama-lamanya.
Semoga, aku, bisa selalu menaungi mereka, sebagai kakak dan tante yang baik.

Amin...

Monday, April 5, 2010

Bercerita bersama sore – dua puluh

Selamat sore, Sore. Bagaimana kabarmu?
Aku? Alhamdulillah, sehat. Ke mana saja?
Iya, maaf. Agak ribet kemarin, jadi tak sempat mengunjungimu.
Iya, aku juga rindu.
Kulihat semakin cerah saja dirimu belakangan ini. Sedang bahagia ya?
Iya donk, walau tak bercerita, tetap kupandangi mu setiap hari.
Iya, cukup gundah aku, Sore.
Cerita? Bagaimana ya?
Bukan, bukan aku tak mau. Hanya saja bingung mulai dari mana.

Kau kan punya sahabat ya, Sore?
Iya, si senja.
Hmmm....
Bagaimana kalau si senja, sahabatmu, ternyata seorang pencuri?
Iya, pencuri.
Ya terserah, mencuri apa saja. Yang jelas mencuri; mengambil hak orang lain, entah itu barang, manusia, hati, atau binatang, apapun.
Yang jelas, gimana? Ya kau pilih lah salah satu dari contoh yang kuberi tadi.
Ih, kenapa harus aku yang tentukan, sih?
Sejak kapan kau jadi seperti orang dewasa begini? Bercerita harus jelas, semuanya. Tak bisa pakai imajinasi sedikit. Bukankah lebih menyenangkan jika kau turut terbang bersama ceritaku, terbang ke arah manapun yang kau mau. Masa harus aku juga yang jadi navigatornya?
Iya, iya, sudahlah. Kulanjutkan, dengan jelas, cara dewasa.

Bagaimana seandainya jika sahabatmu, senja, suka mencuri hati orang lain yang sudah ada pemiliknya?
Iya, itu, kau pasti tahu maksudku.
Semua orang tahu kalau matahari adalah milik pagi, seorang.
Mereka bersama sejak dulu, merangkai banyak cerita mereka berdua, menerangi dunia, mengajak semua tersenyum bahagia, bahkan senja pun turut merasakan sinarnya.
Tapi tiba-tiba, suatu hari, si senja berkata padamu bahwa dia mencintai matahari, sepenuh hatinya. Hingga ia tahu bahwa hanya matahari lah yang mampu membuatnya bahagia. Dia tak mau yang lain, tak juga mau berbagi sinar mentari dengan siapa-siapa lagi.
Mentari? Entah karena hanya terpukau dengan penyerahan diri seorang senja di tengah kejenuhan cerita bersama pagi, atau benar matahari juga merasakan cinta yang senja punya. Entah. Hingga dia memutuskan meninggalkan pagi untuk bersama senja.
Senja dan mentari kini.
Berbahagia mereka, katanya.

Bagaimana menurutmu, Sore?
Pagi?
Ya tak ada yang peduli dengan nasib sang pagi, apalagi senja. Tak mau tahu dia.
Yang dia tahu hanyalah, mentari kini miliknya, hanya miliknya. Dan mereka berbahagia.
Mentari kemudian bersamanya tiap waktu, melupakan cerita yang pernah terajut bersama pagi, kala mereka bersepakat untuk berkomitmen dan berkolaborasi. Pergi saja ia, seolah semua cerita pagi tak ada artinya. Seolah pagi hanya kata, tanpa rasa. Seolah janji hanya berlaku saat keduanya sepakat berpadu, dan ketika dua menjadi satu, maka janji tak lagi berlaku.

Dan senja, berbagi padamu, Sore. Kau lah yang pertama dicarinya, untuk berbagi suka. Sekedar untuk meluapkan rasa bahagia. Bahagia atas cintanya yang kini tlah bersama.
Senja, tak merasa bahwa dia baru saja mencuri. Mencuri dari pagi.
Senja, seolah berdiri mendongak bangga atas kemenangannya, kemenangan atas nama cinta.
Senja, berkumandang pada semua, bahwa hanya matahari yang mampu membuatnya bahagia.
Senja, tak punya alasan untuk merasa bersalah, karena mentari datang atas maunya.
Senja, menghapus dari ingatan, apa-apa yang dia katakan dan lakukan hingga matahari mau berpaling padanya. Apa-apa yang hanya senja dan Tuhan yang tahu pesan sesungguhnya.
Senja, tak suka disalahkan karena cinta bukan dia yang minta.
Senja, bersikeras tak mau membohongi hatinya dengan berusaha merengkuh mentarinya, lagi-lagi atas nama cinta.

Sore oh Sore, seolah cinta datang hanya untuk melepas dahaga hati.
Moga cinta tak bersedih karena melulu dijadikan tumbal atas kejahatan macam ini.
Moga Tuhan tak menyesal karena telah meniupkan cinta pada senja.
Semoga pagi tak memandang semua makhluk itu seperti senja.
Semoga mentari tak akan mengulang cerita ini dengan senja-senja lainnya.
Moga senja diterangi hati nuraninya dan teringat akan pesan Tuhan pada kita; untuk saling menyayangi, sesama makhlukNya.

Sore oh Sore, kini kau dengar semua gundahku.
Apa yang akan kau lakukan pada senjamu, Sore?
Apa?
Katakan padaku.

Sungguh gulana tak henti menggodaku dengan cerita ini.
Aku benci pencuri, Sore.
Benci.
Aku sayang sahabatku, Sore.
Sepenuh hati.

Apakah aku harus menyayangi seorang pencuri, kini?
Atau membenci sahabatku sendiri?
-bersambung-

Tuesday, March 16, 2010

Bercerita bersama sore - sembilan belas

Sini, sini, kemari! Cepat, Sore, kutunggu-tunggu dari tadi. Hihi.. Sudah tak sabar, aku. Tebak, hari ini hari apa ayo! Betul! Kamis, tanggal berapa coba? Sebelas. Pinter ih! Hehehe.. Tahu gak Kamis sebelas Maret dua ribu sepuluh ada apa? Yeh, malah nanya balik! Ada apa hayo? Coba diingat-ingat. Tenot! Maulid mah sudah lewat. Zzzzzzz....

Nyerah saja ya? Kelamaan. Hari ini, hari besar, harinya Aran! Bukan, bukan ulang tahun, belum. Bukan juga, belum, bukan menikah. Wisuda, Sore! Pagi tadi di sini. Ya, di sini, di gedung besar ini. Ah, norak sekali ya, aku? Biarin. Hahaha.. Kau pasti tahu mengapa bahagia bisa sebesar ini, ya? Terima kasih, Sore. Lengkap rasanya kala bahagia dirasakan bersama. Duduk, sini. Mau kuceritakan? Seperti biasa.

Seperti layaknya wisuda-wisuda lain, Aran harus datang pagi sekali di sini. Jam tujuh. Sementara kami, keluarga, jam delapan. Aku dan mama, sesuai kuota undangan yang semalam diantar Aran. Di situ tertulis kalau keluarga harus memakai pakaian sopan dan rapi. Membingungkan sekali. Jadi ingat kala kuliah dulu, menurutku kaos berkerah itu rapi, tapi menurut dosenku kaos tetap saja kaos, kurang sopan. Padahal kan ada kerahnya, seperti kemeja. Beda bahan saja. Mama bilang rapih itu pakai kebaya, karena semua orang seperti itu di acara-acara wisuda, berkebaya. Menurutku itu berlebihan, memangnya pernikahan atau Kartinian? Iya gak? Mama setuju. Kami pun tak berkebaya. Mini dress hitam jadi pilihanku, mama pun mengenakan hitam-hitam, atasan manis dan celana panjang. Cukup rapih, menurut kami. Tanpa sanggul, pun riasan wajah berlebihan.

Aran, harus mengenakan celana panjang hitam dan kemeja putih tangan panjang. Tak punya dia warna putih, ada biru. Kubilang pakai saja, tak masalah, toh nanti akan tertutup toga. Itu loh, jubah khusus wisuda yang ada sayap dan topi berkuncir juga. Waktu kami kecil, Aran suka memakai toga mama, keren katanya. Bahkan jaket almamater mama pun dipakainya tidur setelah melihat para mahasiswa berdemo di televisi, ”Aran mau kayak gitu, Ma! Berantem pakai jaket begitu!” katanya. Mama mau tak mau merelakan jaket almamaternya diileri anak laki-lakinya yang bermimpi berdemo bak mahasiswa.

Tulang Ucok lah yang mengantar aku dan mama ke sana, setengah delapan pagi dari tempat mama. Aran, sudah pergi duluan bersama temannya, bermotor. Tiba kami jam sembilan kurang, tak apa menurutku, paling kami hanya ketinggalan ritual-ritual membosankan. Seperti biasa, di halaman gedung banyak penjual bunga dan tukang foto. Sambil berjalan menuju ruangan mama berbisik, ”Si Aran mana mau bunga gituan, Teh. Dia pasti maunya bunga bank! Hahahaha...” Aku juga tertawa, membayangkan ekspresi adikku yang diberikan mawar merah oleh mama. Hehe..

Masuk kami ke ruangan besar, tempat Afgan bernyanyi tahun lalu, waktu Java Jazz, seingatku. Tapi dulu aku di bawah, balkon tak dipakai oleh panitia. Kini di atas kami, baris kedua dari atas, di sisi kiri wisudawan. Aran, di bawah sana. Terlihat sama seperti yang lainnya di dalam balutan hitam dan kuning. Kutanya dia duduk di barisan mana, ketiga dari depan, katanya. Ah, kan ada handphone, Sore. Kau ini!

Di seberang sana ada pasukan muda mudi bernyanyi, paduan suara. Mama, saking terlalu sering bernyanyi untuk paduan suara, lupa kalau hari ini hanya menjadi tamu undangan. Bernyanyi dia, cukup bersuara hingga membuat undangan dari baris bawah menolehkan kepala mereka ke belakang. Hehehe, maklum, mamaku. Kau tahu kalau baris terakhir himne guru sudah diganti, Sore? Aku pun baru tahu, paduan suara di sana malah belum tahu.

Engkau patriot pahlawan bangsa, tanpa tanda jasa.

Bagian itu, sudah kadaluwarsa, kata mama. Versi barunya,

Engkau patriot pahlawan bangsa, pembangun insan cendekia.

Begitu, katanya.

Mendengar nyanyian-nyanyian itu membuatku terharu dan sempat meneteskan air mata, bahagia. Ingatku sempat membatin, ayo, jangan nangis bombay di sini. Nanti saja di rumah nangisnya. Kau pasti tahu kalau aku bangga luar biasa padanya, adikku satu-satunya itu. Setelah perjuangan panjang, akhirnya sampai juga kami di sini, di hari ini. Aku, mama dan Aran, seperti kebahagiaan hari ini hanya milik kami, yang lain hanya menyemaraki.

Ku menyibukkan diri mengabadikan di ranyu, kameraku. Karena itu pesan Mbah pada kami, jangan lupa foto wisudanya, jangan kayak teteh, wisuda gak ada buktinya. Inget! Hahaha.. Mbah kami ini kolektor foto-foto wisuda, Sore. Ada itu satu kamar di rumahnya tempat dia memajang pigura-pigura foto keluarganya yang berwisuda. Mulai dari anak, keponakan hingga cucu. Semua ada, kecuali aku. Hehe..

Wisudawan dari akademi pariwisata. Tersadar ku dari lamunan mendengar pengumuman barusan. Giliran Aran. Deg deg deg. Aku dan ranyu fokus bekerja, merekam ini semua. Kupicingkan mataku agar bisa melihat Aran dari jauh, itu dia. Dua orang lagi. Aran Candra AMD. Itu gelarnya. Ku zoom lensa ranyu. Itu adikku, tinggi, gagah. Aku dan ranyu memandanginya menaiki tangga, berjalan, menyalami seseorang, lanjut berjalan lagi ke tengah panggung, menunduk sedikit membiarkan kucir di kepalanya dipindahkan, lalu muncul itu namanya di layar besar di depan ruangan. Adikku.

Sroottt.. srooott.. Bunyi apa itu? Aku melirik cepat ke kiri, rupanya ada yang sedang sibuk mengelap ingus dan air mata, mama. Hehe.. Aku tak sempat menangis, Sore. Sibuk dengan bangga, lega dan bahagia yang ada, menelusup semua, menari bersama.
Hari bahagia ini berlanjut ke rumah mama di mana keluarga kami sudah berkumpul ingin merayakan bersama. Tapi, boleh kusudahi cerita sampai di sini? Di bagian terbaikku. Ya sampai bagian itu.

Teteh ucapkan selamat, Aran. Terima kasih telah menaiki tangga ini dengan baik. Sekarang teteh ambil lagi ya, tangganya. Semata-mata agar Aran tak punya cara untuk turun kembali. Mendongaklah, terus mendongak ke atas, adikku sayang. Langit, mentari, bintang, rembulan, semua ada di atas sana. Acungkan jarimu, picingkan mata, dan naiklah ke atas, hingga kau berhasil menyentuh mereka semua. Amin.

-bersambung-

Thursday, February 18, 2010

Bercerita bersama sore - delapan belas

Nasib anak kost
Aku makan tiap hari, kadang hanya makan mie
Gimana gak kurang gizi?
Ku... ingin bunuh diri...
Huhuhuhu...
Nasib anak kost


Itu lagunya Padhyangan Project, grup parodi musik asal Bandung. Tenar sekali masa-masa ku SD. Aku tak tahu kalau itu lagu sedih, Sore. Kisah nyata yang sudah biasa dialami anak kost ini kupikir hanya lucu-lucuan saja. Waktu itu tak terlintas sebersit pun di pikiranku bahwa kelak aku juga akan merasakannya. Tidak sama sekali.

Pasca perpisahan mama bapak, kami sekeluarga memang berpencar, kesana sini, tak bersama. Aku pun berpindah dari satu rumah keluarga ke keluarga lain. Sampai itu, masa-masa aku akhirnya sudah bekerja, maksudnya masa setelah lulus kuliah, aku mulai jadi anak kost.

Biasa tinggal di rumah-rumah bagus nan berfasilitas membuatku manja dan selektif memilih tempat kost pertamaku. Dengan bantuan sahabatku Mia (Mimi) dan Johan (Om Jo), kutemukan sebuah rumah tua di Setiabudi, di belakang SMAku, sejajar juga dengan rumah Mimi.

Rumahnya memang tua, keropos, gelap, lembab dan auranya agak mengerikan, tetapi letaknya tak jauh dari kantorku hanya butuh waktu lima belas menit, dekat dari jalan raya, banyak tukang makanan di sekitarnya, hanya ada satu tetangga, harga sesuai dengan rencana dan yang terpenting, berdekatan dengan Mimi, jadi kalau ada apa-apa aku tahu harus kemana. That’s what friends are for kan, Sore. Hehehe..

Aduh! Aku lupa nama pemiliknya, yang jelas orang Bali. Tetanggaku satu-satunya pun berasal dari sana, Mbak Ayu namanya. Alah! Semua wanita juga dipanggil Mbak sekarang, Sore. Walau bukan orang Jawa, tak apa. Aku dan Mbak Ayu tinggal di rumah sayap kiri, ada juga sayap kanan dengan keadaan yang lebih baru dan jumlahnya lebih banyak. Kami punya satu ruang tamu, di sisi kiri ada kamarku lalu Mbak Ayu. Kamar kami persegi, ukurannya, hmmm... tak tahu. Yang jelas cukup luas untuk ditinggali sendiri.

Tak ada jendela sama sekali, untungnya ada exhaust fan yang sedikit membantu sirkulasi udara dan juga atap yang tinggi layaknya bangunan lama. Lantainya bukan keramik, jadi tak terlihat jelas apakah aku pandai mengepel atau tidak. Pintunya pun model lama dengan kunci tebal yang membuatku ditertawakan teman-teman kantor karenanya. Padahal menurutku kunci model itu keren, Sore!
Pintu kamarku ada di sisi kanan, kalau dibuka akan kau temukan lemari baju kayu besar di hadapan, tempat tidur kayu ukuran double di sisi kiri, lalu masuklah. Baru bisa kau lihat meja besar sepasang dengan kursinya di sebelah lemari. Exhaust fan tergantung di tembok sisi berlawanan dengan pintu masuk. Oh, ada satu pintu lagi, tepat berseberangan dengan pintu masuk tadi, pintu yang menghubungkan dengan kamar mandi, pribadi.

Tak banyak barang baru di kamarku, hanya ada karpet ungu besar dari Anast, temanku dan kotak plastik yang juga besar dari Bi Nia, tanteku. Di atas meja ada dispenser yang baru ku beli di hari saat ku pindah ke sana dan tv yang kupinjam dari ibu, istri baru bapakku.

Mau tahu kamar mandinya, Sore? Keluar kita lewat pintu belakang, kau akan lihat cahaya remang dan ciumlah aroma kayu dan lembab yang pekat. Lorong sempit, kita ada di sebuah lorong sempit. Kalau lihat ke kanan, itu ada dapur dan kamar mandi Mbak Ayu. Kita ke kiri, di situ ada pintu kamar mandiku. Ya, itu, yang temboknya tak menutup sampai ke atas, tapi menganga seperempatnya. Masuklah. Di sisi kiri ada bak mandi kecil dengan sebuah kran yang hanya menyala di malam hari. Sisanya mati karena harus bergantian dengan tempat lainnya, terjadwal. Tutup dulu pintunya untuk melihat toilet duduk di sisi kanan, belakang pintu. Tak ada flusher, manual saja cara siramnya. Ada satu kran lagi di seberang pintu dengan satu ember kucel dan satu gayung.

Aku membersihkan kamar mandiku seminggu sekali, biar bersih, biar nyaman, biar tidak licin juga. Karena aku mencuci baju dan piringku di sana, jadi lah lantai seringkali bersimbah air sabun. Baju yang sudah dicuci kujemur di lorong kecil. Ada tiga tali pendek di sana, tempat ku menggantung hanger pakaian. Hanger yang kuminta dari tante.

Berhubung aku tak punya dapur, jadi lah tiap malam jajan di luar. Itu kali pertama aku sadar bahwa aku benci sekali makan sendiri. Menyiksa, Sore. Dan aku makan malam selalu sendiri. Pun, aku nyaris mati kebosanan dengan segala makanan yang dijual di sana, walau banyak pilihan. Aku rindu masakan rumah, rindu serindu-rindunya. Di kost pertamaku ini kudapati sakit maag pertamaku, Sore! Hahaha..

Mie? Iya donk, aku makan mie di pagi hari. Tak perlu dimasak, cukup disiram dengan air panas dari dispenser. Pintar kan? Dan kau tahu, Sore? Mie itu tak pernah enak jika tak direbus. Percaya padaku! Walau tersiksa dengan kerasnya, tetap saja kumakan itu mie setiap pagi. Oh, kadang aku juga suka beli gorengan, untuk sarapan. Irit sekali itu, menghabiskan hanya sekitar dua sampai tiga ribu. Tapi jangan kau tiru ya! Itu yang namanya sarapan menelan racun, jauh dari sehat! Haha..

Bagian terbaik dari tempat kost ini adalah sop buah. Kau tahu sop buah kah, Sore? Itu, potongan berbagai jenis buah dengan ukuran yang tidak mungil, disiram dengan kuah manis nan segar racikan rahasia mas penjual dan ditambahkan es batu. Hhmmm... itu sop buah terenak di dunia, Sore! Sungguh!

Kupamerkan ke seluruh kenalanku, sop buah ini. Dan hampir semuanya setuju dengan pendapatku. Yang tidak setuju pasti sedang sariawan deh! Kau juga mau? Kita ke sana kapan-kapan ya! Ke Setiabudi, tempatku melalui masa-masa SMA dan menghabiskan tujuh bulan pertama sebagai anak kost.

-bersambung-

Wednesday, February 10, 2010

Bercerita bersama sore - tujuh belas

What is the name!
Heh?
”Iya, pernah denger gak? What is the name. Apalah artinya sebuah nama.”
What?
”Masa gak pernah denger sih. Itu terkenal tahu! Katanya siapa ya? Shakespeare kayaknya.”
”Ooooohhh... iya-iya..”
Perasaan bukan begitu deh bunyinya. Sekarang malah hilang versi benarnya dari kepalaku. Terlalu memukau sih what is the name barusan.
”Jadi ya gak penting itu nama-nama. Cuma nama!”

”Hehehe.. Tapi kan katanya nama itu doa.”
”Iya, kata orang kita. Tapi coba nama gue, mana gue tahu artinya apa!”
Orang kita siapa?
”Masa lu gak tahu? Pasti ada artinya!”
”Gak ada, gue udah pernah nanya dulu sama nyokap. Malah bingung dia! Tanya aja sama bapak, itu dari dia.”
”Hahahaha... lu tanya bapak lu gak?”
”Lupa! Kayaknya udah deh, terus dia bilang gak tahu. Banyak kok orang namanya Arman, gitu katanya.”

”Hahahaha... untung gue bukan anak bokap lu ya!
Alhamdulillah...
”Hahahaha.. sialan lu! Kenapa emang?”
”Ya itu! Mana mau gue dinamain kaya orang kebanyakan. Hahahahahaha...”
”Sialan lu! Arman juga keren tau! Itu Arman Maulana, keren kan?”
”Emangnya lu Arman Maulana? Lagian yang keren kan gayanya, bukan namanya! Hahahha...”
”Gue juga keren. Arman Maulana keren. Emang nama ini orangnya keren-keren.”
”Hahahhaha...”
Argumen macam apa itu?

”Gue yakin pasti ada maknanya. Coba lu cari aja tuh di buku nama-nama. Kan suka ada tuh buat cari nama-nama anak.”
”Lu nemu nama lu di situ?”
”Ya nggak laaaahh... Nama gue mah gak pasaran!”
”Iya, gak ada artinya juga kan?”
Hahahahaha..
Untung Mama Bapak bukan penganut aliran what is the name!

”Ada doooonnkkk...”
Bangga bener?
”Apaan?”
”Dega, itu singkatan dari delapan tiga, tahun lahir gue.”
”Hahahaha.. Serius?”
”Hooh!”
”Kreatif bener bonyok lu!”
”Eh, tapi pernah juga bokap bilang, artinya debu galunggung. Karena waktu gue lahir atau waktu nyokap hamil gue, itu gunung galunggung meletus terus debunya sampe sini-sini.”
”Sampe Jakarta?”
”Hooh, katanyaaa...”

”Widih.. keren bener nama lu! Pantesan aja gue jarang denger.”
Iya, gue juga ngerasa keren.
”Nah kalo Wahdini, artinya petunjuk; berilah aku petunjuk.”
”Bacaan sholat!”
”Hooh! Itu nama dari almarhum Mbah gue.”
”Bagus tuh artinya!”
”Doaaaaa.... doa itu doaaaa...”
”Hahahaha... iya yah..”

”Apa itu what is the name? Hahahha...”
”Nah kalo Yanti kan pasaran! Yeeeee....”
”Weits! Biar pasaran juga ada artinya!”
Kenapa juga mesti ada tuh Yanti sih?
”Alah! Apaan?”
”Itu sumbangan dari nyokap, artinya yang paling cantik! Hahahhahha...”
”Iyaks! Ngarang kan lu?”
”Hahahaha... ngapain gue ngarang-ngarang, oon! Waktu nyokap hamil gue, ada dua kakaknya yang hamil juga. Nah dua-duanya lahiran sebelum gue. Pas gue lahir nyokap pengennya gue itu yang paling cantik. Doa bow, doaaaa.... Hahahahaha...”
”Hahahaha... Amiiinnn... Terkabul gak?”
”Alhamdulillah! Hahahaha...”
”Pede bener lu!”
”Itu syarat utama orang cakep, Man! Mesti pede! Hahahahaha...”
”Ya ya ya.. bolehlah...”

”Jadi?”
”Jadi apa?”
”Kesimpulannya apa?”
”Kesimpulannya gue gak setuju sama Shakespeare. Ntar anak gue mau gue namain yang bagus, yang gak pasaran juga.”
”Hehehehe.. jangan Arman ya!”
”Sialan lu! Namanya ntar Arman Junior!”
”Huahahahaha.. keren! Keren! Tapi kasian bener anak lu bow.”
”Kenapa?”
”Ya itu, bapaknya sih anak seni rupa, kreatif katanya. Eh ngasih nama anak gak mau susah gitu! Gak inspiratif! Hahahaha..”
”Sialan! Ntar gue pikirin lagi. Kalo anak lu cerita ada temen sekolahnya yang namanya aneh, cakep, keren, gak pasaran, itu pasti anak gue ya! Lu tanya aja sama anak lu alamatnya, ntar reunian kita! Hahahaha...”
”Hahahaha.. geli gue! Iya.. iya...”
”Hahahahahaha... Ntar kalo anak lu cakep, kita besanan! Hahahahaha...”
”Alah! Banyak ngomong lu! Bikin aja dulu anaknya! Hahahahaha...”

-bersambung-

Tuesday, February 9, 2010

Bercerita bersama sore - enam belas

Mas, salah satu personil senyawa kimia, emas. Ada itu nama ilmiahnya, tapi aku lupa! Karena pelajaran kimia, aku tak suka. Ini senyawa idola ibu-ibu, Sore. Suka sekali mereka memakai perhiasan berlapisnya. Bisa memicu rasa percaya diri rumornya. Tak percaya? Tanyakan lah pada mereka.

Mas, panggilan untuk laki-laki dalam bahasa Jawa. Contoh, Sore jika dipanggil oleh orang Jawa jadi Mas Sore. ”Halo Mas Sore! Apa kabar?” Begitu. Kalau perempuan jadi Mbak. ”Halo Mbak Sore. Sudah pulang?” Begitu. Terserah kamu, maunya Mas atau Mbak? Hahaha.. Kalau aku sih bebas saja. Dipanggil Mas Dega juga tak apa.

Mas, dari Dimas. Kalau sudah akrab, kita potong nama teman jadi satu suku kata saja, biar singkat, biar tambah akrab. Contoh, ”Hai, Sor! Kemana saja kamu?” atau, ”Deg, sudah makan belum?” Begitu. Dimas, temanku di kampus, belajar seni rupa dia. Apapun rupa-rupa merupa dan berupa. Kenapa seni rupa? Entah. Aku tak tahu, atau tahu tapi aku lupa. Tapi sepertinya karena dia suka. Iya, suka. Hmmm... terlihat itu kalau dia suka, terasa.

Tubuhnya kecil, pendek maksudku, tidak gemuk, tidak kurus, rambutnya tidak kerinting, juga lurus, wajahnya, bagaimana ya? Kalau kata Anast, temanku, mirip Jay Chou! Siapa itu? Aku juga tahu dari Anast, sepertinya tak ada lagi yang tahu Jay Chou di sini selain dia! Haha.. Si Jay ini penyanyi asal Taiwan yang katanya, kata Anast maksudku, jago main piano, kaya ayam.


Suka memakai kaos berukuran pas di badan, untung bukan berbahan kulit, bisa menyaingi roker sembilan puluhan nanti! Jins panjang menyangkut di pinggul yang seringkali melorot karena tak ada pengganjal, juga sepatu kets kumal. Kalau tas, aku lupa! Sepertinya tas ransel. Suka memakai gelang-gelang kayu kadang berbahan lain yang jelas bukan emas. Dimas tak suka emas, berima!

Dengan kata lain, tidak eye catching si Dimas ini dibandingkan dengan anak-anak seni rupa lain, kebanyakan. Aku tak ingat pernah melihatnya, tak pernah menyadari kehadirannya sampai itu, hari itu, Yeyen salah seorang temanku memanggil sambil mengintip di balik pintu gedung E, tempat kuliah kami, ”Itu Gul! Yang itu orangnya, ketua BEMJ SR. Inget kan loe?” Tentu saja tidak, aku malah merasa itu kali pertama aku melihatnya. ”Gak inget. Terus loe udah kenalan belom?” Karena menurutku kalau naksir, ya minimal mesti kenalan donk! Kalau kenal saja tidak, cinta platonik namanya! Haha.. ”Udah, tapi belom ngobrol banyak. Tar sore loe temenin gw ya! Kita ngobrol di sini, di pintu ini, oke?” Apa sih yang tidak buat temanku, Sore? ”Oke!”

Ada kau itu Sore, sekitar jam empat, di sekitar gedung E dan F, menghadap pendopo. Kau ingat tidak? Ada aku, Yeyen dan Dimas di sana, mengobrol yang aku lupa tentang apa. Yang masih melekat, itu hanya obrolan biasa. Sampai tiba saatnya pulang, sekitar jam lima, Dimas mengantar aku dan Yeyen ke gerbang untuk menunggu bis. Aku naik bis lebih dulu karena bis Yeyen lewat di kala dia ingin saja. Hehe..

Hari-hari berikutnya aku tak ingat lagi, tak tahu lagi bagaimana perkembangan Yeyen dan Dimasnya. Yang kuingat, setiap jam pergantian perkuliahan aku jadi ikut-ikutan mengintip ke arah gedung sebelah mencari si Dimas itu, entah untuk apa, dan hampir selalu dia menangkap basah mataku kala mencarinya. Mata sungguh berdaya luar biasa.

Jadilah terulang kejadian itu, Sore. Kau, aku, Dimas, selanjutnya tanpa Yeyen, mengobrol di pintu gedung. Berlanjut hingga menunggu bis, setiap hari. Pulang. Kami tetap mengobrol, tentang apa saja. Dimas menceritakan banyak hal yang tidak ku ketahui. Dan ku suka. Dimas mengajak ku melakukan banyak hal yang tak pernah ku lakukan. Dan ku suka. Dimas menelponku berjam-jam hampir setiap malam. Dan ku suka. Dimas membuatkanku barang yang tak ada lagi duplikatnya, haute couture. Dan ku suka. Dimas membelikanku harmonika. Dan ku suka.

”Yen, loe marah gak kalo gw suka sama Dimas?” kaget dia. ”Heh? Serius loe? Haha.. ya gak papa lah.. Loe beneran suka sama dia?” Untung senyumnya Yeyen tulus, jadi kubatalkan saja niat untuk merasa bersalah. Tulus memang salah satu harta karun yang dimiliki seorang sahabat. ”Iya nih kayaknya,” pasti wajahku merah waktu itu, muka si Yeyen yang mengatakannya. ”Haha! Terus udah sampai mana?” Kuceritakan saja semuanya, bahwa aku dan Dimas seringkali bersama. Merestui dia. Fyuuhh...

Sore itu aku dan Dian, temanku yang lain, baru saja selesai sholat di sebuah masjid besar dekat kampus. Sedang berjalan kami di lorong, hendak pulang, kala handphone ku berkring. Dari Dimas, ternyata. Bertanya apakah aku mau jadi pacarnya, ku jawab mau, dengan semangat. Tertawa dia, geli sekali. Kenapa dia tertawa? Aku kan serius. Bwahahahaha.. ada tawa lain. ”Dian! Ngapain loe duduk di ubin gitu?” Kenapa tuh anak sama gelinya? ”Hahahaha.. sorry Gul! Gak tahan gw. Mana ada cewek jawab gitu? Hahahahaha.." Apa yang salah sih?

”Dimas, kenapa malah ketawa? Gw serius loh..” Ini orang dua tetap saja sibuk tertawa, menyebalkan. ”Iya, iya, maaf. Gw tahu loe serius, Cuma gw gak pernah denger cewek jawab selugas itu. Hihi! Maaf ya.. Dega lagi dimana?” Oh, gitu aja alasannya, kirain apa. ”Mau ke halte sama Dian,” jawabku lugas, seperti biasa. ”Oh, tunggu ya! Gw kesana sekarang.”

Entah butuh waktu berapa lama untuk membungkam tawa Dian. Dimas, sempat ikut tertawa lagi dia, tapi berhasil dihentikan karena tak tega melihat wajahku, nampaknya. Dan jadilah! Kami berpacaran; mengobrol di kampus, nonton di bioskop, melukis bersama di museum, mural di tembok gedung F, menonton acara kampus, bertelepon hingga malam, juga diantar pulang sampai depan gang.

Iya, depan gang juga sudah terlalu dekat. Kalau ketahuan orang rumah, bisa mati aku, Sore! Kala itu, pacaran adalah kegiatan terlarang. Jadi harus diam-diam. Setahu orang rumah, kami hanya suka-sukaan saja, jadi tak mengapa. Dimas kujelaskan keadaannya, bisa menerima dia, katanya.

Tujuh bulan setidaknya kami bersama, berpasangan. Aku suka. Tidak dengan Dimas. Bosan dia, mengobrol hanya di kampus, menelpon berjam-jam kenapa tidak bertemu saja, mengantar hanya sampai gang padahal mau main ke rumah bertemu semuanya, pergi ke bioskop memanfaatkan kesempatan bolos kuliah padahal pasangan lain menghabiskan malam Minggu bersama, aku sakit tak bisa menjenguk dia.

Selesai. Akhirnya kami selesai. Bukan dia yang mengakhiri, punya berlipat kesabaran Dimas itu. Baik. Kami menyudahi semuanya baik-baik. Pria yang baik, sangat baik. Aku suka kebersamaan kami berdua.

”Masa sih loe gak tahu? Gak sadar gitu?”
”Kan, gw bilang apa, Gul! Loe gak percaya sih..”
”Gw sering ngeliat mereka berduaan, tahu..”
”Ih, mereka selalu sama-sama. Sabtu aja pasti ke kampus!”
”Emangnya temen-temen loe gak cerita? Mereka pasti tahu deh!”
”Nggak! Gak mungkin baru-baru ini. Semua orang juga tahu kalo mereka pacaran sebelum loe putus!”
”Ya ampun, loe kenal ceweknya. Anak jurusan kita juga!”
”Ngapain loe sedih. Tuh cewek gak ada apa-apanya sama loe!”
”Udah Gul, bajingan pantesnya dapet cewek kaya gitu. Gak usah diambil pusing ya!”

Yang seperti itu jadi makananku di bulan berikutnya. Suara-suara dari orang terdekat hingga yang baru kukenal. Terkejut, iya. Mendapati fakta seperti di sinetron saja. Ternyata beneran ada, ya?

Tidak, aku tidak sedih. Kecewa juga. Percaya kau, Sore? Harus percaya karena memang begitu adanya. Aku tak turut berbahagia untuk mereka, tak juga bersedih karenanya. Aku, baik-baik saja.

Kisah cinta. Iya kan? Biar begitu juga ini tetap kisah cinta. Bagaimanapun cerita dan akhirnya, tapi tetap, pernah membuatku bahagia. Terima kasih kisah cintaku, terima kasih, Dimas. Terima kasih juga, Sore.

-bersambung-

sumber foto : http://images.google.co.id/imglanding?q=jay%20chou&imgurl=http://backstage.blogs.com

Tuesday, February 2, 2010

Bercerita bersama sore - lima belas

Ku takut Pierreku marah
Ku taku Michelleku marah
Ku takut mereka marah
Karena terlambat datangnya
Lupa bawa ini
Lupa bawa itu
Addduuuuhhh... MARAH-MARAH!!


Bwahahahaha.. Jadi malu! Sejak kapan kau di situ, Sore?
Lagu apa ini? Lagu keren!
Masih ada lagi, duduk saja yang manis di situ.
Lihat ku bernyanyi dan menari seksi.

Jurusan Prancis
Emang paling necis
Anaknya manis-manis
Cikicikibumbum Cikicikibumbum
Cikicikicik bum bum!


Gimana, seksi kan gayanya?
Ada lagi!

Entelemi lemipatol lapitol latoltil taltiltultiltul
Lalalalalalala lalalalalala
Lalalalalalala lalalalala
Terereret bem bem!


Huahahahaha... Ini juga seksi tahuuuu...
Karangan siapa? Entah.
Yang jelas itu lagu-lagu sepertinya tidak akan hilang dari memoriku.

Kudapat sembilan tahun lalu, dua ribu satu. Diajari paksa, iya, memang dipaksa. Kalau tidak dipaksa pasti aku tidak akan menghafal nyanyian dan gerakannya sepenuh hati. Bahkan hatiku pun ikut-ikutan merasa terpaksa. Hahaha..

Yang mengajari ya senior-senior itu, di jurusan bahasa Prancis kampusku. Silau aku melihat mereka kali pertama, terlihat keren dan dewasa dengan jaket almamater yang membedakan mahasiswa dengan hanya siswa. Bercelana jins, kaos dan sepatu kets. Impianku! Setelah dua belas tahun berseragam, muak rasanya.

Ada Kak Diana, Donna, Heston, Yeni, Yuli, Norman, Meiji, Dodi, Mira, Teguh, Dendi, Meri, Mona, Ari, Andez, dan masih banyak lagi, sampai susah diingat lagi. Puuufff...

Mereka ini yang ”memaksa” kami bernyanyi, menari, ”berseragam”, serta menyiapkan banyak hal yang katanya, ”Kegiatan ini untuk mengenal suasana dan kegiatan di kampus terutama di jurusan kita, kita semua harus bersenang-senang selama tiga hari ini, oke! Kalian semua sama, mahasiswa baru, tak ada yang beda. Jadi mulai dari pakaian, perlengkapan hingga makan siang, semuanya sama. Karena kita di sini sama dan sama-sama,” begitu kurang lebihnya, persisnya sih aku sudah lupa.

Jadilah itu, andai kau lihat, Sore. Kami, sekitar tiga puluh lima mahasiswa baru bahasa Prancis mengenakan kemeja putih, rok bagi wanita dan celana untuk pria warna hitam, sepatu hitam, tas slempang dari plastik kresek hitam, para wanita berkepang dua rambutnya, dipercantik pita biru putih merah, bendera Prancis, ditambah topi kerucut bak penyihir warna pink dengan rumbai pita warna yang sama berkibar di ujungnya, selempang bak putri Indonesia bertuliskan tempat tinggal kami dan bis yang mengantar kami dari sana sampai kampus, kacamata hitam bertema dua ribu satu yang artinya ada angka dua di sisi kanan kacamata kami dan angka satu di kiri kami, dan tak lupa, botol minum ukuran satu liter yang sudah dibubuhi cap RT masing-masing.

Bagaimana, benar-benar necis seperti di lagu, bukan, Sore?
Oh, menu makan siang sehat kami. Mungkin bisa kau tiru, Sore.

Di hari pertama kami harus membawa; tempe Prancis yang artinya kau bentuk itu tempe seperti bentuk negara Prancis, heksagonal. Lalu ikan teri yang semuanya harus menghadap ke kanan, kau pernah menyadari kalau teri semuanya memang menghadap ke kanan? Dan untuk sayurnya kacang panjang kepang, benar, kami kepang itu kacang panjang. Bahkan aku tak ingat kapan terakhir kali aku mengepang rambutku.

Hahahaha.. Jangan ketawa geli begitu. Itu belum apa-apa!
Di hari kedua; Ada nasi goreng tanpa kecap, telur mata sapi jereng, terbayang tidak bagaimana membuatnya? dan timun isi wortel, ya mau bagaimana lagi? Kami masukkan itu wortel ke dalam timun. Menu hari ketiga; Sayur toge maritim yang artinya pakai ikan teri dan berkuah, telur, terigu, wortel dan tauge yang ini nyaris kubawa bahannya semua dan untung saja salah seorang di rumahku berkata, ”Ini kan bahan-bahan buat bakwan!” Aha! Terjawab, seniorku sayang! Walau ada beberapa temanku yang membawa semua bahan tadi, dan terbelalak saat para senior meminta mereka memakannya. Hahahaha... Oh, di hari terakhir ada dessert, cokelat Prancis. Aku bawa itu cokelat yang kubungkus karton warna bendera Prancis, dan ternyata salah. Yang benar, cokelat ayam, sesuai dengan lambang klub bola Prancis. Yey! Mana aku tahu?

Iya begitu itu kelakuan senior-seniorku selama MPA; Masa Pengenalan Akademis. Tapi mereka memenuhi janjinya, Sore. Kami bersenang-senang, senang sekali. Juga belajar banyak tentang kehidupan di kampus dan trik-trik belajar di jurusan. Pernah itu setahun dan dua tahun sesudahnya kami berkata pada mereka, senior, ”Kak, kita mau donk MPA lagi!” Membelalak mereka, lalu tertawa bersama, ”Bwahahaha.. Mana ada orang mau diMPA lagi? Hahahahhaha...”

Mereka semua tertawa. Padahal, Sore. Kami semua serius, seserius-seriusnya.
Kau tanya saja itu pada teman-teman seangkatanku yang lain.

Iya kan Dian, Anast, Yeyen, Dewi, Baiq, Karin, Sakti, Oskar, Ari, Ika, Eha, Ai, Yusnia, Sophie, Riri, Rini, Sukma, Halid, Putri, Lyta, Anty, Kiki, Umay, Britney, Mela, Heni, Indri?
Oh, bisa juga tanya teman-teman yang walau tak bersama hingga akhir tapi ikut MPA, Laras, Icha, Mustika, Angel, bagaimana dengan kalian?

-bersambung-

*Merci pour Anast et Dian qui se sont réveillées très tôt du matin pour m’aider à mémoriser tous! ^^V Vous avez une mémoire d’éléphant, gals!

Sunday, January 31, 2010

Bercerita bersama sore – empat belas

Dega fait des dégâts” itu contoh kalimat favoritnya. Pasti teman-teman sekelas tertawa geli mendengarnya. Artinya? Tak mau ah! Kau cari saja sendiri. Jangan memaksa, Sore! Tidak bagus itu, artinya. Kau cari tahu sendiri saja, oke?

Hihi.. Biarin! Memang aku guru tak bertanggung jawab, khusus untuk kasus ini saja, ya! Haha! Magali, namanya Magali. Guru native pertamaku di kampus, mengajar rédaction, menulis. Perempuan, Sore! Itu kan nama perempuan. Usianya aku tak tahu. Kisaran berapa? Itu juga ku tak tahu. Haha, memang aku tak pandai mengisar usia kok. Lagipula bukan itu yang mau kuceritakan.

Begini, Magali ini ku suka gayanya. Dengan celana panjang model lebar di bawah, apa ya nama modelnya? Dipadukan dengan kemeja dan cepolan tambut ikalnya, sungguh ku suka. Bukan itu saja, juga cara mengajarnya. Jelas dan mudah dimengerti. Selain mengajarkan menulis, Magali juga suka mengajak kami berdiskusi, tentang fenomena sosial yang diangkatnya dari artikel Prancis yang kemudian kami hubungkan dan bandingkan dengan keadaan di Indonesia.

La peine de mort atau la peine capitale, hukuman mati. Salah satu tema yang kami bahas seru di kelas. Masih terasa antusiasme orang-orang di kelas hari itu. Magali membawa artikel tentang negara-negara Eropa, termasuk Prancis yang sudah menghapus hukuman mati sejak bertahun-tahun lamanya. Di artikel itu tertulis bahwa semua orang memiliki hak untuk hidup dan kita sebagai manusia tidak memiliki hak atas nyawa orang lain. Kita tak boleh membunuh, mengapa kita akhirnya melegalkan pembunuhan, begitulah kira-kira isi artikelnya.

Pembahasan artikel melebar saat Magali menanyakan pendapat kami tentang hukuman mati, ada yang setuju dan tentu saja ada yang menentang. Kami pun memaparkan alasan sikap kami tersebut, dan bagi yang mendukung, diminta juga untuk menjelaskan kejahatan apakah yang pantas mendapat hukuman mati.

Aku, suka sekali berdiskusi, Sore. Suka sekali. Terutama tentang manusia dan kehidupannya. Siang itu Magali mempertanyakan kepasifanku di kelas, tak seperti biasa, ujarnya. Wahai Magali, dosenku, maaf kala itu tak bersuaraku. Kini untukmu, hanya untukmu, kusampaikan pendapatku.

Ku sependapat dengan orang-orang Eropa bahwa manusia tak berhak pada nyawa manusia lainnya. Hanya Tuhan yang punya kuasa, Sang Peniup Nyawa. Tapi Magali, ada satu kejahatan yang tak termaafkan untukku, kejahatan yang sekiranya untuk menghentikannya perlu lah diterapkan itu hukuman mati. Karena kejahatan yang satu ini tak kunjung habis siksaannya, tak berujung dan terus menyebarkan kejahatannya. Pengedar narkoba.

Perlu lah menghukum mati mereka semua. Karena kejahatan yang tak terlihat langsung kejahatannya ini tak tanggung-tanggung menyebar siksanya. Lihatlah negaraku ini sekarang, Magali. Lihatlah! Betapa berbahagianya para pengedar narkoba itu, yang masih bernafas di atas siksa para korbannya. Pemakai, ibunya, ayahnya, kakak dan adiknya, istri, suami dan anak-anaknya, tetangganya, teman-temannya, sahabatnya, gurunya, rekan kerjanya, presidennya, bangsanya.

Kau setuju dengan ku kah, Magali? Maaf harus ku tunda sekian lama untuk membaginya, maaf. Semoga kau tak lagi kecewa padaku setelah ini, bukannya ku tak ingin menyampaikannya padamu sedari dulu, hanya saja suaraku tersedak kala itu, tersangkut di kerongkongan, tak kunjung keluar. Kulupa bahwa kau ajarkan ku menulis, kini menulis ku untukmu, Magali.

Aurélie, guru nativeku yang kedua. Mengajar kelas lanjutan Magali. Imut, satu kata yang tepat untuk menggambarkannya. Dengan rambut pendek keritingnya, tubuh kecil serta wajah polos nan pintar berkacamata. Volume suaranya di kelas pun jauh berbeda dengan Magali. Berbeda.

Peta, itu yang kuingat darinya. Menemukan fakta bahwa geografi kami tentang Prancis bisa dibilang hampir tidak tahu apa-apa, Aurélie membelokkan materi ke bidang ini, yang sesungguhnya bukan bagiannya. Maka belajar kami tentang Prancis negeri hexagon karena bentuknya yang menyerupai segi lima, kami berjalan-jalan mulai dari lapisan luarnya; pembatas daratan maupun lautan, masuk pula kami ke dalam, menghampiri kota-kota besar, mendaki gunung dan bukitnya, juga berbasah-basahan di sungai indahnya.

Peta oh peta, kini aku paham mengapa Dora sungguh mencintainya. Bukannya aku baru mengenal peta, tapi oh, entah apa yang membuatku sekarang menyukainya, peta. Di mana dunia bercerita, tentang dirinya. Tapi Aurélie, aku tak bisa mengingat semuanya, sepertimu. Kurasa cukup sementara kala ku seringkali tergoda melihatnya, peta dunia, untuk kemudian mendengarnya bercerita.

Ah, kau tahu siapa yang banyak mengajarkanku bercerita, dalam bahasa Prancis, terutama? Madame Amalia namanya, Amalia Saleh. Madame Amal, begitu kami memanggilnya, kalau Saleh nama ayahnya, begitu cerita Madame pada kami di salah satu kelasnya.

Bonjour, je m’appelle Amalia. Et vous, vous vous appellez comment?” Itu kalimat pertama Madame di kelas, Sore. Masya Allah, batinku. Bicara apa, guruku itu ? Terdengar keren, memang, tapi aku tak paham. Dan sepertinya bukan aku saja yang kebingungan, Sore. Maka Madame mengulang kembali kalimatnya, perlahan. Dan voila ! Mengerti aku. Itu Madame bilang kalau namanya Amalia, terus bertanya nama kami siapa. Menjawab kami satu per satu, iya, dalam bahasa Prancis donk, Sore! Berurutan mengikuti jari Madame.

Harus sistematis, itu pesan yang melekat amat rekat di otakku. Pesan Madame. Kalau bercerita, baik lisan maupun tulisan haruslah kubuat kerangka terlebih dahulu. Salah satu cara favoritku adalah dengan mempereteli judul lalu memaparkannya, mengelemnya satu per satu lalu memberi informasi berdasarkan fakta, dan tak lupa, menyimpulkan dengan mengikutsertakan pendapat pribadiku. Sangat penting kata Madame, menyuarakan pendapat kita. Untuk menunjukkan pada orang, juri saat ujian, bahwa kita ikut serta di cerita dunia, kita melihat, mendengar juga ikut merasa. Setuju atau tidak setuju kita punya alasan, yang kita cipta sendiri, bukan ikut-ikutan.

Jangan ragu untuk menutup dengan saran atau masukan, tak perlu takut menyampaikan hanya karena juri atau siapapun yang mendengar tak bisa membantu kita, tak perlu. Dengan bersuara saja, kita sudah mengeluarkan diri kita dari kumpulan orang-orang yang tak berbuat apa-apa untuk dunia ini, begitu. Dan kau tahu, Sore. Sejak itulah, di kelas Madame Amalia, kusuka berbicara, bercerita. Tak ragu ku menatap dunia, mengikuti perjalanannya, dan tentu saja untuk kemudian kutangkap dan kumaknai. Yang kini kuceritakan juga padamu, Sore. Semoga kau suka, ya!

Membaca? Kalau itu di kelas yang lain, Sore. Madame Mardiani pemiliknya, pencinta karya sastra. Itu yang kami pelajari di kelasnya, sastra Prancis, mulai dari Gargantua hingga l’Oeuvre au noir. Di kelas Madame kupahami cerita Sartre, kutahu kisah hidup Simone de Beauvoir, terbuai ku oleh indahnya puisi-puisi Apollinaire, menangis bersama Paul Verlaine, dan akhirnya bertemu ku dengan ”teman” satu dunia, Saint Exupery.

Oh, Madame! Betapa ku haus akan membaca. Masih lekat di ingatanku le travail de syntagmatique et paradigmatique. ”Jangan lupa! Setiap menyelesaikan satu buku, bedah bukunya ya!” ”Oui, Madame,” begitu jawabku dalam hati. Tapi sekeluarnya ku dari kelas Madame, belum pernah kumulai lagi tâche itu. Nanti Madame, nanti, suatu hari nanti. Haha! Mudah-mudahan tidak hanya sekedar janji.

Iya, benar. Kini kau tahu di mana ku mengasah ini semua, bukan? Benar sekali, Sore. Menulis, berpetualang mencari cerita bersama peta, berbicara, berdiskusi, membaca.

Bagaimana caraku berterima kasih pada mereka, Sore?
Benar, ku juga berpikir seperti itu. Kau sependapat, ternyata.
Baiklah. Senang rasanya mendapat ”iya”, terutama darimu.

Aku, akan terus menulis, bercerita.
Berjalan-jalan menyusuri tempat-tempat baru, mempelajari cerita dunia.
Berbicara, mengeluarkan pendapat, berdiskusi tentangnya.
Membaca dan membaca, karena sebelum keluar melalui pintu, aku butuh itu jendela dunia, untuk mengintip, menatapnya, ’tuk kemudian mendapatkan cerita langsung darinya, dari dunia.

Chères Mesdames, rien ne peut décrire mon grand merci.
Mais voilà, mes écritures, mes histoires.
La preuve de la continuité du travail que vous m’avez donné.
La continuité qui s’arrêtera à la fin de ma vie.


-bersambung-

Friday, January 22, 2010

Bercerita bersama sore - tiga belas

Ang, de, trowa. Ayo lagi! Ih, memang begitu bacanya, tahu! Beneran, Sore! Jangan tertawa terus, dong! Serius. Harus serius kita belajarnya. Itu tulisannya; un, deux, trois. Tapi bukan begitu cara bacanya. Ya seperti yang kuajarkan tadi, ang, de, trowa.

Hahaha.. Kenapa jadi geli sendiri? Tadi siapa yang bilang mau belajar? Kuajari malah ketawa-ketawa sendiri. Tak percaya ya aku pernah jadi ibu guru? Cukup lama, dari tingkat dua, semester tiga waktu aku kuliah.

Muti, murid pertamaku namanya Muti. Belajar bahasa Prancis karena permintaan mamanya. Muti pasti sudah besar sekarang, sudah kuliah. Dulu masih SMP ia, walau badannya seperti anak SMA, tinggi. Lebih tinggi dariku, yang jelas. Setiap ku datang dan pulang, Muti akan mencium tanganku. Ini kali pertama aku punya murid, Sore! Kali pertama juga tanganku dicium penuh hormat. Ternyata begitu ya rasanya? Tak heran guru adalah profesi yang membahagiakan. Muti harus membungkukkan badannya saat mencium tanganku, ya karena itu, karena tubuhnya terlalu tinggi. Hihi..

Espace 1, itu buku yang kugunakan untuk belajar bersama Muti. Buku yang juga kugunakan kala belajar di kampus. Muti belajar dari dasar, sepertiku juga, seperti kau juga. Ang, de, trowa. Haha! Pintar sekali Muti ini, Sore. Di pertemuan pertama saja, materi yang kusiapkan habis dalam waktu satu jam. Jadilah setengah jam berikutnya kami belajar materi baru tanpa persiapan terlebih dahulu. Sudah, satu jam pertama sudah termasuk pengulangan dan latihan. Memang tak biasa, Muti ini.

Aku juga tak biasa, tak biasa mengajar. Tapi SAP yang aku buat sudah kukonsultasikan dengan Kak Meiji, senior kesayanganku di kampus. Apa? SAP? Oh, Satuan Acara Pengajaran, isinya rencana pengajaran yang disiapkan guru per pertemuan. Kusampaikan kecepatan Muti ke Kak Meiji, dan dia bilang memang kadang ada murid yang cepat sekali menangkap pelajaran dan Muti salah satunya. Jadi, mulai pertemuan selanjutnya kutambah materi khusus untuk Muti.

Aku dan Muti belajar bersama setiap Sabtu pagi, jam tujuh di rumah Muti. Awalnya Imam ikut serta, Imam itu adiknya Muti. Tapi karena Imam harus belajar bahasa Indonesia pada jam yang sama, dan bahasa Indonesia lebih mendesak sifatnya, terpaksa dia meninggalkan kelas kami. Rumah kami berdekatan, itu salah satu alasan aku mau mengambil kesempatan mengajar ini, selain ingin terjun langsung ke dunia pengajaran, setelah di kampus aku banyak dicekoki dengan teori-teori pengajaran. Dengan dorongan semangat dari Kak Meiji, aku akhirnya berhasil mengalahkan ketidakpercayaandiriku untuk mengajar. Terima Kasih Kak Meiji.

Aku lupa berapa lama aku dan Muti belajar bersama, tapi cukup lama. Setahun lebih, kukira. Diakhiri karena Muti tak ada waktu lagi, kewalahan setelah terlalu banyak kegiatan. Sudah kelas tiga SMP dia, ikut ekskul juga, ditambah bimbingan belajar di mana-mana. Tapi aku tetap sering bertemu Muti, di sekolahnya. Sekolah yang letaknya satu komplek dengan kampusku. Bagaimana kabarmu sekarang, Muti?

Murid kedua, Tante Yani, tantenya Putri. Putri itu sahabatku dari SMA. Tante Yani akan bertuga ke luar negeri, ke Niger katanya. Jadi butuh kursus bahasa Prancis singkat sebelum pergi ke sana. Tante Yani bekerja untuk Departemen Luar Negeri, yang waktu itu terdengar keren sekali karena bisa sering jalan-jalan ke luar negeri, begitu saja pikirku. Setelah berhubungan lewat telepon akhirnya disepakati bahwa kami akan belajar dua kali dalam seminggu, tiap sore hari, sepulang Tante Yani bekerja.

Belajar kami di salah satu kamar di rumah Putri, lagi-lagi berbekal buku Espace dan kumpulan kata-kata yang sudah kususun berdasar tema. Teknik mengajar pun berbeda dengan Muti, karena kata Kak Meiji, Tante Yani harus langsung praktek mendengar dan berbicara. Pragmatis. Berkenalan, berhitung, bertanya dan menjelaskan arah, berbelanja, memasak, percakapan singkat di bandara, kantor polisi, imigrasi, juga hotel. Satu bulan kami punya, delapan kali pertemuan.

Tahu tidak? Tante Yani tak kalah dengan Muti, cepat sekali! Cepat sekali daya tangkapnya. Belajar kami, berlatih menulis, membaca serta bercakap-cakap. Taraaa!! Di pertemuan terakhir, ajaibnya, aku yakin Tante Yani siap menjalankan tugasnya, dengan bahasa Prancis sederhana yang sudah dikuasainya. Tante Yani, memang pintar sekali. Lagi-lagi kuceritakan pada Kak Meiji.

Selanjutnya mengajar ku di sekolah, Sore. SMIP, Sekolah Menengah Ilmu Pariwisata, dalam rangka Praktek Pengalaman Lapangan atau PPL. Ini salah satu syarat kelulusan, dan harus di lakukan di semester ke sembilan. Jadi begini, Sore. Dosen kami menempel daftar sekolah-sekolah yang bersedia bekerjasama di mading. Jumlah mahasiswa yang ditampung di tiap sekolah berbeda-beda. Nah kami, mahasiswa, berebut mencantumkan nama di sekolah pilihan. Biasanya yang terdekat dari rumah, karena seperti kau tahu, Sore, sekolah dimulai pada pukul tujuh, itu berarti kami harus sampai sebelum itu, pagi sekali.

Aku memilih SMIP Paramitha, letaknya dekat rumah, hanya setengah jam untuk ke sana. Naik angkot sekali, bayar dua ribu. Berlima kami di sana, aku, Dian, Anast, Dewi dan Putri. Setelah sebelumnya menyiapkan baju-baju khas ibu guru, kami datang ke sekolah diantar oleh Monsieur Nuryadin, itu bapak dalam bahasa Prancis, dosen pembimbing kami. Tugasnya memantau kegiatan kami selama tiga bulan di sana. Ada juga guru pamong, Monsieur Aji, yang dulunya mahasiswa di kampus kami juga. Mereka berdua yang akan menilai kelebihan dan kekurangan kami dalam mengajar dan bekerja sama di sekolah, bukan hanya dengan murid-murid saja, tapi dengan guru-guru dan staf sekolah. Nilai yang menentukan apakah kami lulus PPL atau tidak, dan juga secara tidak langsung menentukan apakah kami dapat memulai menyusun skripsi kami atau tidak. Karena kalau belum lulus PPL, kami tidak boleh secara resmi menyusun skripsi. Skripsi itu tugas akhir perkuliahan, Sore. Nanti kuceritakan lebih lengkap ya..

Sekolah ini cukup besar, Sore. Posisinya sangat strategis untuk tempat belajar, mudah dicapai karena dekat jalan raya yang dilewati banyak angkutan umum, dan juga terletak di pojok, diapit bangunan-bangunan bertembok tinggi, hingga hanya ada satu pintu masuk yang membantu mengontrol lalu lalang murid. Suasananya juga sepi, tidak berisik. Ada dua bangunan di sana, yang besar terletak di depan tempat kelas-kelas nasional, kami menyebutnya. Bangunan kedua agak ke dalam, lebih kecil, tempat kelas internasional, restoran dan staf yayasan. Keduanya bertingkat. Oh iya, di belakang gedung besar ada deretan kantin.

Kelas nasional dan internasional mempelajari materi yang sama, bedanya hanya pada bahasa pengantarnya saja. Benar, di kelas nasional berbahasa Indonesia, internasional bahasa Inggris. Empat temanku mengajar di gedung pertama, aku di gedung kedua, sendiri. Guru pamong kami melepas kelas internasionalnya selama tiga bulan dan berkonsentrasi penuh bersama keempat temanku di kelas nasional. Jadilah aku sendiri, Sore, di gedung yang satu lagi. Guru pamong yang menentukan aku supaya mengajar empat kelas, tiga kelas dua, dan satu kelas tiga.

Tidak hanya mengajar bahasa Prancis, kami juga harus piket. Duduk di satu meja seharian, mendata siswa yang absen serta menerima tamu-tamu. Hari-hari di sana hampir selalu menyenangkan dengan segala ceritanya. Bagian terbaik selain kala mengajar adalah saat makan siang. Berkumpul kami semua di restoran, guru-guru, menikmati makan siang yang menu dan rasanya selalu enak. Makan siang disediakan oleh yayasan, dimasak oleh staf sekolah setiap harinya.

Menu favoritku; sayur santan daun singkong, ikan asin yang ku tak tahu namanya, tahu goreng dan kerupuk udang. Waaa... jadi terbayang-bayang, Sore! Oh iya, seragam di sekolah ini bagus-bagus, baik desain maupun warnanya, unik. Jadi ketika kami ikut lomba Pekan Bahasa Prancis tingkat SMA murid-murid kami cukup mencolok, karena seragam mereka yang cantik itu.

La Semaine Française, itu namanya. Pekan Bahasa Prancis, artinya. Saat di mana jurusan bahasa Prancis di kampusku, ada acara pemutaran film, seminar dan lomba-lomba untuk murid SMA. Sekolah kami mengikuti empat lomba, vocal group, nyanyi solo, story telling dan cerdas cermat.

Je lui dirai, lagu yang dinyanyikan Celine Dion, itu lagu yang kami pilih untuk lomba vocal group. Temanku Dian yang melatih para siswa yang jumlahnya kalau tidak salah sepuluh orang, ditambah dua orang yang mengiringi dengan gitar. Aku dan Anast membantu dengan menjadi pengarah gaya. Haha! Kau tahu ada berapa peserta yang mengikuti lomba ini, Sore? Tak terhitung. Haha! Berlebihan. Sepertinya sampai dua puluh sekolah. Sekolah kami dapat nomor urut hampir belakang, jadi murid-murid ada yang sudah bosan, ada yang tak bersemangat karena tidak percaya diri setelah menonton peserta lain seharian, ada yang semangat sekali karena yakin bisa menang.

Dan kami, para guru PPL, mencuci otak mereka sebelum naik ke panggung. Kami katakan, ”Kalian itu bukan peserta, tapi bintang tamu! Kenapa harus deg-degan?” Lalu ada yang menyeletuk, ”Kok bintang tamu, Mademoiselle?” Aku jawab saja, ”Ya iya lah, wong kalian jauh lebih bagus daripada peserta yang lainnya. Masa mau dibandingin?” Hahahaha... Yang lain juga tertawa, Sore. Lalu mereka jadi bersemangat dan penuh percaya diri, berlebih malah.

Akhirnya, di sana mereka, dua belas anak didik kami, bernyanyi setelah satu bulan berlatih. Bernyanyi mereka dan berimprovisasi. Berteriak kami, aku tepatnya, dari bawah. Tak tahan melihat mereka, senangnya. Bernyanyi mereka dan bernyanyi sampai para juri terkesima dan tersenyum setelah sedari tadi tampak kebosanan oleh penampilan peserta lain yang semuanya hampir sama, tak berani beda.

Lomba selanjutnya, nyanyi solo. Aku tidak bisa bercerita banyak, Sore. Karena untuk lomba ini aku tak banyak terlibat. Lagi-lagi temanku Dian yang melatih murid kami ini. Kelas satu, wanita, bersuara tipis dan lumayan tinggi. Aku lupa namanya. Kudengar beberapa kali suaranya menyanyikan le vol d’un ange, cantik sekali. Tapi sayang, ketika lomba, musik pengiringnya kacau, jadi merusak penampilan anak kami ini.

Story telling, lomba yang ini tanggung jawabku. Siswa kelas tiga, wanita juga. Bersemangat ku bercerita tentang Cinderella, Cendrillon bahasa Prancisnya. Bercerita ku dalam bahasa Prancis, tentang kisah salah satu gadis favoritku ini. Ku ceritakan kembali padanya, pada murid yang satu ini. Berjanji kami untuk berlatih, setiap pulang sekolah. Tapi dasar kurang motivasi, tidak muncul dia setiap hari. Jadilah aku ikut melatih cerdas cermat bersama teman-teman yang lain.

Cerdas cermat, pesertanya dua murid laki-laki, satu perempuan, kelas tiga semua. Berlatih kami setiap hari, bersemangat luar biasa mereka. Aku dan Anast senang sekali mengadu mereka. Haha! Iya, seperti ayam saja. Niat kami adalah agar ketiganya sigap dan terbiasa memencet bel, kami tak suka pada pembagian tugas memencet bel. Memangnya kenapa kalau dalam satu grup ketiganya memencet bel? Bukankah itu bertanda ketiganya tahu jawabannya, dan pasti kami sebagai guru mereka bangga melihatnya. Haha!

Benar saja, terjadi itu, Sore. Kala peserta cerdas cermat lain terlihat rapih dan tenang ketika lomba, anak-anak kami rusuh sekali karena mereka berebut memencet bel yang hanya ada satu itu. Haha! Benar-benar menyenangkan melihatnya! Aku dan Anast duduk bangga di hadapan mereka, di bawah panggung. Kau harus lihat itu, Sore! Betapa lomba jadi seru karena aksi mereka, yang ricuh dan saling berdebat hampir di setiap soalnya. Tapi ada hasilnya! Karena ketiganya gesit luar biasa, hampir semua soal dialahapnya.

Lolos. Tiga tahap sampai babak final. Itu hari terakhir, menonton kami semua, berlima juga Monsieur Aji, guru pamong kami. Duduk kaku karena tegang, murid-murid lain juga tegang, padahal lomba mereka sudah usai, hanya tinggal tunggu pengumuman saja. Harus tegang karena ketiga anak kami yang di atas panggung panik luar biasa mengikuti babak final ini. Malah lawan mereka dari sekolah-sekolah berprestasi, lagi! Ada juga yang lama tinggal di luar negeri dan berbahasa Prancis. Tapi lagi-lagi kami sudah mencuci otak anak-anak kami hingga mereka kini sudah panik tapi tak sabar berlomba.

Ada tiga babak, konsentrasi penuh. Para penonton tidak ricuh. Aku dan Anast berbisik-bisik pelan setiap mendengar soal, saling memastikan apakah kami sudah memberikan materi ini. Kau harus lihat wajah ketiga juri, Sore! Mendecak kagum mereka melihat murid-murid kami yang, lagi-lagi melahap banyak soal. Membuat peserta lain yang juga pintar-pintar, gusar. Iya betul, mereka lincah sekali memencet bel, selain tahu jawabannya, ya! Hehe..

Cukup jauh skor mereka dengan dua grup lainnya. Dan tentu saja, kami menang telak! Juri pun bertanya kepada mereka, siapa gurunya? Anak-anak menyebutkan nama kami semua, sambil berterima kasih dalam bahasa Prancis. Dan kau tahu, Sore? Aku, Anast, Dian, Dewi dan Putri sibuk menangis. Menangis terharu. Dosen kami, yang juga juri lomba kali itu pun mengucapkan selamat, padahal kan bukan kami ya pesertanya? Hihi..

Acara selanjutnya adalah pengumuman pemenang atas semua lomba yang sudah dilaksanakan dua hari sebelumnya. Duduk kami bersama, murid dan guru. Hingga pembawa acara mulai mengumumkan, ”Juara pertama lomba cerdas cermat, SMIP Paramitha!” ”Yeaaaahhhh!!!” itu kami bersorak bergembira, saling berpelukan. Murid kami yang tiga naik ke atas panggung. ”Juara lomba nyanyi solo, sekolah X!” ”Yeaaahh!!!” kalau yang itu bukan kami yang bersorak gembira. ”Gak pa pa.. Gak pa pa..” spontan kami menenangkan murid kami, si le vol d’un ange. ”Juara lomba story telling, sekolah Y!!!” ”Yeaaahhh!!!” Yang ini juga bukan suara kami. ”Gak pa pa..” Yang lain menghibur anak kami peserta lomba, tapi aku tidak. Karena aku masih kesal padanya, malas latihan. ”Pemenang lomba vocal group, SMIP Paramitha!!!” ”Whaaaattt??? Yeaaahh!!!!” Itu kami, Sore! Itu kami! Kami menang lagi! Juara satu lagi!

Berdiri kami semua, besorak ramai, bergembira, sambil menangis tersedu aku. Bukan hanya aku, Anast, Dewi, Dian, juga Putri, Menangis kami sampai mata bengkak. Menangis terharu. Ternyata begini ya rasanya, pikirku. Bagaimana jika anak kami jadi presiden ya?

Itu mereka, lima belas anak kami di atas panggung. Bersiap menerima piala dan hadiah sambil difoto oleh banyak orang. Tiba-tiba pembawa acara mengumumkan lagi, ”Ada satu pemenang lagi, juara umum, untuk sekolah paling berprestasi. Dan, juara umum untuk La Semain Française tahun ini adalah, SMIP Paramitha!!!” Masya Allah, Sore ! Tidak selesai-selesai kebahagiaanku, kebahagiaan kami. Baru saja kering air mata, mengucur lagi. Tak tahan, aku dan Anast menangis sampai lemas. Sampai sampai salah satu dosenku ikut menenangkan dan berkata, ‘Selamat ya kalian, sukses sekali! Selamat ya!” Aduh, Sore. Luar biasa, itu luar biasa!

Air mata menutupi pandanganku, ketika sudah kering, kulihat itu anak-anak kami juga menangis terharu. ”Merci Mesdemoiselles, merci Monsieur!” ujar mereka dari atas panggung. Tunggu! Biar kuabadikan lagi pemandangan kala itu.

Sepertinya tak satu pun dari kami ingin hari itu berakhir. Tak satu pun. Bahkan Putri, yang susah payah menyetir mobil Carry milik sekolah guna mengangkut kami ke tempat lomba. Tak kepayahan dia, malah tambah ngebut saja pulangnya. Ternyata terlalu semangat bisa membahayakan juga, Sore. Itu, si Putri sampai sering lupa menginjak rem saat melintasi polisi tidur. Jadilah kami terpelanting di dalam mobil. Kami, lima guru dan tujuh belas murid di dalam satu Carry.

-bersambung-