Showing posts with label lintasan terdalam. Show all posts
Showing posts with label lintasan terdalam. Show all posts

Thursday, February 7, 2013

Tips dan trik mengusir energi negatif. Hahahaa..

Berhubung ini adalah isu di awal tahun, maka demi tidak berpasrah diri bergumul di tengah lingkaran energi negatif maka pagi ini di grup chat yang berisi Dian, Anast, Dewi, Karin, Yeyen dan saya, pertanyaan dilontarkan.

Morning question: apa tips dan trik melawan energi negatif? 


  1. Inhale-Exhale (Anast)
  2. Mensyukuri kenikmatan yang gw punya, semuanya, bahkan hal2 yang kadang orang nggak ngeh itu nikmat (Yeyen)
  3. Menggunakan nikmat yang bersifat materi; misal bikin teh, baca buku di kesunyian, dengerin lagu sambil berbaring dan cuma konsen ke lagunya (Yeyen)
  4. Chat with crazy girls (Dega a.k.a Saya)
  5. Nagging ke kalian (Anast)
  6. Dengerin lagu yang jeduk2 dengan volume agak keras sambil mencoba 'cuci otak' dari hal2 yang negatif (Dewi)
  7. Setel musik hip hop or RnB trus joget2 deh! (Yeyen)
 Tips nomor 2, 3 dan 7 akan saya coba hari ini. Sounds nice and fun! How about you all? Have special tips and tricks? Mind if you share? ;)

p.s. Kemana Dian dan Karin? Dian kemungkinan besar sudah di kelas mengajar anak2 muridnya yang cilik2. Karin? Mungkin sudah di dapur hotel menyiapkan sarapan untuk para tamu. Hwaiting gals! ^^V
 

Wednesday, April 25, 2012

Kangen Mbah Uwak


Mbah dan Wak Ani, putri keduanya

Mbah, lagi apa?
Aku baru pulang kerja, hari pertama. Jadi guru lagi, Mbah. Seperti yang Mbah suka. Mbah pengennya cucu Mbah kerja di bidang sosial, jangan cuma ngitung uang aja. Maaf ya Mbah lima tahun kemarin aku murtad jadi ibu guru. Tapi sekarang aku sudah kembali ke jalan yang lurus. Sekarang Mbah bisa mengingatku seperti dulu lagi, saat kita terakhir bertemu, saat aku masih ibu guru. Aku bahagia bisa jadi kebanggan Mbah, jadi penerus Mbah. Terus bangga padaku ya, Mbah.

Mbah, apa kabarnya?
Aku sekarang sudah tidak di Jakarta, sudah menikah, sudah jauh dari keluarga kita. Tapi aku baik-baik saja. Terasa kan, Mbah? Hidupku sudah tidak sedramatis terakhir kali kita jumpa. Tidak. Sudah baik, amat sangat baik. Allah sungguh Maha Baik, Mbah. Terima kasih karena selalu menguatkan doa-doaku, doa-doa kami. Aku bisa tahu? Tentu saja. Terasa.

Mbah, tidak kesepian kan?
Tidak boleh. Karena kita selalu sama-sama. Aku, Mbah, keluarga kita. Aku tidak kesepian lagi, karena Mbah sering mengunjungi. Tunggu aku, tunggu kami, kita semua akan sama-sama lagi nanti. Begitu janji Illahi Robbi.
 
Mbah, bahagia?
Harus. Walau hanya bisa melihat kami dari jauh, walau kami jarang mengunjungi, walau kadang masih ada ribut-ribut kecil antara kami, tapi kami saling menyayangi, Mbah. Sungguh. Mbah paling tahu itu kan? Memang iya, kami sempat jarang bersua. Tapi tidak lagi. Kini kami berkumpul tiap dua bulan sekali. Mbah Konde pun selalu berpartisipasi. Mbah Konde, kami selalu menjaganya, Mbah. Selalu. Silih berganti.

Mbah, kangen?
Aku kangen sekali.

Percakapan panjang selama di rumah sakit terpatri jelas di memori. Tatapan dan sentuhan kulit tipisnya tak bisa kurasa lagi. Tapi kebijakan dan keteguhannya harus terus kuwarisi.

Friday, April 20, 2012

Kutergila, Babar-Nazwa


Begini ya rasanya tergila-gila?

Babar-Nazwa, dua keponakanku tercinta. Mas, begitu Nazwa akan memanggil kakaknya; nanti jika si kecil Nazwa sudah bisa berbicara. Sekarang belum genap satu tahun usianya. Si Mas, baru saja menginjak empat tahun. Juni ini akan masuk TK.

Babar sudah mengerti ulang tahun dan hadiah. Bayangkan bertapa gembiranya si Mas bulan Maret lalu, tanggal dua puluh tiga. Saat sang Ompung datang membawa kue berlilin untuk ditiup setelah bernyanyi bersama, saat Eyang dan tante-tantenya datang membawa berbagai kado yang semua isinya Babar suka. Dan ditutup dengan perayaan makan sushi bersama si kecil Nazwa, Dadad dan Maminya. Aku yang mendengar pun mau berulang tahun jadinya. Haha.

Nazwa, si cantik yang melengkapi koleksi buah hati Aran & Kiki, adikku. Lahir bulan puasa tahun lalu, dengan paras yang remarkable dari hari pertama di dunia. Merah, cantik, menggemaskan. Subhanallah.

Babar-Nazwa, senangnya mengeroyok Dadad mereka. Baru saja motor Dadad diparkir di garasi, teriak mereka “Dadad pulaaanngg!!!” Si Mas yang membentuk ritual ini tak bosan mengulangnya tiap hari. Si kecil yang terlihat tak mengerti dengan apa yang Masnya lakukan belakangan ikut-ikutan melompat dan menyerang si Dadad. “Berani kamu sama aku?” kalimat menantang favorit Dadad yang membuat kedua malaikatnya semakin menggila. Babar dengan lantang memberi instruksi si adik, “Ceyaanngg!!!” 

Dua bulan sudah rasanya aku tak bertemu mereka. Rindu sekali ku dibuatnya. Kerinduan yang menyebabkan aku membuka lagi dan lagi album foto si mami di facebook. Mau ikut tergila-gila bersamaku juga?




Tuesday, October 11, 2011

Mama Pesta, une mere pas comme les autres.


Just by now, I become prouder having a mom, like my mom. I have some reasons exclude the sentimental one:

1. Instead of asking her only daughter, "When will you marry?" she asked, "When will you continue your study?"
2. If other parents in Jakarta are proud having children work in Business District such as Sudirman-Thamrin, that doesn't go with her. This what she told me, "Why don't you re-start to work as a teacher? Working as an employee maybe sounds cool, but you won't upgrading much. Not as much as a teacher does."
3. When my besties worked hard to fulfill their mom's wishes for their wedding party, well I don't. She just gave me some amount, and leave the work to me. See how cool she is!
4. I don't have 'a must and a mustn't' list from her. She only told me to do my thing by my own way.
5. She texted me yesterday, on my bday: "Met Ultah ya, Teh. Semoga panjang umur, sehat selalu dan bertambah disayang kekasihnya. Dan segala rencana yang akan dijalani dapat berjalan dengan lancar. Dan tetap dalam lindungan Allah SWT. Amin." Now you know what I mean?

My mother has surely tamed me. Just like the little prince and the fox.

Monday, September 19, 2011

From cousinhood to neighbourhood

I love the title there!


Do you know why family can tie you no mater how far you go? Cos its blood. Indeed! That's why people say 'blood is thicker than water.' In my experience, no mater how hard we deny our root, the life will spinning and spinning to a circle and bring us back to the root, and all you can do is just say 'bye' to the highest leaf.

Do you know why friendship is one of the biggest miracle on earth? Cos it needs no blood. Indeed! Frank Crane even say 'a friend is a person with whom you dare to be yourself." In my experience too, once we found our true friend, never be careless to tie her/him up to you. Because a friend, will always come to you, light you, smile and even cry for you, no matter how fast the life is spinning around.

Do you know that a friend in family is priceless? It is. Indeed! You have the thickness of the same blood and a person to be together with in light and dark moments. Just because, she never wants to live her life without you. Because this friend, is always looking for you to share her day, to wipe her tears, and to laugh the stupidity she made. I have one.


Do you know a girl named Upie? No, she's no longer a girl, a woman now. I call her T'Upiel. T is from teteh, an appellation for older girl in Sundanese. Upiel is from Palupi, her name. I make that nickname. *wink* She is a dearest cousin of mine, a little older than me. (How nice I am, I put 'a little older there, Lol!) She is a friend of mine too. In the third category I described up there. I know, how lucky I am, right?

Do you know that last weekend she added a new label in my life? A neighbor. Looks like two are not enough for her! Lol! Hardly looked for a house to rent for weeks, finally we found an available small house that she desires which is only separated two doors from mine. That is coincidence! True. After some administration steps, she moved there; she and her husband. Yay!

Do you know how it feels? Well I just know it. A strange good feeling, to always be near.

Monday, July 11, 2011

Aku Ingin - Sapardi Djoko Damono

Aku diam. Ku berpikir. Boleh tidak mempersembahkan karya orang lain untuk seseorang? Entah.

Aku diam. Ku berpikir. Karya ini sungguh indah dan mewakili rasa, sungguhkah tak boleh? Entah.

Aku diam. Ku berpikir. Tak ada niat mengakui dan menjiplak, sungguh tak ada niatan. Boleh yah?

Aku diam. Ku berpikir. Bukan tak mungkin penulis lebih terharu mengetahui isi hatinya mewakili milikku juga.

Om Sapardi Djoko Damono, aku pinjam puisi indahnya, ya. Terima kasih.
Kepada yang terkasih, Syarif Maulana. Kupersembahkan untukmu.

Aku Ingin

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada.




Photo

Friday, June 24, 2011

What are your favorite books?


This question comes from Jo, what are your favorite books?
Hhhmmm.. I suddenly listing on mind. Some books come immediately, some are just gone. But if we change the question, what is your favorite book? I can surely answer this. Petit Prince.

Little Prince, translated in English, Pangeran Kecil in Bahasa Indonesia. I firstly knew this book around my first year in university. There was a small bookstore near house where Dyence, Nasto and I, both are my besties, usually visited on our way back home. I forgot the store name, but it's a special bookstore which not only sell the bestsellers, but also the uncommoners. It's a type of signatured bookstore, like the one of Kathleen Kelly in You've Got Mail. Feel like i wanna have one in the future.

Back to that time, I found Pangeran Kecil there. Eye-catching, with a draw of the little prince in color. Seducing me with his lonely pose; standing alone as seeing the sky. No needed so long to think, I grabbed it. And it wasn't expensive, just like almost all books they sell there. May God bless the owner.

So there was I, hypnotized by the prince. Finally found my true friend. I still can't believe how Antoine de Saint-Exupery read me and write it so beautifully. That's how I feel about the book. And from that moment on, the prince, Exupery and I are friends.

People often talk a lot about their friends, right? So did I. I talked about them to Monsieur Carles, a french businessman to whom I worked as an interpreter. He said that he read and love it. It's one of a kind. Children and philosophy students read it. That is what we call a book for all. Hmm.. what a good remark, Monsieur!

This is the best part. Monsieur Carles sent me Petit Prince from France! See how three of us meant for each other! Lol! So I have him in Bahasa and French. And one day, iIfound him in English, so I bought it! Yay!!

Nasto asked me to collect it in many languages. A quoi ca sert, Nasto? Since I can only speak those three languages. Lol! O yes, since I spread the magic of Little Prince everywhere, I have one special person who truly fell for him.

My dear Syarif, please allow me to share your beautiful write.
You all, be prepared for the journey. And you my Little Prince, the trip is yours.


Thursday, June 23, 2011

Ibu, keajaiban dunia.


Tak perlu ku menunggu kesempatan menjadi ibu
Tuk bergidik menghirup keagunganmu
Tak sabar ku menanti hari ibu
Tuk menyebar sucinya kasihmu

Ibu,
Memanggilmu
Ibu,
Menyentuhmu
Ibu,
Menatapmu
Ibu,
Memujamu

Tuhan bersamaku.

Wednesday, June 15, 2011

Aujourd’hui, c’est Ă  Yenq!


C’est jeudi ici, lĂ  bien sĂ»r aussi.

C’est le seize juin au prĂ©sent, l’anniversaire de quelqu’un.

C’est mon amie, ma meilleure amie.

C’est une fille, s’appelle Yenq.


Joyeux anniversaire, ma chérie.

Vois le soleil est bien éclairé.

Que ce jour soit beau, ma chérie.

Comme ces jours qu’on a passĂ©s.


Aujourd’hui c’est Ă  toi.

Aujourd’hui tout le bonheur t’approchera.

Aujourd’hui nasto, dyence, dewo, karcut, boiq et moi volerons chez toi.

Aujourd’hui les anges seront occupĂ©s de noter nos prières, spĂ©ciales.


Que notre chère Yenq ait toujours de la bonne santĂ©, des expĂ©riences superbes, des bonnes notes, des super repas, des petits amis charmants, de la paix d’Ă¢me, du succès, de l’amour et de la joie Ă©ternelle.


Amen.

Monday, June 6, 2011

Hightech cellphone, introversion and I.


Nasto, a bestie of mine, once asked me whether I'm an introvert or extrovert person. I answered that I'm always kinda confused to categorize myself based on that. But today, I finally find the answer. Here it goes, Nasto.

I cant precise the year, but I remember that I was student that time. When Yahoo Messenger, also well known as YM, was a la mode, or it's still now? Dunno. Young people who started to use internet actively exchange their YM ID so that they can meet in their chat box. I don't know exactly how YM works, but my friends seem happy to communicate with others by using YM. While me, I wasn't interested to chat with others because I already have an intensive communication with people I want. So I wasn't a la mode.

Blackberry (BB) is a smart-phone which with it people not only can make a call and send sms, but also e-mailing and connecting to internet through mobile network service or Wi-Fi. It was released in 2003 and commonly use in Jakarta around 2006, as I remember. My friends, who are technology up-daters threw their conventional cellphone and started to use BB. And it didn't took so long for Jakarta people to follow the trend massively. I can see BB everywhere, in my house -mom and sister in law are two of the tech up-daters- at the office, mall, public transportation, even in public restroom -not the visitor, but the cleaning service officers.-

High tech means high price? Yes, it is. BB is an expensive stuff for me, from the launching and even 'till now. I was curious with "what make people adore it," so I asked them how they advantage their BB. Face-booking, BBM(Blackberry Messenger)-ing and chatting (most using YM). Hhmm.. not that interesting. But still, BB is a la mode!

My besties and I entered the working life since 2006. Since that we hardly arrange our time to hang out and update our news. Finding out that people out there are not so nice, we become more addicted one to other. Okay, we need to communicate intensively. We benefited phone call, sms and gtalk (Google messenger) at first, but since two of my besties live overseas, phone call and sms aren't recommended. So we become active skypers (Skype is also a messenger), we have conference chat almost every day and a video call sometimes. It's all for free! May God bless the inventor! Lol!

I connect to internet on work days and work hours only, by Wi-Fi in my office. So on weekend, I lost contact with my besties while the addiction grows more. Nasto and Karcut, who already use smart-phone (BB and i-phone), provoke me to buy it so that we can communicate whenever and wherever. Considering the need and the price, I decided not to buy it. It's still expensive for me though!

Until last week, I finally buy one -not BB neither i-phone- which is much cheaper! Yay! Samsung galaxy mini, my first smart-phone. Since I'm not a high-tech person, I need much time and concentration to learn using it. And communication problem solved! I'm online on skype most of time and we even find a new application, whatsup! It can connect BB, i-phone and other smart-phone with Android (this one you can googling) in it. I start to love tech! Lol!

With this phone, I can also be online in other social network and ready to chat. I was, for several first days. But no oh no, I can't help being online everywhere like others. When the phone beeps because of a "hi" from someone on my friend-list, I was panic. Feel I'm being forced to chat with him/her. Soooo uncomfortable! Now I realize that those who I want and need to communicate everyday are my besties and my boyfriend. They are more than enough to brighten up my days!

So Nasto, I'm online on skype, gtalk and whatsup where I can find you all there. And yes, I'm an introvert, dear! I'm not loner but I tend to have fewer numbers of friends, those who I believe are truly friends. I know that I have a good social skills, but I'm well energized by you all. Should I ask for more?

Monday, May 23, 2011

Me, the Santa Claus!


Menapak tilas ke siang hari beberapa tahun lalu di ruang BEMJ –Badan Eksekutif Mahasiswa Jurusan- Bahasa Prancis kampus kami. Di ruang tak berkarpet maupun berkursi itu, duduklah kami bertiga; Anast a.k.a. Nasto, Karien a.k.a. Karcut dan saya sendiri, Dega a.k.a. adaaaa aja!

Seingatku itu menjelang tahun terakhir kami di sana, walau kami tak lulus di tahun yang sama. Bertiga sudah mengenal satu sama lain dengan baik, apa adanya tanpa berpura-pura. Bukan hanya berbagi suka dan duka, nasi, lauk, keluarga, selimut, sabun, uang pun kami bagi bersama.

Dega: ”Kalau malaikat tiba-tiba dateng, bilang kalau hidup kita tinggal satu jam lagi. Kalian pada mau ngapain?”

Nasto: ”Hidih, serem bener loe, Gul!”

Dega: ”Ih, beneran ini. Kalian pada mau ngapain?”

Karcut: ”Gw gak demen ah, mainannya!”

Nasto: ”Kalo loe mau ngapain?”

Dega: ”Gw mau belanja hadiah dan gw kasih ke orang-orang yang gw sayang.”

Karcut: ”Oh, list yang loe bikin waktu itu yah?”

Dega: ”Hooh!”

Nasto: ”So sweet..”

Dega: “Kalo loe, Nasto?”

Nasto: ”Gw akan samperin orang-orang yang gw sayang, minta maaf dan bilang kalo gw sayang banget sama mereka semua.”

Dega: ”Hiks...”

Nasto: ”Jadi sedih.”

Dega: ”Iyah..”

Dega dan Nasto: ”Kalo loe, Crut?”

Karcut: ”Gw diem aja di sini!”

Dega dan Nasto: ”Kok??”

Karcut: ”Lagian mau ngapain? Emangnya satu jam cukup apa buat ngapa-ngapain? Lagian malaikat kenapa sih ngabarinnya udah satu jam lagi. Kenapa gak dari kemaren?”

Dega dan Nasto: ”.......................................................................................................”

Yes, she is one of a kind. =D =D

Oh iya, berikut list hadiah yang sudah kusiapkan dan telah direvisi baru-baru ini. La Voila!

Bapak : Bengkel sablon

Mama : A very wise husband

Aran Candra : Biaya sekolah S1

Mon petit Akbar : Asuransi pendidikan

Maimunah : Tiket umroh ke tanah suci

Putri Setya Anggraeni : Tiket konser Tuck and Patty

Dewi Chairunnisa : Laptop

Anastasia Khairunnisa : Air ticket Jakarta-Paris-Jakarta

Ekarini Saraswaty : A high quality man

Dian Septembriandini : Toko di ITC Cempaka Mas

Fauziah Yuni Satriana : Rumah di Bogor dekat makam Ade

Syarif Maulana : Tiket nonton piala dunia


Photo

Bercerita bersama sore - dua puluh enam


Malam, Sore.

Iya, ini malam. Kau pergi sudah. Tapi aku sungguh ingin bercerita, besok mungkin bisa langsung kau baca.

Subhanallah, Sore. Subhanallah. Hanya kata itu yang sanggup menggambarkan hati ini. Hati yang dipenuhi bunga-bunga kecil warna warni; kuning, putih, jingga juga merah. Kala angin berhembus dapat kau lihat serbuk-serbuk menari kecil menaburi mereka, sambil tercium itu wewangian yang bersahaja.

Sejujurnya, ada sedikit keraguan untuk membagi ceritaku ini, Sore sayang. Bukan, ini bukan rahasia orang. Hanya saja, aku khawatir keajaibannya akan berpendar menghilang dari rasa. Tapi ku kira tak apa, meski itu harus terjadi, harus terganti dengan senyum bahagia darimu, ya!

Kemarin tepatnya, dua puluh satu Mei dua ribu sebelas. Hari yang dengan gelisah terus kunanti dari awal tahun ini. Hari Sabtu berbunga kala dia, pria yang mengisi dua tahun bersamaku datang membawa keluarganya. Keluarga yang entah sejak kapan menjadi keluargaku juga walau belum ada gunting pita. Datang mereka sekeluarga, besar, jauh-jauh dari kota tetangga mengunjungi keluargaku, besar juga, di Depok rumah uwak. Tahukah kau kalau ari-ariku dikubur di rumah ini, Sore? Iya, ini kota kelahiranku, aku datang di rumah bidan tak jauh dari sini. Sungguh tempat bersejarah untuk menorehkan lanjutan sejarah, bukan? Alhamdulillah.

Siang nyaris tengah hari, empat mobil tiba di depan halaman kami, dengan Aran sebagai penunjuk jalan. Iya, Aran memang kami utus untuk menjemput rombongan di jalan utama kota guna mempermudah tamu yang sudah kami nantikan sedari pagi ini. Tamu yang buat kami sibuk mempersiapkan ini itu karena kami setuju dengan pesan Rasulullah untuk memuliakan para tamu. Keluargaku sontak ke halaman, berbaris rapi tanpa komando siap menyalami tiap orang. Aku, malah masuk ke dalam. Tiba-tiba kikuk bingung harus apa, harus bagaimana. Menemukan Chokim, sepupuku, di dalam kamar Mbah aku merasa mendapat pencerahan. Aku masuk ke sana, mendekati jendela dan Chokim yang sibuk menempelkan wajahnya sambil mengabsen tamu dengan matanya. ”Yang mana orangnya?” tanyanya. ”Bukannya udah pernah ketemu?” jawabku. ”Lupa.” ”Yang itu!” tunjukku. Sambil terus mengenalkan anggota rombongan lainnya dengan telunjukku. Lega.

A Yasin, adalah MC hari itu. Alih-alih langsung memulai acara, dia berinisiatif untuk mengajak semua orang sholat zuhur dulu; laki-laki di masjid, wanita di rumah. Menghindari menunda sholat, jelasnya. Sungguh keputusan yang bijaksana, batinku. Aku, masuk ke kamar uwak duduk di atas kasur bersama piring-piring kue yang menanti disajikan dari pagi. Bersama Ade, Ebi dan Tsabita; sepupu dan keponakanku. Kipas-kipas kami di sana, gerah, sambil bercengkrama memandang uwak lalu lalang mengambil mukena.

Semua sudah sholat, kewajiban tunai. A’Yasin membuka ulang acara, kami para wanita berestafet piring-piring berisi kue aneka rasa. Setelah disuruh ke depan yang entah oleh siapa, aku lupa, barulah aku duduk di ruang tamu yang sudah kami alasi dengan karpet-karpet dan sajadah. Rame di sana. Deg-degan, aku tak menyapu pandang ruangan. Tunduk saja, sesekali lihat ke kanan, Bi Nia. Setelah beberapa lama baru ku mendongak dan menebar senyum tipis.

Tsabita Nur Azizah, jagoan mengaji keluarga kami. Cilik tapi hafal surat An-Naba luar kepala. Dan mengajilah ia. Lalu A’Yasin mempersilahkan wakil keluarga tamu kami untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka. And this is my favorite! Sang Papa lah yang berbicara langsung, tak diwakilkan. Beliau memperkenalkan anggota rombongan sambil berdiri di antara kami yang duduk, dengan santai, penuh canda dan menebar kehangatan. Dengan tak biasa, kemudian melanjutkan bercerita tentang kisah hubunganku dengan sang anak. Bernostalgia lah aku dibuatnya. Tidak, Sore. Aku tak mau menceritakannya sekarang, nanti saja. Cerita ditutup dengan kalimat tanya yang membuatku merasa sungguh berharga.

Om Yudi, favoritku, mewakili keluarga kami sebagai pemberi jawaban pada keluarga mereka. Berbekal kertas yang dicoret-coret sedari pagi, Om Yudi berhasil berkolaborasi menghangatkan suasana. Berbalut canda dan campuran bahasa Sunda, terjawablah sudah permintaan dari keluarga mereka tadi. Alhamdulillah. Terima kasih wahai alam semesta.

Kami bungkus dengan doa, semoga semua berkah, semoga semua berbahagia, Amin. A’Yasin kemudian mempersilahkan kami semua ke meja makan, santap siang. Saat itu lah malaikat menebar serbuk cinta; Papa dan Mama calon suamiku datang menghampiri, tersenyum hangat, bahagia, seperti berkata, “Selamat datang di keluarga kami, Nak!” Kucium tangan mereka, bahagia.

Semua orang bersantap dengan lahapnya, yang kecil juga orang tua. Aku juga, tentu saja. Sambil berbagi cerita dalam kelompok-kelompok kecil, duh hangatnya. Para tamu pamit, setelah tiga jam kami bersama. Aku dan keluarga berdiri di teras, mengantar mereka sambil menebar senyum bahagia.

Kami semua sibuk membereskan rumah, piring-piring dan makanan yang ada. Orang-orang terlihat mondar-mandir, tak ada yang bertangan kosong. Di sana aku, berdiri di ruang tengah, menyapu pandang mereka yang bekerja sambil tertawa-tawa. Semua yang sibuk berlelah-lelah demi acara hari ini, demiku.

Teruntuk Mbah, Mang Isa dan Adik Rambi di surga. Semoga kalian ikut berbahagia bersamaku, bersama kami semua, keluarga.


Photo

Thursday, May 19, 2011

To all the girls I love

To all the girls I love,


It is you, who were holding my hand tight, when I closed to down.

It is you, who dropped more tears, when I was sad.

It is you, who hardly fell to sleep, when my heart was aching.

It is you, who thought for me, when I had no effort to.


It is you, who brought me sunshine, when my skies were totally dark.

It is you, who made me smile, when nothing were going right.

It is you, who made me laugh to cry, when my heart was bleeding.

It is you, who never left me alone, when everybody did.


It is you, who I want to live with, now and forever more.

It is you, who I wish to call out, anytime I want to.

It is you, who I love to share all happiness in the world.

It is you, who I desire to be with, when a man that I love asks my hand.

Tuesday, May 10, 2011

To all daddy in the world.

Dearest all daddy in the world,

Somehow, no matter what happened between us, we, children know that you always love us.
Somehow, even rain didn't drop for years, we always know that we are the center of your universe.
Somehow, when you have another woman beside you, we believe that we are always be special.
Somehow, the farer we go, the more you get closer with us.

To man that we call dad from our born,

We always try to respect you, even it's so hard to.
So please, respect our mom and we will give every bow to you.
We never want to put hateness between us.
So please, love our mom and we will love you will all our heart.

Just like Adam and Eve; Romeo and Juliet, Sartre and Beauvoir, Muhammad and Khadijah.
You both will always be our beloved Mom and Dad.

Wednesday, March 16, 2011

A very blessed 27 years old girl

I wanted to type "a very lucky 27 years old girl" before, but realized that lucky is not enough. If lucky means having or attended by good luck, occurring by chance, and believing to bring luck, than I chose the right word, then. Cause this one I want to describe is not only a matter of luck or chance, it's something more. While blessed means worthy of worship; holy, bringing happiness, pleasure or contentment. Holy, guess that's the keyword.

Here, in my place and its culture, a 27 years old girl expected as someone who has finished her study, has a settle career, surrounded by loyal friends and colleagues, can be depended by her family, and also, the most important one, has a husband. Happy? Dream? It's non of society business.

Me, I'm 27 years old, will be 28 soon. Yay! The society is expecting me to follow their rules, of course. And me, I am walking in and with them, the society, while avoiding its rules which don't fit me. I've finished my study, Alhamdulillah. A settle career? Well I'm happy with this thing I do now, but still, I'm still up to my dream job, a teacher. Wish me luck! Am I surrounded by loyal friends and colleagues? I am. I proudly am. And also, by a big various family. Love is all in the air!

Can be depended by her family, hmmm... This one I don't know. But so far, I am trying to walk together with people I love. I am living with my brother's family now, and it feels good. I have a good relationship with my parents, I am hanging out with my aunties, cousins and nephews, I chat with my uncle, I laugh and cry with my girls, I even enlarging my family circle now! Wooo..

The last one, a husband. Yay! I am single until now! And it's a bless! Since I have a special man with whom I share my daily life story now. My dreams, passions and craziness. What a bonus, right! We're learning how to share our life goodly, before marriage lock us. Lock? What a diction! Lol!

Mom? What about mom say? Instead of asking me, "When will you guys marry?" She, a very uncommon mom, lucky me, asked, "When will you continue your study and upgrading your diploma?" Oh girls, I know you are all jealous of me, now. Not only that, she also once shared her thoughts to me and my man, "Do you know? I never worry that my daughter will have a difficulty to find a good man and to end in a marriage. Why? Because I'm doing my best in life, I always try not to hurt others. By that, I'm sure that mother's good path will enlighten her children path." She smiled, my man smiled, I smiled in heart while trying not to drop a tear.

Am I happy? No reason for not being to. Am I still keeping my dream alive? Of course I do.

I have a very enlightened path, thanks to my dear mother who bless her 27 years old girl.


Tuesday, March 8, 2011

Pesan untuk Fahrina, Azka, Hafidzh, Ariq, Alif, Tsabita, Kamal, Admam, Fadil dan Babar

Kini saya, sudah menjadi seorang tante-tante. Tantenya Tsabita, biasa kami panggil kakak Bita, abang Kamal, Admam dan Akbar atau Babar. Ada juga Fadil atau Bedil, sebetulnya kami sepupuan, tapi usianya yang sepantar dengan Admam dan Babar membuatku merasa si Bedil ini adalah keponakan juga. Hehe.. Alif juga, yang seusia dengan Tsabita. Azka atau Teh Saka, Fahrina atau Ina, Ariq dan Hafidzh juga adik-adik kecil yang di hati rasanya seperti keponakan-keponakan saya.

Nikmatnya menjadi tante; menyaksikan calon keponakan di dalam perut yang menggelembung semakin membesar hari demi hari, meneteskan air mata saat dirinya keluar dari sana, turut berpikir setengah mati mencari ide untuk nama indahnya, merasakan ngeri melihat tubuh merah ringkihnya, hingga harinya pun tiba saat memberanikan diri untuk menggendong dan merasakan hangat tubuh mungilnya, menjepit jemari kecilnya dengan bibir saat dia terlelap, berteriak panik mendapati dia terjatuh dari tempat tidur, resah gulana kala tubuhnya panas hingga membuatnya mengigau selama tidur, antusias mengantar dan menjemputnya ke taman bermain, senang melihatnya berlari di antara lorong jajanan di mini market, tertawa bahagia kala mendengar kata-katanya yang tak sempurna, pusing kala dia terbangun dan menangis di tengah malam, hingga dapat merasa begitu dekat dengan Tuhan pada malam hari kala mengagumi setiap garis wajahnya, goresan alisnya, dan mengharumi aroma tubuhnya.

Subhanallah.

Sungguh salah satu doaku yang di bold setiap hari adalah, semoga sepupu-sepupu kecil dan keponakan-keponakanku tersayang kelak menjadi manusia-manusia yang berbahagia dunia dan akhirat, yang selalu berdiri di atas kakinya sendiri dan mengulurkan tangan tanpa pamrih dalam berbagi kasih. Semoga Allah selalu menyayangi mereka melebihi kasih sayang siapapun di dunia ini.

Amin.

Teteh, Aa, Kakak, Abang, Ade, Babang, Bedil,
Kelak nanti, jika kalian sudah besar nanti, jangan biarkan siapapun atau apapun menjegal mimpi-mimpi kalian. Raihlah, sekuat tenaga dan doa mimpi-mimpi yang Insya Allah tante turut amini. Jika ada yang berani bilang kalian tidak keren atau aneh apalagi jelek, biarkan saja. Karena yakinilah bahwa di keluarga kita tak ada yang tidak keren ataupun jelek. Kalau aneh, banyak. Tapi apa hebatnya menjadi pasaran? Lebih baik aneh tapi tak mengganggu orang. Pakai apa yang kalian suka, asal jangan pamer aurat atau menyalahi kodrat. Dan janganlah kalian merokok, karena sungguh rokok itu hanya untuk mereka yang tidak berpikir. Agama kita hanya untuk mereka yang berpikir, dan mudah-mudahan kalian selalu berjalan di bawah payung agama. Apalagi narkoba, biarkanlah itu jadi santapan mereka yang tak bisa mensyukuri teriknya matahari, sejuknya embun pagi dan aroma tanah yang dibasahi hujan.

Tak perlu malu jika kalian suka musik dangdut, gambusan, drama Korea, baju merah jambu atau keroncongan. Karena malu itu hanya untuk mereka yang hanya bisa menyusahkan orang lain. Jangan buang sampah sembarangan apalagi menyalip antrian! Karena seperti kepala sekolah Toto Chan bilang, melakukan itu hanya mempermalukan diri kalian sendiri. Dan kalian, harus lah berdiri di atas kaki sendiri, mandiri. Selalu teriakkan, "Aku pasti bisa!" kala ranjau menghadang. Ingat, tulang di kaki kita ini luar biasa kuatnya, tak ada itu kata lelah. Mungkin, kadangkala terasa itu lelah. Tak apa, istirahat sebentar, kalau mau menangis ya nangis saja. Tapi kala mentari datang lagi, harus berusaha lebih keras lagi. Karena hidup ini luar biasa indah bagi mereka yang bekerja. Kalau nilai jelek di pelajaran eksak atau matematika, santai saja. Karena tante pun begitu. Segera cari bidang yang kalian suka. Pasti ada! Lalu pelajari lah, apapun itu, secara mendalam. Jadilah seorang profesional; yakni mereka yang ahli di bidangnya. Tak perlu mengantongi dunia, tapi pandang dan hiruplah pesannya, lalu menarilah bersamanya.

Bila Mama Papa, Umi Abi, Mami Deded serasa begitu menyebalkan dan tak asik diajak bercerita, tak apa. Itu wajar saja. Karena mereka, punya begitu banyak hal untuk dipikirkan. Kalian saling berbagi cerita saja. Akan ada masanya mereka akan kembali asik lagi. Mudah-mudahan saja. Tapi ingat! Mereka, orang tua, bagaimanapun rupa dan kelakuannya, tak boleh dijadikan musuh kita. Tak cocok tak apa, karena kita bukan jemuran yang pasti cocok dengan siapa saja. Lalu akan datang harinya kalian akan jatuh cinta dan menjadi orang yang lain dari biasanya. Jangan takut, jalani saja. Karena cinta, tak akan membagikan sarinya pada mereka yang tak punya nyali. Lalu berbahagialah atas nama cinta.

Untuk Ina, Teh Saka dan Kakak Bita,
Jangan pernah biarkan seorang pria pun mengasari Ina, Teteh dan Kakak. Siapapun. Karena Ina, Teteh dan Kakak dilahirkan bukan untuk disakiti, tapi untuk disayangi. Angkat dagu setiap ada orang yang memandang kalian sebelah mata, tak boleh minder, tak boleh sedih. Tunjukkan pada dunia bahwa kalian punya tulang kaki kuat yang senantiasa menopang tegak. Cantik, pintar, solehah dan tegar. Insya Allah.

Untuk Aa Hafidzh, Abang Ariq, Kakak Alif, Abang Kamal, Admam, Bedil dan Babar,
Di agama kita, pria adalah imam. Jadi kalian semua adalah calon imam. Rasulullah, panutan kita, selalu memuliakan wanita, tak pernah mengasari apalagi menzolimi. Jadi kalian, jangan ragu berdiri dan memberikan kursi kalian pada wanita di bis atau kereta, mengatakan tidak pada wanita yang suka menggoda dengan tubuhnya, jangan pernah memukul atau menyayat hati wanita dengan kata-kata. Karena sungguh hati wanita bukan terbuat dari baja. Jaga Mama, Umi, Mami sampai akhir hayat mereka. Karena ibu, adalah hartamu.

Jangan lupa.

Saya, tante yang sungguh berbahagia dan bangga, memiliki mereka semua di hidup saya.


Tuesday, February 1, 2011

Rongga untuk/dari Ade


Tak terbayang jadi Bunda
Tak terbayang jadi kakak-kakaknya
Tak terbayang jadi Ayah
Tak terbayang jadi Ryan, sahabatnya

Ade, Subhanallah.
Ada rasa baru merasuk di kalbu
Menusuk melubangi hati; kecil-kecil namun perih.

Ade, Subhanallah.
Ada lembar baru terbuka tak berjudul
Menganga lebar tak terduga, di dada.

Ade, Subhanallah.
Baik-baik lah di sana
Janji ya sama Mbak Dega.

Ade, Subhanallah.
Semoga tiap tetes air mata tak berarti perih untukmu
Semoga tiap sesak di dada tak berarti sesal bagimu
Semoga tiap senyum akan kenangan berarti sejuk untukmu
Semoga tiap kata dalam doa berarti damai bagimu

Insya Allah.

Friday, December 10, 2010

My Cinderella

Inspired by a story from a friend of mine, here it goes mine.

When I was a little girl, Cinderella is one of my favorite fairy tales. Cinderella is a beautiful girl who has a miserable life caused by her stepmother and stepsisters. But at the end of story, she finds a handsome prince who marries her and takes her into a better life. At those times, I only know two kinds of feeling, love and hate. So I hate her stepmother and stepsisters and of course I love the prince.

It never crossed in my mind that my life will follow her path. It’s not like I’m having a miserable life, no. But somehow, I’m having a stepmother and stepsister. It was about four years ago since my dad decided to marry a woman who has a daughter from her past marriage. I won’t make this into a drama story with lot of sadness and end with happiness; well I’m just trying to share my feelings about having them in my life.

Living with a woman who has a very different character with my mother is not easy at all. Plus, I never have a sister in my life, never. I am my parent’s only daughter with the one and only brother. So, having another girl in the house is kinda weird.

Generally, my stepmother tries to act like all mothers and so far she does it well, not too much. And it helps me to accept her presence in the house where I still see my mother’s shadows everywhere. Sometimes she put herself as a stepmother and sometimes as my father’s wife. No, those roles are never being the same. As for me, she makes it so far.

Having a little stepsister is a cute simple thing, for most of time. Suddenly I become a role model; my appearance, my achievement, my attitude, my hobbies, most of the thing I do, she’ll follow. How cool! But, you never can predict what a teenager can do. Note that! I never imagine that forget to lock my wardrobe or even my room can be so damn irritating. How could it be? It could, just when I realize that my things aren’t in the place they suppose to. Some are moving, and some are just gone. Now you know what I mean?

Never have this kind of situation making me a little bit confuse to react. Instead of asking to all people about my stuff, I’m sneaking to my stepsister’s room and as predicted, I found them. Not that easy to find, they are hidden in a secure place. And what’s next, I ask myself. I don’t want to make my stepsister as an enemy, so I avoid facing her directly. I come to my stepmother in order to have an objective judge. But I forget something, some big thing; that a mother always loves her daughter more than anyone else. No, it’s not a subjective opinion; it’s just what exactly happens.

So, there am I; in my room, without my stuff. Where are they? I left them in where they’re hidden. I didn’t take them since I was too shock to face the reality, where honesty is no longer exist in my house, in the house where I raised with it. I think it has gone with my mother.

Since that day, having a stepmother and stepsister is not cool at all, at all. I don’t hate them, since I have thousand kinds of emotional reaction in my heart now. It’s no longer love and hate, those two are never sufficient to interpret all life’s messages. They don’t treat me like a Cinderella, never, lucky me. But one thing, somehow they just act like her stepmother and sisters. They’re putting away honesty out of the house.

Remembering that, I miss my mother’s presence a lot. Wish she’s doing her life very well now, with her honesty lesson that she’ll bring anywhere she is.


Monday, August 23, 2010

Mari memasak!

Kemarin, kami menemukan cara baru bersenang-senang. Hari Minggu, kami berbagi tugas. Kangen balado tempe, kataku. Aku kangen sayur sop, teh; kata Kiki. Tapi takut gagal lagi, tambahku. Yang penting jangan kelaman masak sambelnya, saran Aran. Kalau sayur sop, teh? Tanya Kiki. Gampang kok, kata Aran. Fyyuuuhhh.. Untung ada chef Aran; a good motivator, setidaknya.

Ditulis di kertas berbingkai tuts piano;
1. Tempe
2. Cabe
Apa deh Ki, yang kemaren dibuang-buang sama Babar? Ketumbar, teh.
3. Ketumbar + lada
4. Sayur sop
5. Tomat
Masa sopnya sayur aja, gak mau pake apa, gitu? Makaroni aja, teh!
6. Makaroni

Aran, Kiki, Babar, belanja. Aku di rumah, beres-beres. Mereka sampai, senang-senang dimulai.

Tempe dipotong kecil-kecil, tipis-tipis, biar garing. Sllrruuppp!! Sayur dicuci di bawah air mengalir. Cabe, bawang disiapkan di atas ulekan. Tambahkan ketumbar dan garam, biar Kiki yang haluskan. Tempe dibuat garing sama Aran, api kecil bikin aman walaupun pelan. Teteh, lanjut bersihkan dan potong-potong sayuran.

”Deded, mami sama ati Ega agi apa?”
”Masak.”
”Ih, emangna bica?”
Kurang asem tuh anak. Hihihihi...
Serempak: ”Bisa dooonnkkk...”
”Keyen.”
Hahahahaa...

Wortelnya dipotong terlalu tebal, kata chef Aran. Baiklah, kutipiskan. Tomat kurang banyak dimasukkan ke ulekan, kata chef Kiki. Sok, ditambahkan. Tempe harus ditambah, karena terlihat kurang, kata chef aku. Tak masalah, tinggal ditambahkan.

Sambal kelar diulek, tempe selesai digoreng. Siap dicampur sekarang. Aran, kami beri kehormatan, silahkan dimasak. Huhuhu.. Chef Aran pun beraksi; minyak goreng dimasukkan ke dalam wajan, sedikit saja. Sambal digoreng dengan api kecil saja. Tak lama tempe pun menyusul si sambal, berdua saja. Diaduk-aduk hingga merata lalu ditaburkan gula dan garam. Hhhhmmm enaknyeeee!!! (Dengan logat si Ipin atau Upin).

Sayur mayur selesai dipotong-potong. Kini si bumbu; Ki, bumbunya apa nih? Ran, bumbunya apa aja? Apa yah? Bawang gitu yah? Terus apa lagi? Ah, gampang. Kita tanya mama Nadya aja! Hahahaha.. Nikmatnya bertetangga…

Bumbu versi mama Nadya: bawang merah, bawang putih, lada, kayu manis. Berhubung kami chefnya, maka kayu manis ditiadakan saja. Hukum suka-suka! Mari mulai menĂº kedua!

Kuulek bumbunya, bikin mata berkaca-kaca. Tempe balado selesai dihidangkan, Aran siap melanjutkan. Minyak dituang ke wajan, sedikit saja. Bumbu abu-abu dicelupkan, lalu diaduk hingga wangi semerbak. Bau, kalau kata Babar. Maklum, belum bisa membedakan wangi dan bau keponakan yang satu ini. Kusiapkan segelas air matang, masih kurang kata chef Aran, baiklah kita tambahkan. Air tak lama mendidih, tentu saja karena itu air matang. Si chef lalu memasukkan wortel dan kentang. Ditunggu hingga empuk kala ditusuk. Sudah empuk, lanjut si makaroni, buncis, kol dan tomat. Diaduk-aduk, kulihat sang chef memasukkan irisan daun bawang dan seledri. Tiba-tiba masuk sang istri ; widiiihhh, keren betul ! Sudah berapa lama Bapak menekuni dunia masak memasak ? Sang suami menjawab, orang gila. Babar menyahut, mami oyang giya ya, Ded ? Hahahahahaha…

Teh, kita gak punya masako-masakoan ? Punya, kenapa? Mana? Tuh! Ditaburkan juga sama si chef, plus gula dan garam. Diaduk-aduk, terus. Percaya atau tidak, aroma dan tampilannya, seperti masakan mama! Aha! Tolong ini dicoba, Aran kan puasa. Ki, tolong coba, Ki! Hmmm.. enak! Beneran, Ran! Enaaakk... Yeaaahhh!!! Babar pun ikutan lompat-lompat; yeaaahhh!!!

Hari itu Minggu, siang. Aran pun harus kerja, siang. Kiki sang istri menyiapkan bekal untuk berbuka; nasi, balado tempe dan sop makaroni. Aku, Babar dan Kiki, tak berpuasa. Mengapa? Mau tahu, aja!

Siang itu, Minggu siang. Kami bertiga lahap sekali makan. Orang bilang kalau sudah masak, makan jadi tak lahap. Siapa bilang? Coba lihat kami makan. Sampai lupa kalau hari itu masih siang, pintu tak ditutup hingga tetangga pun heran, melihat kami makan hingga keringetan, di Minggu yang siang.