Tuesday, March 8, 2011

Pesan untuk Fahrina, Azka, Hafidzh, Ariq, Alif, Tsabita, Kamal, Admam, Fadil dan Babar

Kini saya, sudah menjadi seorang tante-tante. Tantenya Tsabita, biasa kami panggil kakak Bita, abang Kamal, Admam dan Akbar atau Babar. Ada juga Fadil atau Bedil, sebetulnya kami sepupuan, tapi usianya yang sepantar dengan Admam dan Babar membuatku merasa si Bedil ini adalah keponakan juga. Hehe.. Alif juga, yang seusia dengan Tsabita. Azka atau Teh Saka, Fahrina atau Ina, Ariq dan Hafidzh juga adik-adik kecil yang di hati rasanya seperti keponakan-keponakan saya.

Nikmatnya menjadi tante; menyaksikan calon keponakan di dalam perut yang menggelembung semakin membesar hari demi hari, meneteskan air mata saat dirinya keluar dari sana, turut berpikir setengah mati mencari ide untuk nama indahnya, merasakan ngeri melihat tubuh merah ringkihnya, hingga harinya pun tiba saat memberanikan diri untuk menggendong dan merasakan hangat tubuh mungilnya, menjepit jemari kecilnya dengan bibir saat dia terlelap, berteriak panik mendapati dia terjatuh dari tempat tidur, resah gulana kala tubuhnya panas hingga membuatnya mengigau selama tidur, antusias mengantar dan menjemputnya ke taman bermain, senang melihatnya berlari di antara lorong jajanan di mini market, tertawa bahagia kala mendengar kata-katanya yang tak sempurna, pusing kala dia terbangun dan menangis di tengah malam, hingga dapat merasa begitu dekat dengan Tuhan pada malam hari kala mengagumi setiap garis wajahnya, goresan alisnya, dan mengharumi aroma tubuhnya.

Subhanallah.

Sungguh salah satu doaku yang di bold setiap hari adalah, semoga sepupu-sepupu kecil dan keponakan-keponakanku tersayang kelak menjadi manusia-manusia yang berbahagia dunia dan akhirat, yang selalu berdiri di atas kakinya sendiri dan mengulurkan tangan tanpa pamrih dalam berbagi kasih. Semoga Allah selalu menyayangi mereka melebihi kasih sayang siapapun di dunia ini.

Amin.

Teteh, Aa, Kakak, Abang, Ade, Babang, Bedil,
Kelak nanti, jika kalian sudah besar nanti, jangan biarkan siapapun atau apapun menjegal mimpi-mimpi kalian. Raihlah, sekuat tenaga dan doa mimpi-mimpi yang Insya Allah tante turut amini. Jika ada yang berani bilang kalian tidak keren atau aneh apalagi jelek, biarkan saja. Karena yakinilah bahwa di keluarga kita tak ada yang tidak keren ataupun jelek. Kalau aneh, banyak. Tapi apa hebatnya menjadi pasaran? Lebih baik aneh tapi tak mengganggu orang. Pakai apa yang kalian suka, asal jangan pamer aurat atau menyalahi kodrat. Dan janganlah kalian merokok, karena sungguh rokok itu hanya untuk mereka yang tidak berpikir. Agama kita hanya untuk mereka yang berpikir, dan mudah-mudahan kalian selalu berjalan di bawah payung agama. Apalagi narkoba, biarkanlah itu jadi santapan mereka yang tak bisa mensyukuri teriknya matahari, sejuknya embun pagi dan aroma tanah yang dibasahi hujan.

Tak perlu malu jika kalian suka musik dangdut, gambusan, drama Korea, baju merah jambu atau keroncongan. Karena malu itu hanya untuk mereka yang hanya bisa menyusahkan orang lain. Jangan buang sampah sembarangan apalagi menyalip antrian! Karena seperti kepala sekolah Toto Chan bilang, melakukan itu hanya mempermalukan diri kalian sendiri. Dan kalian, harus lah berdiri di atas kaki sendiri, mandiri. Selalu teriakkan, "Aku pasti bisa!" kala ranjau menghadang. Ingat, tulang di kaki kita ini luar biasa kuatnya, tak ada itu kata lelah. Mungkin, kadangkala terasa itu lelah. Tak apa, istirahat sebentar, kalau mau menangis ya nangis saja. Tapi kala mentari datang lagi, harus berusaha lebih keras lagi. Karena hidup ini luar biasa indah bagi mereka yang bekerja. Kalau nilai jelek di pelajaran eksak atau matematika, santai saja. Karena tante pun begitu. Segera cari bidang yang kalian suka. Pasti ada! Lalu pelajari lah, apapun itu, secara mendalam. Jadilah seorang profesional; yakni mereka yang ahli di bidangnya. Tak perlu mengantongi dunia, tapi pandang dan hiruplah pesannya, lalu menarilah bersamanya.

Bila Mama Papa, Umi Abi, Mami Deded serasa begitu menyebalkan dan tak asik diajak bercerita, tak apa. Itu wajar saja. Karena mereka, punya begitu banyak hal untuk dipikirkan. Kalian saling berbagi cerita saja. Akan ada masanya mereka akan kembali asik lagi. Mudah-mudahan saja. Tapi ingat! Mereka, orang tua, bagaimanapun rupa dan kelakuannya, tak boleh dijadikan musuh kita. Tak cocok tak apa, karena kita bukan jemuran yang pasti cocok dengan siapa saja. Lalu akan datang harinya kalian akan jatuh cinta dan menjadi orang yang lain dari biasanya. Jangan takut, jalani saja. Karena cinta, tak akan membagikan sarinya pada mereka yang tak punya nyali. Lalu berbahagialah atas nama cinta.

Untuk Ina, Teh Saka dan Kakak Bita,
Jangan pernah biarkan seorang pria pun mengasari Ina, Teteh dan Kakak. Siapapun. Karena Ina, Teteh dan Kakak dilahirkan bukan untuk disakiti, tapi untuk disayangi. Angkat dagu setiap ada orang yang memandang kalian sebelah mata, tak boleh minder, tak boleh sedih. Tunjukkan pada dunia bahwa kalian punya tulang kaki kuat yang senantiasa menopang tegak. Cantik, pintar, solehah dan tegar. Insya Allah.

Untuk Aa Hafidzh, Abang Ariq, Kakak Alif, Abang Kamal, Admam, Bedil dan Babar,
Di agama kita, pria adalah imam. Jadi kalian semua adalah calon imam. Rasulullah, panutan kita, selalu memuliakan wanita, tak pernah mengasari apalagi menzolimi. Jadi kalian, jangan ragu berdiri dan memberikan kursi kalian pada wanita di bis atau kereta, mengatakan tidak pada wanita yang suka menggoda dengan tubuhnya, jangan pernah memukul atau menyayat hati wanita dengan kata-kata. Karena sungguh hati wanita bukan terbuat dari baja. Jaga Mama, Umi, Mami sampai akhir hayat mereka. Karena ibu, adalah hartamu.

Jangan lupa.

Saya, tante yang sungguh berbahagia dan bangga, memiliki mereka semua di hidup saya.


Monday, March 7, 2011

Di Hari Perempuan Internasional

Hari ini tanggal delapan Maret, hari perempuan Internasional, begitu tv bilang. Acara tv yang menampilkan dua orang perempuan dari dua kubu, satu dari Kementrian Pemberdayaan Perempuan yang merasa sudah berkontribusi besar demi perempuan-perempuan negeri ini, satu lagi perempuan dari organisasi besar yang merasa bahwa Kementrian tadi hanya pajangan pemerintah saja. Biar seolah-olah pemerintah Indonesia sudah sungguh memerhatikan kesejahteraan perempuan. Nyatanya?

Kalau saya punya suara, Kementrian ini tak ada gunanya, hanya sebagai tempat exist ibu-ibu pejabat saja, yang masih ber-make up menor dan berponi mumbul. Dengan gemerincing gelang emasnya sibuk meresmikan apalah itulah di kota-kota besar. Bukan mereka kok yang memberi ide agar ada gerbong khusus wanita di kereta api, bukan mereka juga yang membela para TKW yang nyaris mati disiksa para majikannya, atau lantang memarahi para pelaku pelecehan di TransJakarta. Alah! Sudah, daripada siang ini tumbuh gondok di leher saya, lebih baik disudahi saja keluhan atas harapan yang jauh dari kenyataan ini.

Ibu dari Kementrian tadi, parasnya sungguh mirip seperti satu-satunya mantan presiden RI yang berjenis kelamin wanita. Kala itu, saat beliau memimpin negara ini yang entah karena dipilih siapa, saya sempat menonton acara Oprah yang membahasa negara-negara yang mengakui persamaan pria dan wanita hingga mampu menjadikan seorang perempuan sebagai presiden mereka. Indonesia salah satunya. Banggakah saya saat negara ini disebut namanya? Sayangnya tidak. Kok bisa? Karena wujud pengakuan persamaan tak mesti dengan mengangkat perempuan sebagai pemimpin. Tetap harus dilihat kualitasnya. Perempuan negara saya yang satu ini, maaf-maaf saja, justru kualitas kelas bawah buat saya. Mengapa? Ya silahkan dicari-cari prestasi dan segala manuver beliau, lalu nilai lah sendiri. Malah saya merasa, R.A. Kartini, sang putri sejati merasakan malu di akhirat sana. Melihat perempuan Indonesia yang menjual keperempuanannya demi menunjukkan kehadiran mereka, tanpa menghiraukan kualitas dan loyalitas. Ah, sok tahu sekali saya ini. Seperti tahu saja rasanya jadi presiden wanita!

Kembali ke hari ini, saya sebagai salah seorang perempuan di dunia, di Indonesia dan di Jakarta, memiliki beberapa harapan yang mudah-mudahan saja diamini oleh ribuan perempuan lainnya; Betapa ingin saya agar perempuan memiliki gerbong sendiri, entah apa istilahnya untuk bagian dari bis gandeng, di TransJakarta. Hingga, mudah-mudahan saja, tak perlu lagi saya berhimpitan dengan mereka, para pria yang tak risih melekatkan bagian tubuh mereka. Juga, saya berdoa agar seluruh perempuan terutama ibu-ibu di negeri ini tak lagi menonton sinetron dan infotainment, racun mental yang jika ditelan terus menerus akan mengendap di hati dan merusak kebersihan nurani. Satu lagi, mudah-mudahan seluruh perempuan muda Indonesia mampu menyingkap identitas pribadi mereka tanpa perlu melabelkan diri dengan segala sesuatu yang bukan milik negeri ini. Agar semua perempuan muda mampu berdiri di atas kaki mereka sendiri dan lenyaplah itu para social climber yang selalu mendifinisikan diri melalui mata orang lain.

Amin. Amin. Amin.

Lalu apa yang bisa saya perbuat di hari kita ini, wahai para perempuan?

Saya akan melanjutkan bekerja setelah jam istirahat ini, lalu akan menggunakan TransJakarta untuk pulang ke rumah nanti, tak gentar menjaga diri dari para pria yang makin lama makin terlihat seperti magnet kulkas di dalam bis. Tak lupa saya akan membeli roti dan tomat, untuk sarapan esok hari, beli dengan uang sendiri dan masak dengan tangan sendiri karena saya perempuan Indonesia yang mandiri. Bersih-bersih rumah karena kebersihan sebagian dari iman dan sungguh saya ingin menjadi bagian dari mereka yang beriman. Tak lupa sholat dan mengaji karena saya harus memiliki ketenangan batin agar suatu hari bisa menjadi bagian dari cahaya kehidupan, dan satu lagi, melanjutkan membaca karya om Paulo Coelho yang selalu tampil mengagumkan sebagai jendela dunia. Karena, jika kelak nanti saya menjadi seorang ibu, haruslah saya menjadi ibu yang membantu anak-anak saya, anak-anak Indonesia, membuka jendela-jendela imaji, hati dan kecerdasan yang hakiki.

Selamat hari perempuan, perempuan.


Wednesday, March 2, 2011

How can I call it a hell?

An aunty of mine, a beloved one, once said that marriage is a hell. Lol! She meant it. My other aunty told her, if marriage is a hell, than how come you can have three kids from that! More lol! She replied, my husband and I, we fought a lot! When we fought, it wasn’t only by mouth, but also all part of our body! And the result is, the three boys! Lol lol lol!

One happy day, my cousin got married. She wore a beautiful kebaya and held a nice wedding party. At the end of party, my aunty, yes that one told her loudly, “Welcome to the hell!” And we were laughing ironically. She even hasn’t changed her clothes yet! What a family I have! Lol again.

Well that is my auntie’s conclusion; marriage is a hell. What about mine? I don’t know, I’m still a single fighter now. I’ll let you all know once I have it, ok? But by the way, imagining the life of marriage, it’s kinda difficult for me to see hell on it. And why is that?

In present time, I live alone. I work, live my own life by my own income; rent a house, buy food, pay the bills, etc. No work equals no house, no food, no anything. So no choice here, I have to work so that I can live.

Let’s imagine to the future, I live with my husband. I work, live my life together with our income; rent a house, buy food, pay the bills, etc. No work still means a house, food, everything. Why is that? Because a husband means someone who live to make sure that her wife has a good life. Even in Islam, a husband has to take it as one of the biggest responsibility, a must. How sweet, right?


Back to the present, and then tell me now, how can I call it, a marriage, as a hell?

While maybe I’m living in it now! Lol! As for me, marriage seems to be a heaven. Insya Allah.

Monday, February 21, 2011

Feel like a grown up

Somehow, lately I feel like a grown up. A lady, a wise sister, an executive secretary, an expert Jakartanaise. Such a rare thing in my life. As a grown up hater, I always describe myself as "une fille qui n'aime et ne veut pas devenir adulte." Well, it's just because in my entire life the adults never make their self as a good role model. I often adore kids who act much wiser than those who describe their self as an adult.

But life start to open a new chapter for me, I guess. Lately I can see things from several point of view, where everything seems clearer to see, to be understood. I might say that the adults stand in a circle, where they don't have an angle to choose. They have to see, hear and analyze from every side. And children, they can easily choose one side in a circle and put that as an angle. So they can simply see, hear and analyze things from their side. I'm not saying that the adults always see things more complicated than the children do, but yes, somehow it looks like that. They seem to loose their capacity in simplify things. Is this life is truly simple or its the childhood who has the true simplicity?

As for me, I'm loosing my simplicity in seeing things. Well that I know for sure. I don't know when it has begun, but I know that nothing's simple is left. Even how hard I try to see them just like the way they are, another things suddenly shadowing and the focus seem harder to be found. I often feel jealous to them, kids who still have purity and that clear shiny eyes.

But despite that complexity we have, the adults, another good things actually come at the same time. A new peaceful feeling and a big confidence to conquer this life, wiser. Why do I choose "wiser", because I think the new spirit has difference from the precedent. It contents calmness, readiness, and an invisible well-preparedness.

New feelings, hopefully will bring me to a brighter new windows. Hello, sunshine! Here I come, a new grown up! ;)

Sunday, February 20, 2011

Where do you hide my appetite?

Hello you all there? Everything's good? Same here!
No, I mean, not really. I'm having a strange situation here.
What's about? My appetite.
I'm kinda loosing it, lately.
So weird, since it never happened before. Except when my body is sick.
But that's a common exceptional condition, right? Everybody might lose their appetite when they're unhealthy.

I'm in a well condition now; my body is in its good performance, my mood is in love with this life, and my heart is filled with happiness. But then, why o why, my appetite has just blown away?
Karien said, a friend of mine, maybe I just feel bored to eat. Heeehhh?? What an answer, I said. She explained that it happens sometimes. Our body rejects to do the same thing over and over again. That doesn't sound make sense to me, I eat for the whole of my life, rice, rice, rice and rice. But I still love to eat it! Hehehe..

But Karien can be right. No one can exactly understand what our body has in its mind. My dear body, is it true? What is happening to you? Should I have a culinary traveling? Maybe it can be a refreshment to you, to me also, to us. Let's just try!

Hhhmm... by the way, I guess we should wait for a week. Ca va? It's just, my payment day will be next week. Lol! I'm so sorry.. Meja is always right! Coz it's all about the money! It's all about the dam dam daradamdam...


Tuesday, February 15, 2011

Buah jatuh jauh dari pohonnya

Memang sebagian besar buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

Tapi aku, selepas jatuh berusaha menggelinding sekuat tenaga.

Menggelinding dan terus menggelinding sejauh mungkin.

Dan aku, sesekali menatap ke belakang meratapi pohonku.


Memang sebagian besar buah berusaha tampil menarik menggoda.

Tapi aku, selalu begini adanya.

Pir membungkus dirinya dengan busa bak Agnes Monica, cimpedak melumuri dirinya dengan wewangian fana, bahkan semangka menyuntik dirinya bak Kurt Cobain saja.

Dan aku, merasa cukup bebersih diri dan berpose rapih.


Memang sebagian besar buah berharap berasal dari pohon yang berbeda.

Tapi aku, tak pernah menyesali akar tempatku menghirup air dan saripati.

Kweni mengaku harum manis, lokam bilang dari medan, bali bilang dia adalah pondoh.

Dan aku, dengan lantang ”buah yang terbuang.”


Memang sebagian besar buah palsu dapat menipu pembelinya.

Tapi aku bukan kaum yang putus asa hingga harus banting harga.

Mereka rela dibelah hingga bisa diicip dan diintip meski lalat bisa ikut serta menikmatinya.

Dan aku, ”tak perlu kau khawatir karena apa yang kau bayar itu lah yang akau kau dapatkan.”


Memang sebagian besar buah merasa lebih berharga dari yang lainnya.

Tapi aku, selalu merasa luar biasa istimewa.

Berasal dari pohon yang sehat, jatuh di rumput yang segar, hingga rasa dan harga pastilah hebat.

Dan aku, meski parasit dan penyakit menggerogoti pohonku, aku jatuh di saat yang tepat, menggelinding jauh menghindari ranting, sisa kompos dan tetesan getah.


Memang sebagian besar buah semok menggoda.

Tapi aku, sehat dan perkasa.

Buat apa menggoda kalau tak tahan bergoncang berdesakan di peti kayu?

Dan aku, tak akan menjadi bonyok semudah itu meski kujalani perjalanan dari satu peti ke peti dan peti.


Karena ku, buah yang selalu menggelinding jauh, sekuat tenaga.

Menjauhi pohonku yang tak pernah kusangkal keberadaannya.

Jadi berhentilah merendahkanku hanya karena kau berasal dari pohon yang indah.

Karena sungguh, pohon indah tak selalu menghasilkan buah yang indah juga.

Tuesday, February 1, 2011

Rongga untuk/dari Ade


Tak terbayang jadi Bunda
Tak terbayang jadi kakak-kakaknya
Tak terbayang jadi Ayah
Tak terbayang jadi Ryan, sahabatnya

Ade, Subhanallah.
Ada rasa baru merasuk di kalbu
Menusuk melubangi hati; kecil-kecil namun perih.

Ade, Subhanallah.
Ada lembar baru terbuka tak berjudul
Menganga lebar tak terduga, di dada.

Ade, Subhanallah.
Baik-baik lah di sana
Janji ya sama Mbak Dega.

Ade, Subhanallah.
Semoga tiap tetes air mata tak berarti perih untukmu
Semoga tiap sesak di dada tak berarti sesal bagimu
Semoga tiap senyum akan kenangan berarti sejuk untukmu
Semoga tiap kata dalam doa berarti damai bagimu

Insya Allah.