Wednesday, September 29, 2010

September ceria - Lilin ilmu


Ini bulan Syawal, Lebaran dan liburan sudah usai. What's next?

Awalnya mau belajar menunaikan kewajiban lain; berkurban. Tapi sepertinya belum bisa dilaksanakan tahun ini, sayang sekali. Karena menabung untuk sekolah tahun depan harus dikejar, meski hingga kini belum bisa menentukan universitas, ralat, meski unversitas tujuan serasa sulit diwujudkan. But great things don’t come easily, rite?

Dua temanku sudah mulai sekolah (kembali) tahun ini. Oooohhh, iri! Ada Sakti yang dari status FBnya terlihat enjoy bersekolah di UI, juga ada Yenq yang sudah mulai program beasiswanya di Swiss sana, Lausanne tepatnya. Oh, sampai ke dadaku euphoria mereka!

Sakti, sambil kuliah mau belajar bahasa Prancis lagi, mesti ikut tes DALF-C1 katanya. Salah satu syarat kelulusan di universitas tuturnya semangat. Kuputuskan untuk belajar bersama. Aku juga mau ikut serta! Awal tahun depan akan kucoba lagi tes bahasa Prancis yang susah itu. Sebagai salah satu peluru kalau mau mencoba melamar bekerja di CCF. Begitu info yang kudapat.

Yenq, berhubungan kami setiap hari melalui skype; oh what a technology! Diceritakannya tentang kelas pertamanya; Francophonie. Oh, baru sadar kalau aku tak tahu sejarah terbentuknya Francophonie. PR. Dia juga berbagi tentang rencana penelitiannya; tema tesis. Kami berdiskusi, nice refreshment for me! Mungkin ini termasuk yang Aa Gym sebut indahnya berbagi? Just maybe. Jadilah semalam aku pelototi lagi rak bukuku, kupilih kemudian satu buku; Romain Fran├žais Contemporain. Buku hitam yang dipinjamkan Yenq selama dia disana. Semoga buku ini akan membawaku ke roman-roman contemporains.

Oskar, seperti dua lainnya, ini juga temanku di UNJ section de fran├žais. Tiba-tiba menghubungiku sebulan yang lalu, for a refreshment cours. Ow! That’s what I exactly need, Oscarlita! Such a brilliant idea! Mari kita belajar bersama, kita berdua dan Sakti juga. This afternoon will be our first class; even we won’t be”entre les murs.” Mari kita diskusikan bersama apa yang akan kita pelajari tiap minggunya, d’accord?

Anastasia, sama seperti ketiganya. Yang satu ini sedang haus ilmu agama hingga mengajakku menjadi RISKA; Remaja Islam Masjid Sunda Kelapa. Hari Minggu ini, 2 Oktober akan menjadi minggu pertama dari enam belas minggu kami menuntut ilmu di sana, Islamic Study Club. Bukan itu saja, selain membedah Islam, kami juga akan belajar mengaji, tahsin. Bismillah, Anastasia. Semoga kita bisa belajar sebaik-baiknya.

Dewikupugalau; kelompok menulis bersama yang hampir terlupa keberadaannya. Digawangi olehku, Anast dan Syarif, ehem, pacarku. Tema Lebaran berhasil membangkitkan kembali semangat menulis kami. Dan di minggu ketiga setelah bangkitnya blog kami, ”Jika Jakarta bukan lagi ibukota” menjadi tema selanjutnya, Anast pengusungnya. Kau tahu, menulis, membaca dan berdiskusi kutemukan sebagai beberapa upaya untuk menjaga kewarasan di chaosnya dunia belakangan.

September benar membuka pintu keceriaan, bukan? Mari belajar dan terus belajar, jangan sampai ketinggalan! Master, C-1, refreshment class, Islamic study club, dewikupugalau, I’m coming! Semangaaaattt!!! ^^V

Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada Mu ilmu yang bermanfaat, amalan yang diterima dan rezeki yang bagus (baik). Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung dengan Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak di dengar (makhbul) dan amalan yang tidak di naikkan (diterima).


Photo

Tuesday, September 28, 2010

Hujanku sayang


Kala mini kaki dan tanganku; kupuja kau selalu

Girang ku riang dibuatmu, seketika kau tiba kubuka bajuku

Kala hitam polos mataku; bahagiaku bersamamu

Basah ikal rambutku oleh tetesanmu


Kala tak mini lagi kaki dan tanganku; resah ku dibuatmu

Gundah seketika kala datang rintikmu; tak acap biru dadaku

Kala hitam tak polos lagi mataku; lupaku cara menikmati aromamu

Banjir, becek kau bawa bersama derasmu


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Sungguh bukan salahmu

Membawa genangan, banjir, macet ke kotaku


Jakarta oh Jakarta

Congkaknya kau salahkan hujan

Atas segala bencana yang sesungguhnya buatan

Hingga berkah basah kau artikan susah

Moga Tuhan tak marah bersamanya


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Maafkan sinis kami padamu

Yang lupa caranya berbahagia bersamamu


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Walau tak lagi mini kaki dan tanganku; sepertinya masih kulit yang sama kupunya

Lapisan berbuku yang kutahu merindukan rintik manismu

Walau tak ada lagi kepolosan di mata; tapi masih disanalah korneaku berada

Penangkap cahaya yang belum lupa irama tetes dalam deras


Hujan oh hujan

Hujanku sayang

Jangan ragu tuk datang

Hidungku siap menyeruput aromamu, tubuhku kuasa menikmati basahmu, mataku siap berirama bersamamu.


Hujan oh hujan

Hujanku sayang


Photo

Wednesday, September 22, 2010

Tentang Wangu

Akan ada sebuah kejadian di satu hari yang akan mengubah kita, selamanya. Dan setelah hari itu, tak mungkin kembali menjadi kita yang sebelumnya, tak mungkin. Sekuat apapun kita menginginkannya.

”Wangu, lagi di mana? Aku mau ke Arion sama anak-anak. Mau ikut?” Dan datanglah dia di hadapanku, setelah harap-harap cemas menantikan balasan smsnya. Ya, begitulah Wangu. Lebih memilih berbuat daripada berkata. Dengan terengah-engah dia berhenti di muka lalu tersenyum berkata, ”Ayo!”

Orang bilang percintaan masa SMA adalah masa-masa terindah. Menurutku sebaliknya, biasa saja. Aku punya, justru masa kuliah. Waktu itu lah benar kurasakan istimewanya menjadi wanita. Dipuja dan dimanja.

Sudah rapih dia, dengan seragam bola. Pertandingan antar jurusan se fakultas. ”Nanti nonton gak?” tanyanya. Pastilah, batinku. ”Kenapa emangnya?” Diam dia, gundah, kusuka. ”Memang harus pulang cepet ya? Nanti dianter, deh! Nonton dulu yah?” Memelas, oh indahnya. ”Iya.” Sedikit senyum mengembang di wajahnya. ”Asal..” kubiarkan mengambang. ”Asal apa?” Hihi, batinku tersenyum lebar. ”Asal setiap gol teriak buat Dega.” Gila, berani-beraninya diriku. Haha! ”Sip,” jawabnya jantan. Huhuu...

Jadilah itu, tiga atau empat gol, aku lupa. Yang jelas lebih dari dua, dia persembahkan untukku. Gol-gol yang membuat jantungku berhenti sepersekian detik kala jarinya menunjukku, bibirnya bersuara rahasia, “buat Dega”. Dan mereka, ya mereka, orang-orang yang tak kukenal gegap gempita menyaksikannya. Marun ku dibuatnya.

Roller coaster, aku tak pernah naik roller coaster. Kecuali halilintar yang di Dufan itu benar termasuk roller coaster. Jatuh cinta yang klepek-klepek konon seperti itu rasanya. Mereka yang beruntung pasti pernah merasakannya. Can’t help falling in love. Hihi, ya kini kutahu rasanya. All out, lumat. Seperti lilin yang tak kuasa menahan terbakar dan lumer, luluh lantah dibuat sang api. Oh, rasa itu. Masuk ke rumah makan padang, aku tahu pasti akan kepedesan, tapi tak kuasa menahan godaan hingga tetap kupesan sambal hijau dan semua yang mampu memanaskan lidah. Nikmatnya.

”Dia Hindu,” kata Owe, sahabatku. ”Masa sih, We?” maklum tidak pernah punya kenalan orang Hindu, masa sih giliran udah klepek-klepek gini mesti sama yang beda. ”Bener, gw udah liat KTPnya!” Hahahaha, beginilah kalau punya teman over protective. ”Hahahaha.. serius loe, We? Ngapain loe pake liat KTPnya segala?” Si Owe memicingkan mata sipitnya seraya cemberut, ”Biar pasti. Sekarang loe percaya gak?” Mau gak mau.

Mirror oh mirror, tega amat sih. Kalau beda begini, mesti backstreet donk. Karena gak lulus policy di rumah sini. Apa dilawan aja yah? Masih banyak cowok oke ini di kampus. Yeah..yeah.. I wish! Tapi masa iya dilawan udah sejauh ini. Sms langsung disamperin. Request langsung diwujudin. Mau pulang langsung dianterin. Gimana ini? Dia juga pasti punya rasa. Tidak, tidak, kali ini aku tak besar rasa. Pasti itu.

”I can’t help it, this feeling. Really can’t take my mind of you. So I’m wondering if you want to be mine.” Hiks, persis seperti di film remaja Hollywood yang sering kutonton. Romantis sekali. Masih teringat suasana di ruang tamu kala itu. Tangan terjabat, gayung bersambut, jemari bergenggam. What do you expect? Of course I said yes. Yes, yes, yes. Be mine pernah terdengar sangat romantis untukku. Hahahaha..

Adjectif possessif, kepemilikan. Akan ada saatnya segala sesuatu yang bersifat memiliki, dimiliki, seutuhnya; walau tak pernah ada itu seutuhnya, menjadi hal yang kau puja. Kau suka. Karena yang akan kau rasa: damai, tak lagi sepi, indahnya bersama, beriringan. Entah itu benar semu atau memang ada yang namanya menyatu. Mine, his, her.

Tuhan yang maha tahu yang terbaik untuk kita. Manusia berencana tapi Tuhan yang menentukan jua. Jika kalimat tersebut terdengar memuakkan di telinga, maka kau sedang di tengah perjalanan, teman. Jangan takut, melangkah saja lagi. Jika kau merasa seperti berada di hutan remang-remang, maka kau sudah di jalan yang tepat. Semangat. Sesungguhnya remang-remang, datang dari sinar dan juga kegelapan.

”Dega sudah tahu sekarang keadaannya. Gimana, bersedia ikut keyakinan kita?” Akhirnya kudengar juga permintaan yang menurutku sangat fair. Iya teman, fair. Alih-alih memaksa menyudahi hubungan dengan anak sulungnya, orang tua Wangu bertanya dengan bijaksana jika aku bersedia mengikuti keyakinan mereka. Ya seperti kau tahu, agama tidak memperbolehkan dua manusia bersama jika Tuhan mereka berbeda. Tuhanku bukan tuhannya Wangu, et vice versa. Marahkah aku? Tidak. Kecewakah aku? Tergantung akan apa.

”Tante, memang orang tua saya yang memilih Islam menjadi agama saya, awalnya. Tapi beberapa tahun lalu, saya memilihnya sendiri, saya pribadi. Jadi maaf tante, saya meyakini apa yang saya yakini sekarang ini. Seperti juga tante sekeluarga meyakini apa yang tante yakini sekarang ini. Jadi iya, saya akan menganggapnya sebagai kakak saya,” dan aku pun tersenyum. Ikhlas. Seandainya sahabat-sahabatku menyaksikan kejadian malam itu, di ruang tamunya Wangu; pasti lah mereka bangga. Aku yang telah membuat mereka khawatir ketar ketir karena keputusan untuk belajar hingga mendalam ke akar, kualitatif.

Seringkali pada usia remaja kita terganggu akan perlindungan dan perhatian yang berlebihan. Benar? Aku pun pernah merasakannya. Alih-alih berteriak hingga serak, aku kala itu memilih diam dan berjalan dengan hati-hati demi membuktikan bahwa kekhawatiran sesungguhnya bukan yang diperlukan, tetapi akan lebih baik jika saja, mereka yang kubutuhkan memberikan dukungan.

”Tolong dijagain itu tetehnya, ntar tahu-tahu udah pindah agama, lagi!” Tertawaku mendengarnya, tentu saja. Apalagi ketika itu sungguh ku masih remaja. Memang begitulah orang dewasa, lebih memilih berpikir bahwa remaja harus benar-benar dijaga daripada membiarkan mereka memilih jalannya hingga pada akhirnya mereka bisa menghampiri orang dewasa dan berkata, ”Saya akhirnya tahu siapa saya.”

Terima kasih Wangu, atas cerita suka duka bersama. Sungguh engkau banyak menorehkan tinta hingga bisa kusampaikan pelangi pada cucu-cucuku nanti. Sampai jumpa di surga, bukan tak mungkin Tuhan-tuhan kita mendirikan konsorsium hingga ada itu surga bersama. ;)