Monday, November 9, 2009

Kado dari Keraton


Pohon itu cukup menarik, dengan perpaduan sedikit warna yang sederhana, bentuk yang terlihat kokoh tapi bersahabat, apalagi dengan tulisan antiknya yang walaupun tak bisa kubaca tetapi terlihat unik dan cantik. Tulisan yang memahat nama-nama penghuni pohon. Batang utama pohon itu berwarna cokelat muda, ukurannya cukup lebar, akar-akarnya banyak dan besar, menunjukkan bahwa mereka sedang menopang pohon yang kekar. Pohon cokelat itu menopang beberapa dahan besar, seingatku jumlahnya delapan, jumlah yang melambangkan pasangan hidup yang dimiliki pohon kekar semasa hidupnya. Dahan-dahan digelayuti oleh daun-daun besar berwarna hijau muda dan cokelat muda, pembeda kaum Adam dan Hawa untuk buah cinta pohon kekar dan dahan-dahannya.


Mataku langsung terpaku pada satu dahan, tak seperti dahan yang lain yang bergerak ke samping kiri dan kanan pohon kekar, dahan ini menjulang ke atas, seperti mendongak ke langit, dengan satu, hanya satu, daun hijau dengan ukuran yang sama seperti daun-daun lainnya. Di tengah daun tersebut tertulis nama anak pertama yang dimiliki pohon kekar dari pasangan hidup pertamanya. Di tujuh dahan lainnya bergelayutan daun-daun yang tidak sendiri, daun-daun yang terlihat berpegangan erat pada dahan-dahan penyangganya, ibu mereka. Entah mengapa daun hijau yang sedang mendongak ke langit itu terlihat tegar melihat ke atas dan bukannya berpegang erat pada dahannya, tetapi sebaliknya, seluruh penghuni pohon terlihat berpegangan erat padanya. Saat pohon kekar berdiri tegak menjadi penyangga dahan dan daun, daun hijau tadi bersiap untuk melanjutkan misi pohon kekar selanjutnya dengan tetap berada dan menjadi bagian dari keluarga besar pohon kekar.


“Tante, aku lagi buat pohon keluarga, tante ada di dahan yang mana ya? Aku bingung,” tanya keponakan cantikku tiba-tiba saat aku baru saja masuk ke rumah neneknya. “Mana, coba tante lihat pohonnya?” jawabku. Lalu dia pun menunjukkan pohon yang sudah digambarnya dengan pensil dan penggaris di atas kertas dari buku gambar. “Bagus, sudah benar kok tempatnya,” komentarku saat mengecek posisi keluargaku di pohonnya. “Iya, tapi tante tempatnya di mana?” ulangnya. Memoriku berputar mundur dengan cepat dan aku mendapati kenyataan yang tak pernah kusadari sebelumnya, bahwa keponakanku belum pernah bertemu ibuku dan mungkin juga ayahku, aku tak yakin. Dia beberapa kali bertemu adikku tapi aku jadi mempertanyakan apakah dia tahu kalau adikku yang ditemuinya itu adalah adikku. “Aku bingung tante sama om ada di dahan mana?” tanyanya lagi. Jadi dia tahu kalau adikku itu adalah adikku.


Kuambil pensil yang ada di tangannya lalu aku menarik garis di atas kertasnya dan menggambar dahan baru, tempat aku dan adikku seharusnya berada. “Sudah, selesai!” tutupku setelahnya. Sejenak aku melihat raut bingung di wajah keponakanku, dan seperti kuduga, dia mempertanyakan nama orang tuaku yang kutulis di atas namaku. Dengan enteng aku berkata, “Iya, kakak belum pernah ketemu ya? Mungkin nanti Lebaran kakak bisa ketemu.” Begitulah kami memanggilnya sejak keponakanku punya adik kecil, kakak. “Tapi kenapa tante tinggal di sini?” lanjutnya. Siapa bilang kalau kita menjawab dengan enteng maka anak kecil pun akan menerima dengan enteng juga? Terus terang saja ini adalah salah satu subyek yang tak suka kubahas, karena subyek ini selalu membuat hatiku terasa seperti dicubit, agak perih walau sesaat. Alih-alih berkata jujur yang berarti memerlukan penjelasan panjang lebar, aku malah menjawab layaknya orang dewasa yang tidak bertanggung jawab, “Iya, soalnya tante suka tinggal di sini. Ya sudah, tante ke kamar dulu ya. Kakak lanjutin lagi gambarnya, harus diwarnain gak?” Tiba-tiba saja terlontar ide hebat dari otakku, keponakanku yang satu ini suka sekali menggambar dan mewarnai, pasti subyek ini bisa mengalihkan perhatiannya. “Iya, mau kakak warnain juga,” jawabnya sambil langsung membuka kotak krayonnya. Aha! Benar kan? Aku cukup mengenal keponakanku dengan baik rupanya.


Ternyata pohon kekar tidak hanya memiliki delapan dahan, seharusnya lebih dari itu. Tapi kenapa dahan lain tidak ada di pohon itu? Menurut penjelasan Bapak yang menemaniku berjalan-jalan dari tadi, dahan-dahan yang lain tidak berdaun, maka tidak perlu menambahkan dahan-dahan itu di pohon kekar, karena tanpa daun dahan tidak lagi istimewa. Heran, bukankah daun merupakan bagian dari pohon kekar dan dahan? Jadi kehadiran atau ketidakhadiran daun merupakan andil dari keduanya bukan? Jika dahan menjadi tidak istimewa hingga dihilangkan dari pohon berarti pohon kekar juga tidak lagi istimewa, bukan? Aku masih tidak mengerti tentang konsep istimewa dan tidak istimewa ini. Inginku mencari tahu lebih dalam, tapi entah hanya perasaanku saja atau bukan, sepertinya Bapak ini enggan untuk membahas dahan-dahan hilang itu lebih jauh. Baiklah, maka berhenti di sini pembahasanku mengenai dahan hilang.


Sejujurnya aku tidak suka membuat pohon keluarga, menarik garis, menggambar daun, hingga akhirnya menuliskan nama penghuni pohon. Karena itu artinya pada saat yang sama aku harus membuka buku kecilku, membacanya dan lagi-lagi menorehkan luka di lukaku yang tak kunjung pulih. Tapi pohon itu, yang kulihat hari itu bersama seorang Bapak tua yang menemaniku berkeliling berjam-jam di sebuah bangunan luas yang menjadi kebanggaan kota Jogjakarta, pohon yang sederhana dengan warna cantik yang sederhana pula, menginspirasiku untuk membuat pohon yang sama. Bisa dibilang pohon yang kulihat itu tidak lengkap, karena ada dahan-dahan yang dibuang dari pohon itu. Mungkin aku bisa melakukan hal yang sama, sedikit berimprovisasi, maksudnya.

Aku ingin menjadi pohon kekar yang kulihat hari itu. Pohon kekar yang akan memiliki dahan dan daun-daun. Tetapi mungkin aku hanya ingin memiliki satu dahan, walau beberapa dahan juga tidak akan menjadi masalah sepertinya. Sayangnya aku belum bisa memulai menggambar pohonku, karena menggambar pohon berarti aku harus siap dengan dahan, yang belum kumiliki saat ini, apalagi daun-daun. Baiklah, bersabar sedikit tidak akan sulit, akan kutemukan dahanku, atau dahan-dahanku. Lalu menantikan kedatangan daun-daunku, hingga nantinya akan kugambar pohonku sehingga keponakan dari daun-daunku tidak akan bingung untuk menggambar pohonnya, dengan versinya sendiri, dan mungkin dengan sedikit improvisasi di dalamnya.

Sunday, November 8, 2009

Jeritanku

Jangan kawan, jangan! Kau hanya akan menambah satu diriku lagi di dunia ini.
Jangan teman, jangan! Kau tidak benar-benar mencintainya, aku tahu itu.
Jangan sayang, jangan! Lepaskan tanganmu darinya.
Ketergantungan hanya akan membuat kita lemah, percayalah.

Kumohon sahabatku, percayalah padaku, kumohon..
Demi senyum anak-anak di dunia ini,
Demi kemuliaan para ibu yang melindungi anak-anak mereka sepenuh hati,
Demi persahabatan yang mengalahkan kekuatan darah,
Demi Tuhan yang telah meminjamkan kita nyawa,
Demi kenaifan dirimu yang masih tersisa.

Lepaskan tanganmu, serahkan padaku, katakan pada dirimu bahwa kau percaya.
Mari kita lanjutkan perjalanan kita.
Pinjamkan bukumu padaku, dunia ini akan tetap bercerita.
Hingga nanti kau sudah benar-benar kembali, bukumu akan kembali menemanimu.
Dan kupastikan kau tak akan tertinggal sedikitpun, asal kau kembali.
Walau saat itu, kau mungkin takkan memaafkan kesemena-menaanku.

Thursday, November 5, 2009

Bisa tidak aku jadi presiden?

Bisa tidak aku jadi presiden?
Menggantikan dia yang pengecut itu
Bisa tidak aku jadi presiden?
Anti melempem kala rakyat butuh tanganku
Bisa tidak aku jadi presiden?
Yang berani, tak tunduk bagai babu
Bisa tidak aku jadi presiden?
Berpendirian teguh tanpa disetir kronco-kroncoku
Bisa tidak aku jadi presiden?
Bangga berdampingan dengan orang-orang hebat tanpa cemburu
Bisa tidak aku jadi presiden?
Berjuang sampai mati untuk warisan budayaku
Bisa tidak aku jadi presiden?
Tak perlu sok santun, tapi selalu ada tulus itu
Bisa tidak aku jadi presiden?
Mundur saat gagal, tak perlu malu

Bercerita bersama sore – empat

Sini, mari mendekat, Sore. Lebih dekat lagi! Kau lihat itu rumah panjang yang dijepit kali dan sekolah? Iya itu, itu rumahku. Rumah kami yang keempat dan terakhir. Kali yang ini jauh lebih besar dari rumah sebelumnya, bukan? Tentu saja, kalau yang kemarin itu anaknya, ini ibunya. Ini baru kali Ciliwung. Lebar dan panjang. Konon katanya banyak buaya di sana. Seram ya? Ditambah pohon-pohon bambu lebat di tepinya, buatku bergidik saja.

Karena posisi rumah yang terlalu dekat dengan kali, kami menghabiskan banyak batu kali sebagai pondasi. Biar tidak longsor, kata mama. Kalau pagar besi ini bukan kami yang memasangnya, tapi PAM; Perusahaan Air Minum. Itu, letaknya di bawah sana, persis di tepi kali. Di sebelah kiri ada SD Inpres, nol berapa ya? Aku lupa. Di situ lah sepupu-sepupuku bersekolah; Teh Ebi, Eman, Fahrina juga. Tiga bersaudara yang rumahnya beda satu rumah di depan kami. Anak-anaknya Wak Taufik, kakak bapak. Kalau yang di depan itu rumahnya Rizal, temanku di Madrasah dulu.

Ini sebenarnya tanah milik almarhum Mbah, beliau memberikan pada anak-anaknya, ya bapak, ya Wak Taufik. Entah bagaimana ceritanya hingga keluarga Rizal bisa terselip di antara kami. Kau perhatikan tidak di belakang rumah ada apa, Sore? Bukan, selain kolam ikan lele. Iya, itu kuburan. Kober, orang bilang. Dulunya tanah Mbah juga, diwakafkan katanya. Aku lupa kata siapa. Kalau aku pulang malam dan naik ojek, tukang ojek selalu menatapku curiga tiap aku minta turun di ujung gang itu. Mungkin takut mendapati kalau-kalau kakiku tak menapak. Hiii....

Kami pindah ke sini saatku di bangku SMP, kelas dua. Daerah ini namanya Pejaten Timur, tepat di seberang Pejaten Barat, tempat ketiga rumah kami sebelumnya. Kalau dulu rumah kami dekat jalan raya, yang satu ini jauh sekali. Enak, lebih tenang dan tak berdebu. Tapi kalau jalan kaki lumayan jauh. Siang hari di sini panas sekali, itu karena atapnya terbuat dari asbes. Tapi kalau malam, dingin dan sejuk. Oh ya, kau tahu kalau ini rumah pertama kami? Maksudnya rumah pertama yang kami miliki, bukan mengontrak. Entah bagaimana ceritanya, yang aku tahu satu hari kami pindah ke sini.
Rumah baru, masih bersih, desain sendiri, tapi belum jadi. Iya, belum selesai pembangunannya. Belum ada pembatas di atas plafon, hingga asbes dan kayu-kayu menjadi pemandangan kala mendongak. Ruangan yang berlantaikan keramik baru ruang tamu dan kamar depan. Sisanya masih beralaskan semen, yang bergerigi dan tak rata. Tembok sisi luar pun belum dihaluskan, masih kasar dan tak bercat. Ya, begitulah rumah kami.

Mari kita berkeliling, Sore. Ini halaman kecil, dulu ditanami pohon-pohon mama, kini berubah jadi kandang ayam bapak. Lalu teras ini cukup untuk memarkir dua motor. Dulu mama menghias teras dengan bagus, pot-pot bunga di sekeliling juga digantung, bikin rumah terlihat asri. Bapak pernah berkontribusi satu pot, aku ingat. Ditanami pohon yang tak kukenal. Pohon ganja namanya, kata mama.

Mari masuk, ini ruang tamunya. Sempit ya? Semua ruang di sini memang sempit. Barang-barang yang kami punya masih sama saja; sofa berbentuk huruf L, meja kaca, lemari pecah belah, tv di atasnya. Yang tergantung itu samurai bapak, dari temannya. Kemudian ini kamarku, kamar Aran juga. Lagi-lagi tak berpintu, pun bergorden. Mama bilang lemari kami cukup untuk menutupi kamar, sekaligus membatasinya dengan lorong kecil, amat kecil hingga jika dua orang berpapasan, salah satunya harus mengalah untuk berhenti dan menepi. Lalu ini kamar mama dan bapak. Sama juga keadaannya seperti kamarku. Barulah ada pintu penghubung dengan dapur. Di dapur ada pintu keluar, yang selalu dibuka mama kala memasak.

Lalu terakhir, kamar mandi. Di bagian atas ada lubang-lubang udara yang ukurannya terlalu besar. Lubang yang dari dulu kami minta bapak menutupnya tapi tak pernah didengar. Hingga satu sore, aku mandi. Mandi sambil bernyanyi. Di tengah nyanyiku, kurasakan ada yang aneh. Tak sengaja melihatku ke arah salah satu lubang dan kudapati seorang laki-laki sedang memandangiku. Kaget luar biasa, pun dia. Kuraih handukku lalu berlari memanggil mama. Berceritaku dengan segera sambil menangis; ada anak laki-laki mengintipku mandi, anak laki-laki yang suka main kemari. Mama lekas keluar mengejarnya, terlanjur pergi ia. Tak puas, pergi mama ke rumah si anak pengintip. Ditemukannya sedang memanjat pohon di halaman, tak mau turun, ditimpuki mama dengan batu hingga dia turun. Dibawanya ke rumah karena tak mau mengaku. Dimarahi habis-habisan oleh mama setelah ku meyakinkannya bahwa memang benar dia orangnya. Aku tahu dari matanya, ku ingat betul tatapannya. Yang juga kutahu saat itu, aku harus melawan rasa malu. Biar dia yang malu, malu karena sudah mengintipku.

Mari kita lanjut, Sore. Di belakang rumah ada bak panjang dan dalam. Dulunya tempat ikan-ikan lele berenang. Entah program apa yang mama ikuti dari Departemen Perikanan, hingga mereka membangun kolam itu yang kemudian diisi oleh bibit-bibit ikan. Mungkin ini yang namanya budidaya. Jadilah ikan-ikan itu kami punya. Tiap hari mama beri makanan, cukup ditaburi saja. Doyan sekali mereka, lahap terus makannya. Lahap hingga badan mereka membengkak, buat kami tergoda. Lele oh lele, menu kami berturut-turut entah hingga berapa lama. Anehnya tak pernah itu aku bosan, kami bosan. Selalu semangat kami menyantap mereka. Mama cukup menambahkan nasi panas, sambal mentah dan jangan lupa lalap. Apa kalian tahu perjuangan mama untuk menghidangkan itu semua? Dia harus menangkap ikan-ikan dengan serokan, di taruh di ember, kemudian dibunuh dengan mengantukkan ulek ke kepala si ikan, mati dia. Mama lalu akan membedah perutya, dibersihkan, dimandikan lalu digosok kulitnya dengan daun bambu yang sudah dipetik Aran, biar tidak licin katanya. Belum selesai perjalanan si ikan, dia kemudian diceburkan ke bumbu kuning racikan spesial untuk kemudian berendam di dalam minyak panas. Kalau sudah terlihat keriting buntutnya, baru lah diangkat dan ditidurkan di piring lonjong. Saat semua menu sudah siap, tugas aku dan Aran adalah membawa peralatan makan dan makanan ke ruang tamu. Lalu makan kami di lantai, bersama. Duh, nikmatnya!

Di rumah ini Aran memiliki kenangan indah dengan rokok pertamanya. Di samping sebuah warung dekat rumah, di sana lah Aran menghisap rokok bersama teman-temannya. Bersama mereka sambil bergurau dan tertawa. Hingga tak menyadari mama yang tak sengaja lewat. Sepulangnya bermain, Aran mendapat kejutan tak terduga. Diinterogasi ia mengenai kegiatan siang tadi. Bapak yang didelegasikan tugas itu oleh mama. Aku menonton tv saja, pura-pura. Karena Aran tak kunjung mengaku bahwa tadi dia merokok bersama kawan-kawannya, turun tangan lah mama. Geram dengan kebohongan Aran, mama memintaku mengambil rokoknya di meja berserta korek. Dijepitkannya lima batang rokok ke bibir Aran lalu dinyalakan. Bapak diam saja tak mampu membantu Aran yang meminta tolong sambil menangis. Pergi bapak ke belakang, menghindar; ini salah satu sifatnya yang tak patut kucontoh. Kunikmati kemudian adegan yang tak pernah terulang, Aran bercucuran air mata sambil menghisap lima rokok di mulutnya. Dan mama yang berteriak menjelaskan bahwa ini hukumannya sambil meminta Aran berjanji untuk tak merokok lagi. Jangan kau pikir Aran jera setelahnya, Sore. Sekarang dia sudah menjadi bagian dari mama dan bapak, perokok.
Mama dan bapak kan juga perokok, entah kenapa mereka harus marah jika anaknya merokok. Katanya sih karena Aran masih SD, terlalu kecil. Jadi umur berapa kita bisa mulai merokok mama, bapak?

Satu siang, tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan terjadi itu kerusuhan. Aku dan mama lihat di tv. Presiden kami, dipaksa turun oleh mahasiswa. Semua orang marah. Semua orang menjarah. Itu kali pertama aku mengenal kata menjarah. Seperti mencuri, tapi bersama-sama. Siang itu cukup mencekam. Aku dan mama di rumah saja sambil resah menanti bapak dan Aran yang entah sedang ke mana. Takut kalau mereka nanti jadi korban kerusuhan. Sore tiba, bapak pulang. Bilang kalau di jalan ramai orang, jadi sulit pulang. Aran belum tiba juga, panik kami, takut terjadi apa-apa. Berkeliling bapak mencarinya, bertanya pada teman-temannya. Dekat maghrib bapak kembali, tak ketemu juga katanya. Takut sekali kami, tambah takut karena berita di tv bilang banyak korban yang mati. Mama meracau menyebutkan tempat-tempat biasa Aran berada. Aku juga memutar otakku mengingat nama teman-temannya.

”Assalamualaikum.” Itu dia! Aran pulang. Menyambut kami semua, penuh lega. ”Mama lihat! Ini Aran bawa banyak makanan.” Masuk dia ke rumah sambil mengeluarkan isi kantong besar, layaknya belanjaan. Benar habis belanja dia, menjarah dari Goro; supermarket besar dekat rumah. Bersama teman-teman katanya sambil tertawa bangga. ”Seru sekali, semua orang bisa ambil apa saja. Aran ambil saja yang biasa mama beli. Ini ada sabun juga Ma!” Kau tahu wajahnya, Sore? Seperti kepala rumah tangga yang baru saja pulang berlayar dan sedang membagikan oleh-oleh hasil jerih payahnya. Dia lalu cerita bahwa tadi hampir saja terbakar dan terkurung di sana, tapi berhasi lari. Mendengar cerita seru anak bungsunya, mama dan bapak bereaksi. Yah, kau tahu lah mereka akan berkata apa. Marah-marah keduanya, sama-sama. Kemarahan yang terlampiaskan dengan mata berkaca-kaca. Kaca yang mungkin datang dari rasa syukur karena Aran tak terperangkap di sana. Marah mereka dengan kompaknya, meski sempat disela oleh perintah mama padaku untuk menyimpan semua oleh-oleh Aran ke lemari belakang. Kutinggal mereka, kudengar sayup-sayup saja teriakannya. Entah wajah Aran seperti apa selanjutnya. Tapi kuyakin sekali dia jera.

Sore, apa kau punya nama panggilan? Maksudnya nama selain Sore. Seperti nama kesayangan begitu. Bapak punya, Pikun namanya. Cara menulisnya begini, Лqoen; lambang matematika yang dibaca pi lalu qoen ejaan zaman dulu yang dibaca kun. Pikun. Kata bapak dulu di STM punya gank dan itu namanya. Bapak ketuanya, jadilah itu nama panggilannya. Aku tak pernah tahu kekuatan nama itu sampai suatu hari sepulang sekolah aku dan Aran berjalan bersama. Itu kami di pinggir jalan raya dekat volvo; merk mobil yang billboardnya terpampang besar hingga menjadi nama pemberhentian. Tiba-tiba saja ada segerombolan anak sekolah tawuran, berkelahi. Membuat orang-orang ketakutan dan berlari. Begitupun kami. Sambil berlari tetap kami pandangi mereka, anak-anak pria berseragam putih abu-abu, membawa berbagai macam senjata, ada golok, celurit, penggaris besi, ikat pinggang dan satu membawa samurai. Si samurai berjalan di depan, mungkin ketuanya pikirku. Dia memberhentikan metro mini dengan menghadangnya di tengah jalan sambil mengeluarkan samurainya dan berkata lantang, ”Lu tahu siapa gua? Anak buahnya Bang Pikun!” Heh? Aku dan Aran berhenti berlari, saling pandang, membeku beberapa saat, lalu lari lagi. Saat sudah jauh dari jalan raya, kami membahas kemungkinan jika benar bapak adalah bos mereka. Berarti keren sekali kami, Sore. Anak ketua gangster. Sayangnya penjelasan bapak mematikan imajinasi kami. Katanya itu hanya karena gank bapak dulu terkenal menakutkan dan orang-orang masih terpengaruh oleh nama besarnya, padahal banyak yang tidak tahu siapa gerangan anggota-anggotanya.
Kali lain aku dan Aran membeli nasi goreng yang mangkal di volvo, nasi goreng terenak sedunia. Sering sekali kami jajan di sana. Dan kau tahu? Setiap jajan, kami tidak boleh membayar. Salam saja buat Bang Pikun kata mereka, para pedagang. Sakti sekali nama Bang Pikun itu ternyata.

Hubungan bagaimana yang kau punya dengan pagi, siang dan malam, Sore? Aku, Aran dan mama punya hubungan yang sentimentil sekali. Tiap salah satu dari kami berulang tahun pasti lah kami akan membuat atau memberikan sesuatu yang spesial. Di ulang tahun anak-anaknya, mama seringkali membawa kami makan di Mc.Donald, cuma ada satu, di Sarinah Thamrin. Di ulang tahun mama, aku dan Aran punya hadiah favorit untuknya. Mic Mac. Kau tahu itu? Tak apa, memang sudah tidak ada lagi sekarang. Itu biskuit rasa keju, bungkusnya biru. Biasa kami beli di warung Bang Ende, dekat rumah. Kami akan membeli pita lalu menulis puisi atau kata-kata romantis. Ah, memangnya romantis hanya untuk pacar? Dan kami berikan padanya. Di hari ibu pun kami pasti berkreasi. Sentimentil bukan?

Banyak sekali cerita kami, ya kan Sore? Sayangnya tak lama kami bercerita di rumah ini. Tak lama karena entah ada apa. Ada rahasia yang lama sesudahnya baru bisa kubaca. Hanya tiga tahun, aku ingat. Tiga tahun pertama dan terakhir kami bersama, di sana. Tiga tahun kami sebagai keluarga. Bangun, tidur, makan, minum, mandi, masak, nonton tv, bercanda, berbagi rahasia, jalan-jalan, belajar, bersantai, menangis, tertawa, bersama. Mama dan bapak tak suka bersama. Tak mau lagi mereka jadi keluarga. Aku dan Aran tak ditanya. Padahal kami masih mau jadi keluarga. Sama-sama.

Tak ada lagi ikan lele keriting di meja, tak ada lagi biru-biru hasil cubitan mama, tak ada lagi bekas cakaran Aran di kulitku, tak ada lagi berebut remote tv dengan bapak, tak ada lagi karaoke bersama, tak ada lagi sayur bayam mama, tak ada lagi tertawa bersama. Tak ada.

Malam itu, dan malam-malam berikutnya, berdoa ku pada Tuhan. Semoga mama, bapak, Aran dan aku yang tak lagi sama-sama, tak lagi satu rumah, keempatnya, bisa terus berbahagia.

Amin.

-bersambung-

Tuesday, November 3, 2009

Minggir sedikit duhai cemara


Cemara oh cemara! Cemara mini
Sedang apa kau disitu, menghalangi?
Iya, menghalangi pandanganku
Ah, kau bisa lihat itu disana, dia
Ya, dia. Kau tahu pasti siapa dia
Dia, diaku

Teralun halus petikannya
Halus, sehalus daunmu
Terbuaiku oleh lantunannya
Lantun, lantun, melantun itu laguku

Pendopo, kau dengar itu?
Lilin merah?
Dan kau pohon gantung?
Hei bantal-bantal kecil, jangan diam saja. Kalian dengar kan?

Cemara, itu teman-temannya
Ada lima
Memanggilku nyonya
Haha!

Eh, kalian lihat angin?
Tumben, belum tiba
Bermalam Minggu dulu kah?
Ya, tak apa-apa
Mari bermalam Minggu kita
Bersama-sama

Berkumpul saja disini kita
Melihatnya dari kejauhan
Di antara daun-daunmu, Cemara
Sambil menikmati petikannya
Petikan yang berhembus menyelusuri lorong telinga kita
Bahagia kah kau? Kalian semua?
Aku juga iya.

Monday, November 2, 2009

Salmon Sashimi

Apa yang kau suka di dunia ini?
Oh teman, kau tahu itu salmon sashimi? Atau sashimi salmon? Hmm.. Betapa inginnya aku menggubah lagu Om Louis Armstrong.

I feel salmon in my tongue, it’s dancing around
There’s no more blue, for me and you
And I think to my self, what a wonderful world


Salmon sashimi, ikan salmon yang disajikan mentah, makanan para samurai dan geisha ini benar-benar mampu menghipnotisku. Dagingnya yang lembut tak berserat, warna manis nan menggoda, ketebalan yang pas di lidah, kesegaran yang terjaga, disajikan sederhana dengan selembar daun mint dan sejumput irisan lobak di piring kaca sungguh menjadi bandul Romy Rafael untukku. Aku suka ikan, tak pernah ku bermasalah dengan mereka. Tapi ikan yang satu ini sanggup membuatku iri pada orang-orang Jepang. Sungguh tidak adil. Bagaimana mungkin mereka selalu makan ikan seperti ini, sedangkan seumur hidupku ikan-ikan yang kukenal tak satu pun yang mendekati ikan mereka rasanya.

Salmon sashimi, jika sudah kudapati mereka dihadapanku barulah kumulai ritual itu, salah satu ritual menikmati hidup, namaku. Keluarkan sumpit dan patahkan jadi dua. Tuang kecap asin ke wadahnya. Bubuhkan bubuk cabai di atasnya. Aduk hingga merata. Ambil satu salmon dengan sumpit. Jepit dan ceburkan ke dalam kecap bercabai. Bolak-balik ia. Jepit dan buka mulut lebar-lebar. Lalu, ham! Berdansa ia di lidah. Memanjakan sang lidah dengan kelembutan seratnya. Membelah ia dengan mudahnya. Berat hati kumenelannya. Oh, kolaborasi yang Indah wahai salmon, duhai kecap! Tak mampu kutemukan cara lain untuk berterima kasih, selain dengan terus menikmati kalian. Terus dan terus.

Sashimi di lidah, sahabat di sebelah, Louis Armstrong di telinga. Oh, betapa indahnya dunia!


sashimi oh sahimi..


Perlengkapan perang



Kolaborasi indah


What a wonderful world..


Sunday, November 1, 2009

Sudah di Jendela


Di luar sana memang terlihat menarik, membuatku penasaran di saat yang bersamaan. Hasratku meluap-luap untuk mencicipi udaranya, hembusan anginnya, air hujannya, aromanya, terik mentarinya, ritmenya, musiknya, debunya, rasa airnya, dinginnya, gunungnya, sungainya, serangganya, binatang buasnya, makanannya, kudapannya, jalan rayanya, gedung-gedungnya, alat transportasinya, keramahannya, kekejamannya, keanehannya, ketenangannya, kebisingannya, harta karunnya, kebanggaannya, aibnya, nafasnya, bahkan saljunya, sesuatu yang belum pernah kulihat dengan mata kepalaku sendiri.

Masa Sekolah Dasar lah yang memperkenalkanku pada banyaknya penghuni bumi, tetapi hasratku ini sepertinya terpupuk semenjak aku benar-benar mendalami bahasa lain, bahasa lain ketiga yang kupelajari tepatnya, dan semenjak aku bersentuhan secara nyata dengan para penghuni bumi dari belahan lain. Mengagumkan rasanya, ketika aku dapat menangkap pesan yang mereka sampaikan, saat aku dapat mengirimkan isi kepalaku dengan caranya, terlebih saat kami tertawa atas lelucon yang kami anggap lucu. Membanggakan rasanya, saat orang lain menatapku kagum ketika aku berbicara dengan cara yang berbeda. Membuatku ketagihan untuk mendalami cara-cara lain.

Di luar sana terlihat amat sangat menarik, terlebih saat aku mulai melihat gunungnya, sungainya, jalan rayanya, gedung-gedungnya, alat transportasinya, harta karunnya, kebanggaannya, aibnya, bahkan saljunya, melalui mata orang-orang yang ada dalam lingkaranku. Saat aku mulai mendengar ritmenya, musiknya, ketenangannya, kebisingannya, melalui telinga mereka. Bahkan aku dapat merasakan udaranya, hembusan anginnya, air hujannya, aromanya, terik mentarinya, debunya, airnya, dinginnya, makanannya, kudapannya, keramahannya, kekejamannya, keanehannya, kebanggaannya, aibnya, bahkan nafasnya melalui kata-kata dan pantulan cahaya dari mata mereka. Sayangnya hasratku mengenai serangga dan binatang buas belum terpuaskan. Campur aduk rasanya mengalami semua pengalaman itu melalui roh orang lain, senang, puas, tambah penasaran, bangga, ketagihan, bahkan iri, semuanya bercokol di hatiku.

Rohku ingin sekali ke luar sana, rasanya seperti sudah ada di jendela, benar-benar dekat, tapi belum saatnya, aku tahu. Right thing will come at the right time, aku percaya kata-kata bijak itu. Yang masih belum benar-benar kupunya, dan sedang kukumpulkan adalah keberanian, kecerdikan, dan kematangan persiapan, tetapi sepertinya aku juga membutuhkan sebutir keberuntungan, yang dapat memanggil rohku untuk mengalami semuanya sendiri, tanpa perantara. Karena aku benar-benar ingin tahu seperti apa di luar sana. Aku sudah sampai di jendela, dan akan tiba saatnya aku loncat keluar, perlahan tapi pasti, diam sesaat untuk memejamkan mataku, menghirup udara demi mempertahankan kesadaranku, lalu tersenyum, senyum hasil kesabaran dan perjuangan untuk keluar jendela. Dan kan kumulai proses belajarku yang baru, di, dari dan melalui bumi ini.