Thursday, November 19, 2009

Sahur Bhineka Tunggal Ika (1 Ramadhan 1430 H)

Mari kubawa kau ke pagi itu, jam tiga kurang sepuluh di meja makan dan dapur kami. Kala kami sedang bersama-sama menyiapkan makanan untuk sahur pertama Ramadhan ini, sahur pertamaku tanpa keluarga. Bukan terpaksa, tapi pilihan. Kami pagi itu terdiri dari lima wanita berusia sekitar dua puluhan, kita pukul rata saja. Ada asli Sunda, Jawa tulen, campuran Jawa Lombok tapi lebih bangga menjadi orang Jawa, Sunda Cina dan bangga akan keduanya, satu lagi campuran Batak Betawi dan hanya bangga menjadi orang Batak, itu aku. Kau sudah siap? Mari kita mulai!

Kau lihat itu aku? Yang sedang menggoreng tempe bacem kiriman mama di dapur mini ukuran SSSSSD (sangat sangat sederhana sekali sumpah deh). Empat orang lainnya sedang duduk di kursi ruang makan sambil menyiangi sayur bayam dan jagung hasil belanja semalam. “Ada temukunci gak?” tanya salah seorang Jawa. “Nggak, gak perlu lah pake temukunci segala,” jawab Sunda Cina yang menurutku paling jago masak. “Ya sudah, tapi kita masih punya gula kan?” tanyanya lagi. “Masih, tapi kan sayurnya gak akan pake gula,” jelasnya sambil menjawab pertanyaan tersirat dan tak tersirat. Sudah rahasia umum kalau orang Jawa mewajibkan semua makanan berasa manis. “Hahahahaha…” itu aku tertawa bahagia karena tidak harus makan sayur manis layaknya kolak. Tawaku bersambut kecewa dua orang Jawa, walau Jawa kedua ikut tertawa dan tidak protes. Nah kalau tidak suka protes itu salah satu nilai jual wanita-wanita Jawa, nrimo dalam bahasa mereka. Pria mana yang tak suka kalau pasangannya cuma bilang, “enggeh…enggeh, Mas!”, yang artinya iya, ok, tidak masalah, Mas.

Di sela proses masak memasak tiba-tiba saja aku merasakan ada sesuatu, “Aduh, gw mau kentut!” umumku sambil berlari ke arah lorong biar yang lain tidak mati keracunan karena gasku. “Kentut aja pake bilang-bilang, kalau orang Jawa pasti langsung kentut, tapi diam-diam. Hahahahaha…” aku Jawa satu yang langsung diiyakan oleh Jawa dua. “Kalau orang Sunda mah, kentut aja langsung yang kenceng! Hahahahaha…” kalau itu kentut versi Sunda yang blak-blakan.

Sambil ketawa, Jawa satu bolak-balik melihat ke kaki semua orang, termasuk kakiku. “Sendal hitamku mana yah?” tanyanya sambil berteriak. Sendal hitam itu sedang menempel di kakiku, tadi pagi langsung kupakai tanpa permisi. Walau tahu apa yang dia cari, aku tetap tak bergeming. Yang lain menjawab tidak tahu sambil tengak-tengok, basa-basi, mencoba membantu menemukan apa yang dicari. “Ih susah yah, udah disindir juga, tetep aja dipake. Bukan balikin sendal gw!” marahnya sambil mengambil alih sendal di bawah meja makan yang tepat di bawah kakiku juga. “Hahahahaha… Orang Batak disindir, mana ngaruh..” jawabku santai, bukannya berpikir dan merasa bersalah.

Waktu makan tiba, sudah ada lima piring dan sendok di atas meja. Kami ambil satu-satu piring itu. “Gw mau piring yang paling gede ah!” ujarku sigap biar bisa ambil makanan lebih banyak. Yang lain langsung bilang, “Dasar!”. “Ih, aku gak mau pake piring gompal!” si koki ikut-ikutan jadi pemilih. “Hahahaha.. dasar Cina!” timpal si Jawa. Koki Cina kami mempercayai mitos bahwa jikalau kita makan menggunakan piring yang sudah gompal, maka hal buruk akan menimpa. Ada-ada saja memang orang Cina itu. Saat kami sudah mulai makan, dia masih sibuk mengambil tisu dan mengelap piringya. “Ngelapnya harus searah dengan mata angin ya mbak?” guyonku yang langsung disambut dengan tawa semuanya.

Jadilah kami makan sayur asin buatan koki andalan kami, semuanya sepakat kalau sayur itu memang asin, keasinan tepatnya. Tentu saja si koki bilang, “Nggak kok, ini udah pas banget rasanya!”. “Gw putuskan besok-besok gw yang akan masak sayur!” itu si Jawa yang sedang susah mati menghabiskan sayur di piringnya. Selanjutnya kami sibuk makan, cuci piring dan siap-siap menyambut imsak.

Selamat berpuasa semuanya! Sampai jumpa di sahur berikutnya.

Wednesday, November 18, 2009

Bercerita bersama sore – delapan

Madrasah Ibtidaiyah Asasul Islam. Setingkat SD tetapi khusus mempelajari agama Islam. Itu agamaku, Sore. Dipilihkan oleh Mama dan Bapak. Agama yang sudah Bapak punya dari dia lahir, yang baru Mama punya beberapa saat sebelum dia menikah. Mualaf, namanya. Mama mualaf, tak mengerti banyak, jadi tak bisa mengajari anak-anaknya tentang agama. Bapak tahu banyak, sekolah Madrasah juga katanya, tapi tak mau mengajari kami agama. Mama harus belajar, aku belajar, Aran juga belajar.

Setiap selepas maghrib, Mama pergi ke rumah seorang guru ngaji dekat rumah. Belajar mengaji ia, juga sholat. Aku ingat Al-Quran yang selalu dibawanya, satu-satunya yang kami punya. Aku masih pakai Juz-Amma, masih belajar juga. Itu kumpulan surat-surat pendek di Al-Quran, tak tebal dan berat seperti Al-Quran. Aku dan Aran juga mengaji, bersama teman-teman, di rumah Kak Mala. Belajar sholat juga. Tak hanya bersama Kak Mala, pernah juga dengan Tante Anggi, dan beberapa orang lagi yang aku tak ingat namanya. Aku dan Mama masing-masing punya satu mukena. Punyaku kecil berbahan katun. Punya Mama lebih besar dan berbahan licin. Kalau sajadah, hanya satu, warna hijau. Aran punya satu sarung juga, dominan ungu. Aku suka pinjam untuk main ayunan. Kami bertiga belajar agama, Bapak tak perlu, sudah tahu ia.

Saat usiaku delapan tahun, Mama memutuskan memasukanku ke sekolah ini. Sebuah bangunan sederhana sekali, di belakang masjid At-Taqwa. Persegi panjang yang di dalamnya ada lima kelas, satu ruang guru, sebuah mushola sekaligus sebagai ruangan multi fungsi, satu kamar mandi yang untuk ke sana kami harus melalui sumur dan tempat wudhu. Sumur sungguhan, Sore! Sumur yang cukup dalam, kalau diintip. Dari sumur ini lah kami dapatkan air wudhu. Yang kemudian dilanjutkan dengan sholat berjamaah di mushola, sholat ashar. Kau pasti tahu itu, Sore. Sholat ashar itu khusus untukmu.

Pagi hari di Madrasah ramai katanya, kata teman-temanku yang juga sekolah pagi harinya. Tapi kala siang, tak banyak orang. Hanya ada empat kelas, yang dipegang oleh empat guru. Kelas satu punya ustad Hasanudin, kelas dua ustadzah Annisa, kelas tiga ustad Syamsudin, kelas tertinggi punya ustad Burhanudin. Nama ustadku berima, ya? Ustad Hasanudin suka kopi encer dan manis, ustadzah suka teh manis hangat, ustad Syamsudin dan Burhanudin kopi pahit. Kami harus tahu itu, karena itu salah satu tugas piket, selain menyapu kelas dan menghapus papan tulis. Di rumah seberang, rumahnya Ipit, murid madrasah pagi, kami biasa membuat minuman. Ambil gelas-gelas dari ruang guru, bawa dengan nampan, lalu cuci beserta alas dan tutupnya sambil menunggu air mendidih, kemudian masukkan teh, gula dan kopi dan tuang air panas sambil mengaduknya. Bawa keempat gelas ke Madrasah lagi, melewati kopaja-kopaja yang terparkir. Ipit punya banyak kopaja, Sore. Koperasi Angkutan Jakarta.

Teman sekelasku tak banyak, ada Suci, Rusdah, Cecep dan Asep. Iya, cuma berlima. Sepi, tapi bukan masalah. Sebab kami semua semangat belajar, selalu bermain dan bercanda bersama; main tebak-tebakan, benteng, tak jongkok, karet, juga kasti. Aku, Suci dan Rusdah harus memakai jilbab, warna putih. Meski rok kami berkontradiksi dengan hal itu, rok mini. Kemeja putih tangan pendek, rok hijau dan jilbab putih. Selalu begitu. Kalau Cecep dan Asep hanya berkemeja putih lengan juga pendek dan kemeja panjang hijau. Suci lebih muda setahun dari aku dan Rusdah. Anak Bang Jamal, pemilik warung besar di depan SD. Rusdah temanku di SD paginya, bersama kami dari pagi hingga sore. Rusdah punya cara unik menulis, pulpen di tangan kanan dan penggaris di tangan kirinya. Biar tegak dan rapih. Dia yang mengajarkanku rahasia menulis kaligrafi bahasa Arab biar indah. Rahasia, Sore, rahasia. Cecep sekolah di Madrasah ini paginya, datang lagi ia siang hari karena suka belajar katanya. Agak aneh memang, tapi dia memang pintar dan rajin belajar. Asep si penyemarak suasana karena kelakuannya yang lucu, adalah anak pemilik warung kecil di depan Madrasah. Ibu dan Bapaknya selalu di sana, tempat kami jajan gorengan dan limun. Permainan favoritku kala itu adalah cerdas cermat. Kami datang lebih awal sebelum kelas dimulai, biasanya aku dan Rusdah sudah menyiapkan soal-soal; dari pelajaran kami mauoun pengetahuan sosial. Sementara Suci membawa hadiah, chiki, cokelat atau minuman kaleng yang diambilnya dari warung ayahnya. Cecep dan Asep tentu saja jadi peserta. Pada akhirnya, siapapun yang menang kami akan makan hadiah-hadiah tadi bersama. Senangnya. Sayangnya kebersamaan kami hanya dari kelas satu hingga kelas dua, di tahun ketiga Asep dan Rusdah berhenti. Aku lupa kenapa.

Di tahun itu juga ada dua murid baru, seperti pengganti, kebetulan. Bahtiar dan Nurjanah. Keduanya teman sekelas Cecep di kelas pagi. Tertarik mengikuti kelas siang juga karena kekurangan aktivitas, katanya. Lebih enak di sekolah daripada di rumah. Jadilah kami berlima lagi. Nurjanah tinggal dekat Madrasah, pun Bahtiar. Kulitnya putih bersih, berbeda dengan anggota keluarganya yang lain. Karena sering wudhu katanya, aku percaya. Bahtiar tinggal dekat sawah, yang di pinggirnya ada pohon mete besar. Pohon mete yang menjadi saksi petualangan kami selama dua tahun berikutnya. Kami berlima datang lebih awal agar bisa main ke sawah. Ada juga sungai kecil yang airnya bening. Bermain kami di sana, menyebur ke sungai, melalui padang rumput bercapung, lalu berjalan setapak demi setapak menelusuri sawah. Ada orang-orangan sawah juga, Sore! Yang dipakaikan baju, kumal, agar lebih mirip seperti manusia hingga tertipu para burung.

Tempat terindah kala itu, di atas pohon mete. Berdahan utama besar dan kuat, serta beberapa dahan kecil yang juga kuat menopang tubuh kami. Memanjat kami, biasanya aku yang paling tinggi. Tidak, tidak takut jatuh aku, Sore. Aku suka di atas sana. Persis di bawahku ada sungai kecil, di hadapanku terhampar padi-padi hijau yang setia menyapa; selamat siang. Ditambah angin sepoi tak bosan menyapu lembut pipiku. Setelah menghabiskan kurang lebih satu jam di sana, berlari kami segera ke Madrasah, bahasa Arab yang artinya sekolah. Berlari karena kami dengar suara bel berbunyi. Berlari sambil tertawa riang. Mengingatnya saja membuatku merindukan semuanya, Sore. Teman-teman, pohon mete, Madrasah.

Di halaman Madrasah ini aku menerima kabar gembira. Kabar yang disampaikan Aran setelah mengayuh sepedanya sekuat tenaga dari rumah, biar sampai tepat ketika ku pulang. “Teteh, ada pos, buat Teteh!” katanya sambil memberikan sebuah kertas tebal berukuran kecil padaku. Ah, kartu pos dari idolaku, Sore! Eno Lerian. Aku ingat berbulan-bulan sebelumnya pernah mengirimkan surat untuknya. Surat yang kutulis di atas kertas surat berisi kekagumanku padanya. Ingin berteman, kataku. Ih, senang sekali saat itu, Sore! Kupamerkan langsung pada teman-teman. Aran juga senang, karena tetehnya berteman dengan artis. Kami bisa dibilang teman kan, Sore? Kan sudah berkirim surat!

Walau Eno Lerian sudah pernah menyambangi Madrasahku, tapi tetap tak menjadi tenar sekolah kami ini. Tak dianggap. Hingga untuk melaksanakan ujian nasional pun kami harus menumpang di sekolah lain, yang lebih besar, yang lebih banyak muridnya, maksudku. Setelah latihan soal-soal yang bertubi-tubi, ustad Burhanudin tak lupa melengkapi dengan wejangan-wejangan agar kami tak gugup hingga bisa menyelesaikan semua soal dengan baik. Diantarnya kami tiga hari itu ke sebuah Madrasah yang letaknya tak terlalu jauh dari tempat kami, cukup sekali naik angkot saja. Sekolahnya bertingkat, banyak sekali murid di sana, bercampur, terlihat dari seragam yang berwarna-warni. Kami ya berlima saja, aku, Suci, Cecep, Nurjanah dan Bahtiar. Selama kami mengikuti ujian, ustad setia menunggu di luar.

Hasil ujian diumumkan beberapa minggu setelahnya. Lulus semua. Nilai sangat memuaskan, lebih dari cukup. Bahagia, kami bahagia, ustadz sangat bahagia. Kelulusan dirayakan dengan sebuah acara perpisahan di ruang mushola yang disulap menjadi panggung dan kursi-kursi penonton. Dicampur, murid kelas pagi dan kelas siang, jadi banyak, ramai. Mengaji, saritilawah, menyanyi, menari, berpuisi. Tak lupa saling bertukan pas foto yang sudah kami siapkan sebelumnya, beserta alamat dan nomor telepon, kalau ada. Selamat tinggal para sahabat, selamat tinggal wahai ustadzah dan ustad. Empat tahun yang menyenangkan dan membanggakan. Aku mengerti banyak tentang Islam sekarang. Terima kasih.

“Ega itu, satu-satunya cucu yang lulus SD dan Madrasah bersamaan. Satu-satunya,” ujar almarhum Mbahku, bangga.

-bersambung-

Tuesday, November 17, 2009

Sepatuku


Sepatuku, setia menghangatkan para kaki.
Kaki yang setia menopang tubuh ini.
Sepatuku, berwarna cokelat terbuat dari kulit.
Kulit apa ku tak tahu yang pasti lembut juga membalut kulit.

Sepatuku, dibeli dengan uangku sendiri.
Uang hasil bekerja setiap hari.
Sepatuku, modelnya sederhana, tak manis juga cantik.
Tapi unik dan menarik.

Sepatuku, kusuka karena tak bertali.
Tali yang merepotkan kalau sedang buru-buru pergi.
Sepatuku, berpotongan pendek tepat di bawah mata kaki.
Tetap bagus walau tanpa kaos kaki.

Sepatuku, ringan dipakai berjalan pun berlari.
Berlari mengejar bis kota yang menghitami kota ini.
Sepatuku, beratap keras baik untuk melindungi.
Melindungi para kaki saat stiletto mampir menyambangi.

Monday, November 16, 2009

Bercerita bersama sore – tujuh

Bukan, seragam SD itu warnanya merah putih, Sore. Ih, kau harus percaya padaku! Aku kan pernah SD. Iya, bertahun-tahun yang lalu. Tahun berapa ya? Seribu sembilan ratus delapan puluh sembilan, usiaku enam tahun waktu itu. Tidak jauh, tetap di Pejaten, tinggal menyeberang saja. Menyeberangnya dari depan masjid At-Taqwa. Iya, bisa berjalan kaki, naik angkot juga bisa. Mikrolet warna biru, bayarnya seribu. Tapi aku hampir selalu menumpangi kakiku untuk bersekolah. Pernah itu beberapa kali naik mikrolet, iseng saja, pernah juga nebeng tetanggaku yang anaknya sama sekolahnya, di SDN Pejaten Timur 07 pagi. Iya, memang ada sekolah pagi dan petang. Aku, pagi. Mama bilang lebih bagus pagi, masih segar, masih semangat. Alasan yang kemudian bertentangan dengan keputusannya memasukkanku ke Madrasah, siangnya.

Kelas satu, dengan tubuh kecilku, tas besar bergambar warna merah dan putih, tempat pensil kaleng yang selalu ribut setiap diajak jalan, sepatu kets warrior hitam putih yang kebanjiran kala hujan, dua pita merah di kepala seperti tanduk saja, berangkatku ke sekolah tiap paginya, Senin sampai Jumat, jam setengah tujuh. Tak sendiri, selalu sama Evi. Kalau Evi, beberapa kali sendiri, saat ku sakit. Evi, tak pernah sakit. Anak Indonesia sejati dia, Sore. Evi, tetanggaku, laki-laki, berkulit gelap, Betawi campuran apa, aku lupa. Tulisannya keriting, bikin pusing. Kalau menghapus tidak bersih, kalau mau bersih, harus sobek bukunya. Selalu begitu. Kalau sedang baik, kuhapuskan tulisannya. Pintar, tidak lebih pintar dariku, pun di bawahku. Rajin, jauh lebih rajin dariku, selalu menyimak pesan Ibu guru. Suka jajan, kalau makan berantakan. Berani, tidak nakal. Aku pun tidak nakal, tapi penakut.

Ada satu hari yang paling kubenci, datang tiap enam bulan sekali. Hari periksa gigi. Aku benci sekali. Tak suka. Evi tak benci hari itu, tak pula suka. Dia baik-baik saja. Hari itu, tak pernah diumumkan sebelumnya, selalu menjadi kejutan. Tiba-tiba saja di jendela kelas sebelah kiri, terlihat pasukan berjubah putih dengan ibu cantik di paling depan. Ibu cantik itu dokter gigiku, dokter gigi kami. Praktek di Puskesmas Pasar Minggu, kata Mama. Ah, tak bisa lagi aku konsentrasi belajar, Sore! Tak bisa. Jantungku berdegup kencang, wajahku memerah, dudukku gelisah, tak lupa keringat melengkapi semua, mengalir dia pasti di sela telapak tangan. Bu guru harus ke luar sebentar, ke ruang guru. Untuk berkoordinasi, mungkin. Aku pun harus ke luar sebentar, ke ruang ganti baju putri. Untuk bersembunyi, tentunya. Menyelamatkan diri. Sudah dua kali kugunakan trik ini, berhasil. Ibu guru sibuk, dokter sibuk, teman-teman sibuk, semua orang sibuk, tak ada yang akan menyadari ketiadaanku.

Di sana gelap, lembab dan bau. Tapi tak apa, jauh lebih baik dari bau obat, sarung tangan plastik, senter di kepala, besi besar penyodok gigi, mangkuk pisang penampung mayat-mayat gigi, kapas bercairan pahit dan darah. Maka, bersembunyi ku di sana, sendiri, sunyi. Hingga tiba-tiba kudengar derap langkah perlahan mendekat, makin dekat, tambah dekat. Ngiiikkk... Itu pintu membuka, Sore. Pintu tua, aku tahu dari bunyinya. Datang lagi langkah itu, ke arahku, ke tempat persembunyianku. Tok tok! Suara pintu diketuk. Bukan, bukan pintu tadi, tapi pintu yang ini. Sepatu itu, pasti punya Ibu guru. ”Keluar Teh!” itu suara Mama. Hampir copot jantungku. ”Iya Ma,” jawabku sambil menggeser kunci pintu. Belum sempat ku melihat wajahnya, langsung bergerak tubuhku, ditariknya. Dengan tenaga besarnya, seperti biasa, Mama menggenggam erat sikuku, membawaku ke ruang guru tanpa menoleh sedikitpun. Mama tak melihat wajahku, tak menghiraukan anak-anak yang sedang menertawakanku. Ditarikku hingga ke ruang guru, sesaat yang amat singkat kusapu pandangan, ada Ibu dan Bapak guru yang senyum-senyum, ada juga Ibu dokter dan kawan-kawannya yang, juga, tersenyum. Dan ah, akhirnya ada juga yang tak ingin menertawakanku, serius sekali wajahnya, teman sekelasku yang duduk di hadapan Ibu dokter yang sedang memasukkan kapas yang kukenal aromanya ke dalam mulutnya, ”Gigit!” kudengar perintah itu. Temanku berdiri, selanjutnya giliranku menduduki kursi itu.

Jantungku berdegup kencang, hingga bunyinya tak bisa ku tahan, menyusup ke telinga yang lain. Tak bisa ku mendengar, sunyi. Tak bisa ku duduk santai, tegang. Tak bisa ku menganga, kaku. Mama seketika menjadi asisten dokter, membuka paksa mulutku yang kemudian dikunjungi besi Ibu dokter. Seperti biasa, besi itu akan diketokkan ke beberapa gigi, seperti bilang, ”Assalamualaikum!” dan gigi-gigiku mau berpura-pura tidur saja atau sedang pergi hingga tak harus menerima kunjungannya. Lalu entah berdasar apa, Bu dokter menemukan gigi yang harus dienyahkan dari mulutku, padahal aku tak bermasalah dengannya. Takut, aku takut, pasti sakit sekali, dan berdarah. Oh, Sore, ku memberontak, harus lari, pikirku saat itu. Seketika itu Bapak guru olah raga, Pak Sugeng, membantu Mama memitingku. Ibu Dokter dan asisten berjubah putihnya menunaikan tugas dengan sigap, pun Mama dan Pak Sugeng. Hilang rasa, seketika sibukku menendangi mereka. Energiku saat itu dikerahkan seluruhnya untuk berontak, meronta, tak jua merasa. Hingga kudengar perintah itu, ”Gigit!” Sudah selesai Sore, pergi sudah gigiku, secepat itu. Rasa ngilu kemudian menyambangi. Dan oh, baju Mama, Pak Sugeng dan Ibu dokter terciprat darahku. Haha! Menyenangkan rasanya. Ini yang namanya win win solution, semua menang, semua senang. Dan kedatangan Mama ke sekolah hari itu masih menjadi misteri hingga kini.

Misteri lain, Sore, surat cinta. Kau pernah menerima surat cinta? Aku pernah. Di SD ini kali pertama aku menerimanya. Surat yang ditulis di selembar kertas bergambar bunga, beraroma tajam, dan ku tak suka. Aku juga suka membeli kertas surat, tapi bukan yang norak. Aku membelinya bersama Aran, di Tetap Segar, toko lumayan besar dekat Pasar Minggu. Maka itu, kubaca surat cintaku yang, sejujurnya, tak sepenuhnya ku mengerti. Surat cinta pertama yang kuterima di kelas empat dari murid SD seberang; Iya, jadi SDku berhadapan dengan SD lain, 09 pagi. Jika burung-burung melihat dari angkasa sana, 07 dan 09 membentuk persegi panjang, tiap dari mereka membentuk huruf L. Siapa namanya ya? Aku lupa. Tapi aku ingat Ayahnya punya pabrik tempe, hingga teman-temannya menjuluki juragan tempe. Isinya kurang lebih adalah pernyataan cinta, sepertinya. Anehnya aku tak tersanjung, tak juga tersinggung. Tak penting, jadi kubuang saja suratnya setelah kutunjukan ke beberapa teman wanita. Di kelas enam ada lagi surat darinya yang lagi-lagi dititipkan ke tetangganya, Rusdah, teman sekelasku. Kali ini aku mengerti, Rusdah juga. Kami tertawa, tak bisa berhenti. Isinya begini Sore, kurang lebih, dia tak suka lagi padaku jadi dia memutuskanku, tak mau lagi jadi pacarku. Dulu, pacaran itu artinya laki-laki dan perempuan yang saling suka lalu saling berkirim surat. Aku tak suka padanya, tak pernah kumenulis surat cinta. Tapi itulah, aku diputuskan, untuk pertama kalinya, oleh anak SD tetangga, sang juragan tempe. Tidak, aku tidak sakit hati, Sore. Aku belum tahu apa itu sakit hati.

Eh, tapi aku tak tahu apakah pengalamanku yang satu ini bisa dibilang sakit hati atau tidak. Kau tahu kalau Mama itu guru, Sore? Iya, guru SD tapi bukan di SDku. Semua orang tahu, teman-teman juga guru-guru. Aku bangga sekali menjadi anak guru. Mama cantik sekali kala berseragam mengajar, Sore. Dengan kemeja lengan pendek beremblem, rok pendek warna senada, cokelat, dan sepatu berhak. Cantik sekali. Tapi ada saat tertentu aku tak bangga beribu seorang guru. Aku ingat itu di kelas empat, kelas kami digabung, A dan B. Aku selalu di kelas B, anak-anak yang katanya lebih pintar ada di kelas A. Aku dan Evi selalu bersama di kelas B. Ibu guru mengadakan cerdas cermat sederhana dadakan. Memang benar anak-anak kelas A pintar-pintar, tapi tak lebih pintar dari kami, menurutku. Maka saat aku, Evi dan teman-teman kelas B lain melahap banyak pertanyaan, teman-teman dan Ibu guru kelas A kaget sekali. Puncaknya, saat aku mengacungkan jari kala ingin menjawab pertanyaan terakhir bernilai paling tinggi dan menentukan siapa pemenangnya, setelah beberapa lama tak ada yang mengacung sebelumnya, Ibu guru mempersilahkanku untuk menjawab. Dan iya, jawabanku benar, Sore. Teman-teman bersorak, ramai. Menang kelas kami. Ibu guru kelas A dan teman-teman bilang, ”Wajar saja, anak guru!” Sejujurnya aku tak yakin akan pesannya, tapi entah mengapa aku tak suka, tersinggung. Aneh ya aku, Sore?

Kali lain setiap testing di akhir catur wulan, nilaiku selalu bagus, termasuk yang paling bagus, malah. Tapi Ibu guru seringkali mencurigaiku yang sudah tahu soal sebelumnya, karena Mama. Iya, karena Mama seorang guru, jadi Mama yang memungkinkan untuk mencari tahu soal sebelumnya pasti memfasilitasiku guna tak perlu menanggung malu karena anaknya, yang anak guru, tidak pintar. Tapi di tahun keenam berhasil kubungkam mereka semua dengan meraih nilai kedua tertinggi di sekolah pada ujian akhir kelulusan yang, pastinya, Mama pun tak bisa membantuku karena kerahasiaan soal-soal ujian yang tak diragukan lagi. Ah, Ibu, Bapak guru, teman-teman, kalian memang benar. Aku pintar karena aku anak guru, anak Mama.

Setelah hari cerdas cermat itu, aku dapat teman baru dari kelas A, Herman namanya, yang ternyata tetangga aku dan Evi juga. Jadilah kami bertiga berangkat dan pulang bersama. Herman dan Evi banyak disukai teman wanitaku, kenapa ya? Sepertinya karena mereka pintar. Diapit mereka berdua membuatku disukai teman-teman wanita, jadi sumber informasi; Rumah Herman di mana? Dekat sama rumah Evi juga? Kalau pulang kalian lewat mana? Suka belajar bersama juga? Evi suka jajan apa? Herman punya kakak tidak? Pernah berantem? Baikan Herman atau Evi? Selalu seputar mereka. Tak apa, aku juga suka. Mereka, Evi dan Herman kesukaanku. Kami punya kesukaan yang sama, sama-sama suka jajan gorengan sebelum pulang, untuk dimakan sepanjang perjalanan. Sama-sama suka jalan kaki di samping rel kereta, lalu menyeberanginya di pagar besi yang menganga. Tengok kiri tengok kanan sambil mendengar suara kereta, aman, berlari kami menyeberangi dua jalur kereta sambil berteriak. Tidak, cuma aku yang berteriak, yang lain tidak. Terpingkal bahagia kami, maut tertaklukan. Tapi ini rahasia, Sore. Rahasia besar. Jika ketahuan bisa dimarahi kami. Kenapa tidak menyeberang di depan sekolah sama Bang Mada? Tapi kan Bang Mada juga menantang maut, mana dia tahu kalau kereta mau lewat atau tidak? Sama saja seperti kami. Iya kan, Bang Mada?

Hanya di SD ini lah aku dan Aran bersekolah bersama, sisanya, berbeda. Saat ku kelas empat, Aran masuk ke sekolah yang sama, kelas satu ia. Waktu itu kulitnya belum hitam kelam, masih cokelat bersih, belum banyak main. Enak sama-sama? Apanya yang enak? Aku tak ingat kesenangan bersekolah bersama adikku itu. Kau tahu, Sore. Di setiap sesaat sebelum istirahat kedua, keluar main kami menyebutnya, Aran akan setia mengintipku di depan pintu kelasku. Awalnya aku pikir dia belum punya teman, aku melupakan sifat supelnya yang tak kupunya. Pastilah sudah punya banyak teman ia, bahkan sampai murid-murid kelas enam. Kuhampiri dia, yang mendekat membisikkan sesuatu ke telingaku, ”Teteh, uang Aran habis. Aran lapar, minta uang ya?” Ada udang di balik batu. Itu menjadi rutinitas yang disadari Ibu guru, yang kemudian menceritakannya pada Mama saat bagi rapor, ”Ega sama Aran akur banget ya? Setiap istirahat kedua pasti Aran nyamperin kakaknya, Bu.” Mama senyum-senyum bangga, aku, tertunduk saja.

Pernah itu satu hari saat aku sedang belajar, Bu Syarifah, kepala sekolah datang ke kelas, memanggilku. Ada apa ya? Kalau Ibu kepala sekolah sampai memanggilmu, tandanya ada masalah besar, Sore. Permisiku pada Ibu guru lalu berjalan mengikuti Bu Syarifah ke ruangannya. Tak dinyana tak diguda, sudah ada Aran di sana, duduk berdampingan dengan anak laki-laki, kelas enam. Aran duduk santai, si kelas enam duduk tegak sambil memegangi sapu tangan menutupi hidungnya. Bu Syarifah mempersilahkanku duduk lalu bercerita ia. Aran menonjok anak laki-laki itu, katanya, sampai hidungnya berdarah. Aku diminta untuk menyampaikan pada Mama untuk datang esok, bertemu Bu Syarifah juga. Di sela cerita Aran berkata, ”Tapi kan Aran dipalak, Bu!” Terjawab sudah pertanyaan di benakku. Tak mungkin adikku memukul tanpa sebab, karena Bapak bilang, kalau kita dipukul baru boleh pukul balik. Tidak boleh itu memukul duluan. Aku hanya menjawab, iya.

Sepulangnya dari sekolah kudapat cerita selengkapnya. Si anak kelas enam berbadan besar tadi memalak Aran, lalu ditolaknya, tentu saja. Tapi si kelas enam memaksa, dipojokannya Aran kemudian Aran mendorongnya. Kesal dia, ditarik Aran ke arahnya, paksa. Lebih kesal lagi, Aran menonjoknya sekuat tenaga, lunglai dia, berdarah. Haha! Tertawa kami hingga menangis sepanjang jalan, tak sabar ingin cepat tiba, bercerita pada Bapak. Bapak tertawa, sampai nangis juga. Malamnya kusampaikan pada Mama, tentang undangan Bu Syarifah. Aran diminta cerita, menurut versinya, tentu saja. Setelah itu Mama tertawa, juga. Tapi tak sampai menangis ia. Tak apa, kata Mama. Aku lupa esoknya kasus perkelahian itu dimenangkan oleh siapa. Tak kami bahas lagi di rumah. Sudah berlalu, tak penting lagi.

Aku lulus tiga tahun lebih dulu, Aran melanjutkan ceritanya sendiri setelah itu. Entah bagaimana dia jajan di istirahat kedua. Ah, dia tidak meniru cara si kelas enam kan, Sore?

-bersambung-

Sunday, November 15, 2009

Untuk Madame, yang keseribu kalinya



Aku takut. Bagaimana jika satu hari nanti tak dapat kudengar lagi suaranya? Tak mampu lagi kubaca tandanya? Lebih mengerikan lagi, tak mau kuhiraukan semua, semua pintanya.
Jangan. Aku tak mau jadi aku yang itu.
Wahai semua, alam semesta, berdoalah untukku. Berdoalah untuk kami. Agar tak kudung tali ini. Izinkan telingaku selalu mengindahkan suaranya, terangi mataku hingga tak henti kutatap wajahnya, taklukan hatiku untuk segala pintanya. Semua.

Pagi itu, dua hari lalu, melintas sepintas tak kunjung tuntas, wajahnya. Samar. Tapi kukenali ia. Hadir sehari penuh, di hariku.
Pagi itu, dua hari lalu, terngiangku akan katanya, tentang kesetiaan, tentang pengorbanan. Betapa tak boleh ku menjadi sombong setelah semuanya. Tak ingin ia, jika ku menjadi seorang bakhil akan waktu dan energi untuk akarku. Kecewa sekali ia, jika tangan-tangan kami tak lagi saling tertaut, erat. Meneruskan semua yang telah ia torehkan, yang telah ia ceritakan, dengan tinta hitam nan membanggakan di buku kami. Pastilah sedih ia jika harus menyaksikan jari-jari anaknya merenggang, perlahan saling melepas; jari dengan jari, kulit dengan kulit, sentuhan dengan sentuhan, akar dengan akar.

Aku takut. Bagaimana jika satu hari nanti tak kulihat lagi wajah-wajah mereka? Anak-anaknya. Mereka, kami, semua. Bagaimana jika jenuh kami tertawa bersama? Bagaimana jika akar telah terbabat semua? Tak tersisa. Bagaimana jika ternyata anak lah pembunuh mimpi-mimpi sang Bunda? Jangan. Jangan.

Pagi itu, satu hari lalu, kubaca tandanya dengan jelas, pahamku. Kedatangannya, suaranya, tandanya.
Pagi itu, satu hari lalu, kugenggam akarku erat, erat. Tersenyumku bahagia karenanya. Kutahu harus apa.
Pagi itu, satu hari lalu, kupejamkan mataku di tempat itu, di rumah itu, tempat biasa kami bersama, para bunda bersama anak-anaknya. Menariku mundur ke waktu yang tlah berlalu. Itu dia, kami, duduk di sana, tertawa, bersama, berbagi cerita.
Pagi itu, satu hari lalu, kubuka mataku, mendadak memejamku kembali. Tak banyak yang duduk bersama, mana tawa, kembalikan semua cerita.

Haruskah kubuka atau kupejamkan lagi?
Yang mana nyata dan yang tinggal cerita?
Kuenyahkan takutku, pergi.
Ku rindu dia.
Ku rindu dia.
Rindukah kalian semua padanya?
Rindukah?

Jangan pergi.
Mana jari-jari? Mari kita kumpulkan lagi!
Genggam lagi, seperti dulu, seperti kemarin.
Ini jariku, genggamlah erat, jangan dilepas.
Aku tahu kau belum pergi, belum kan?
Hanya lupa. Pasti hanya lupa.
Tak apa, tak mengapa.

Bagaimana jika kita bersama lagi? Iya, kita semua.
Tertawa, berbagi cerita, berbahagia.
Bahagia kita, pasti bahagianya.
Iya kan, Madame?

Maafkan kami, maafkan aku.
Tetaplah tersenyum di sana, jangan lelah.
Izinkan kami melanjutkan cerita, ceritamu, cerita indahmu.
Untukmu Madame, yang keseribu kalinya.





Wednesday, November 11, 2009

Bercerita bersama sore - enam

Hahaha! Kau lihat itu, Sore? Gadis kecil berseragam merah putih, berlari kencang, menghindari tangkapan ibunya. Tergopoh-gopoh si ibu di lapangan becek itu. Aku juga dulu begitu, tak mau mandi, maunya main saja. Ah, mamaku juga sama, melarangku bermain kala berseragam. Harus ganti baju dulu, katanya. Baju putih, susah mencucinya. Kenapa sekolahku tidak mengganti warna baju kami, ya? Biar kami leluasa bermain dan belajar. Biar mama tak marah saat kami main sepulang belajar. Nanti, di sekolahku, sekolah milikku nanti, seragamnya oranye saja, atau hijau. Iya, Sore. Aku mau punya sekolah sendiri. Sekolah tempat aku dan kawan-kawan menjaga penerus bangsa ini, dari debu-debu perkembangan zaman yang tak lagi sejalan dengan iman dan kebahagiaan.

Tidak, tak serta merta aku memiliki cita-cita ini. Dulu, waktu aku kecil, banyak sekali cita-citaku. Berganti-ganti. Aku kecil, Ega, berbadan kurus, rambut tipis, lurus, pendek dan berbuntut bagai kuda. Bukan dikuncir kuda, tapi bapak sengaja memanjangkan rambut bagian belakangku, saja, untuk kemudian dirawatnya bagai ekor kuda. Aku tak tahu rasanya, tak ingat. Yang kuingat, aku satu-satunya murid di Taman Kanak-kanak Bintara Indonesia Tiga yang berbuntut. Satu hari, ibu guru memanggilku, “Ega, besok buntutnya digunting ya. Bilang sama Bapak.” Pulang sekolah, kutemui bapak, “Pak, kata ibu guru besok buntut Ega mesti digunting.” Bapak bilang, “Bilang sama Ibu Guru, uangnya mana, buat ke salon?” sambil tertawa. Esok harinya aku ditanya ibu guru, ”Kenapa buntutnya belum digunting, Ega?” Kusampaikan pesan bapak, amanah, ”Kata Bapak, uangnya mana Bu? Buat ke salon.” Tertawa ibu guruku, tapi tak memberiku uang, pun pesan buat bapak. Malamnya bapak memanggilku ke halaman rumah, dibawanya gunting dan selembar koran bekas. Aku disuruhnya jongkok dan membelakanginya. Bapak lalu memotong buntutku, sambil bilang dadah. ”Gak jadi ke salon kita, Pak?” tanyaku. ”Kan gak dikasih uang sama Bu Guru,” jelasnya sambil, lagi-lagi, tertawa. Aku tak mengerti kenapa bu guru memintaku menggunting buntutku, padahal lucu. Tak suka kah ia? Aku juga tak mengerti kenapa bapak menurut saja sama bu guru, tak suka juga kah ia?

Kali pertama ku bersekolah saat usiaku tiga tahun. Mama menuruti pintaku untuk bersekolah, tergoda oleh cantiknya seragam biru bak pelaut itu. Kemeja tangan pendek dan rok bergaris biru putih, seperti langit. Tak lupa topi warna senada dengan karet pengait untuk di dagu. Kelas A waktu itu, kelas paling kecil, kelas bermain. Aku, salah satu anak terkecil di sekolah. Kecil sekali hingga teman-teman suka menindasku, apalagi si Uki. Uki, badannya lebih besar dariku, laki-laki, wajahnya lancip, nakal, suka menarik buntutku, merebut ayunanku, meminta bekalku, menertawakanku. Aku tak suka dia, Sore.

Bekalku, selalu itu, wafer superman, astor, jelly dan sebotol air putih. Di jam istirahat aku dan teman-teman suka jajan bubur ayam, lewat sela pagar sekolah. Aku belum mengenal uang saku, jadi cukup ku meminta bubur dan mama akan membayar tiap Minggu pada si Abang bubur.

Di TK, aku dikenalkan pada istilah absen. Di sisi kanan kelasku, ada papan tempat tergantung buah-buahan. Buah dari kayu, tertempel di papan kayu. Ada jeruk, apel, pisang, mangga, nanas, durian, punyaku, anggur. Anggur berwarna ungu, ada daun hijau di atasnya. Kalau aku sudah datang, ku gantungkan anggurku di papan. Sebelum pulang, ku turunkan lagi dan ku taruh di kotak panjang di bawah papan. Anggurku, bagaimana kabarnya ya, Sore?

Kala ku di kelas B dan C, sudah mulai ku ikuti banyak kegiatan. Olah raga, bernyanyi dan menari. Seingatku paling sering menari. Satu hari, menari ku di sebuah ruangan, bersama teman-teman, tapi bukan di sekolah. Di sekitar kami ada banyak orang tak dikenal, juga ada kamera. Shooting. Menari kami untuk kemudian disiarkan di televisi, TVRI. Ditayangkan beberapa Minggu kemudian, sore hari. Kau tahu rasanya masuk tv, Sore? Aneh. Aneh sekali melihat dirimu di tv, sedang menari, sementara dirimu ada di luar tv, menonton dirimu yang sedang menari. Tapi Mbahku tidak merasa aneh. Senang sekali ia. Menonton cucunya yang sedang menari di tv, sambil menangis. Itu terharu namanya, kata mama. Kalau kita menangis kala bahagia. Sering juga aku dan teman-teman menari di panggung, di halaman sekolah, dekat kolam pasir. Kami memakai baju warna-warni, jari kami diikatkan sapu tangan agar melambai cantik kala menari, tak lupa wajah kami diwarnai. Ingat aku mama yang seringkali mengeluh kala mewarnai wajahku, mendandaniku dengan peralatan make upnya. ”Tipis sekali sih bibir kamu. Susah tahu pakai lipstiknya!” Jadilah mama mencolek lipstiknya untuk kemudian dioleskan ke bibirku dengan jarinya, begitu saja.

Sekolah dimulai jam tujuh pagi sampai sebelas siang. Kebanyakan teman-teman diantar jemput oleh mobil sekolah. Aku ingin sekali bergabung bersama mereka, tertawa bercanda di dalamnya. Tapi tak bisa, rumahku dekat sekali dari sekolah, hingga tak perlu diantar jemput. Tidak, aku memang tak diantar, Sore. Tapi aku selalu dijemput. Ada seorang penjemput setiaku, adikku, Aran. Setia sekali dia menungguku di gerbang sekolah, bersama para penjemput lain. Adikku penjemput termungil di sana. Dia akan melambaikan tangannya sambil memanggilku, ”Teteh!” dengan kencang. Kuhampiri dia, lalu dia akan mengambil tas dari tanganku, disampirkannya di pundak. Kuraih tangannya, berjalan kami, pulang. Tak lupa ku ceritakan cerita di sekolah hari itu.

-bersambung-

Tuesday, November 10, 2009

Bercerita bersama sore - lima

Jangan kemana-mana dulu, Sore. Di sini saja, menemaniku. Aku lagi tak mau sendiri. Tapi di sini lah aku, sendiri. Setidaknya ada kau, Sore. Mau ya? Terima kasih. Kau memang baik sekali, tak kunjung bosan menemaniku. Biar ku bercerita untukmu, lagi. Biar tak bosan kita. Kau belum bosan kan?

Kenapa aku terdampar di sini, di sore yang cerah bermatahari ini sendiri, di kamarku, adalah karena aku sedang tak ingin keluar. Tak ingin menyapa, tak ingin disapa. Bukan, aku tidak sedang marah dengan siapapun pun bosan apalagi sombong. Hanya sedang tak mau. Kawan-kawan, tetangga, mereka pergi, sendiri-sendiri, dari tadi pagi. Semua punya urusan, punya kesibukan. Tidak, aku sedang tidak ada urusan, apalagi kesibukan.

Sepertinya ada yang aneh dengan tubuhku, Sore. Agak lemas dan tak bersemangat. Tidak, aku tak lelah. Wong tidak banyak berkegiatan sedari kemarin. Agak tidak sehat, nampaknya. Mau tidur tapi enggan. Bangun pun segan. Tak bisa berpikir banyak aku, Sore. Gantian, kau saja yang bercerita, bagaimana? Ah, harus dilatih itu. Aku juga dulu tak suka bercerita, tapi lama-lama biasa. Kutanya, kau jawab, bagaimana? Setuju?

Kita mulai dari mana ya? Oh, apa kau suka pagi, siang dan malam? Jangan cuma iya, ceritakan padaku mengapa. Berceritalah tentang mereka. Bercerita hingga ku terlelap, ya?

Oh, jadi tugas Pagi itu mencerahkan hari, hari-hari. Makanya bersahabat ia dengan matahari ya? Sejak kapan mereka bersama, Sore? Pantas saja tak pernah berpisah mereka, sejak lahir sudah bersama. Pagi dan matahari, kolaborasi yang indah sekali. Tolong katakan pada mereka, betapa ku berterima kasih karena selalu dibangunkan dengan bersitan cahaya melalui tirai kamarku, cahaya selamat pagi dari sang Pagi. Cahaya yang menelusup masuk kala kubuka tiraiku, menyinari seluruh ruangan laksana berkata, ”Selamat pagi semua.” Matahari seringkali bersiul memanggilku, berkedip memintaku melihat mereka, burung-burung di angkasa. Burung-burung kecil yang sepertinya hendak bekerja, membuatku ikut bersemangat bersama mereka.

Bagaimana dengan siang? Bersahabat juga kah dengan matahari? Siang menyambung pagi, bersinergi bersama matahari. Siang menyukai energi, keringat dan semangat. Ada ia untuk memicu semua, memicu manusia, pohon, bunga, kupu-kupu, penghuni hutan, pantai, pegunungan, alam semesta. Memicu kita untuk terus bekerja, bersama. Matahari pun merekahkan senyumnya, bergandengan bersama siang, untuk kita. Iya kan, Sore?

Kalau Malam, tak suka kah dengan matahari, Sore? Oh, jadi malam itu sahabatmu? Apakah kau tak suka dengan matahari? Iya benar, bulan. Kalian bersahabat dengan bulan. Tapi aku tak sering melihat bulan bersamamu, hanya bersama malam. Kau lah yang memanggilnya, untuk kemudian menemani malam. Manis sekali dirimu, Sore. Malam mencintai keremangan dan kedamaian. Bahagia ia melihat keluarga yang bercengkrama, melalui jendela. Tak henti tersenyum ia mengamati induk burung yang meninabobokan anak-anaknya. Terbuai sang malam menyaksikan kekasih yang sedang bercinta. Tak jarang tertegun memandangi para penjaga yang setia melindungi tuannya. Ia juga setia menaungi mereka yang berduka. Malam dan bulan sering berbagi cerita, cerita mereka. Bintang tak jarang turut serta. Ah, malam memang mendamaikan, Sore. Tak pernah aku bosan ditemaninya menulis, bercengkrama dengan para tetangga, makan bersama. Malah aku ingat pernah memintanya untuk tinggal lebih lama, kala ku bersama kekasihku. Kali lain kala ku dirundu biru. Malam selalu mendengar pintaku. Kau percaya itu, Sore? Sampaikan juga terima kasihku padanya, ya.

Dan kau, Sore. Biarkan ku yang bercerita tentangmu. Kau bersahabat dengan matahari dan bulan. Kau yang mengucapkan selamat tinggal pada matahari dan setia memanggil bulan. Kau mendamaikan angkasa, selalu menari bersama angin seraya menyapa semua membisikkan kata, ”Mari beristirahat, kawan!” Kau tertawa menyaksikan gadis-gadis kecil bermain di taman, menikmati pemandangan orang tua memandikan anak mereka, memastikan para penyendiri menutup semua tirai, menyertai para pekerja kembali ke rumah, mengingatkan kami semua bahwa masih ada hari esok. Dan kau, Sore. Aku suka dansamu bersama angin itu. Membuaiku, sendu.

Sore, mataku hampir terpejam. Bolehkah ku menginggalkanmu kini? Jangan berhenti membuaiku, kawan. Aku suka. Jangan lupa esok datang lagi. Sore, soreku.

-bersambung-